Kisah Para Perempuan Pencari Nafkah Bergaji Besar dari Pasangan, Ada yang Langgeng-Bercerai

Novi Nadya17 Jan 2021, 14:00 WIB
Diperbarui 17 Jan 2021, 18:19 WIB
Tips Menabung/mlg

Fimela.com, Jakarta Perempuan pencari nafkah sekarang bukan sekadar membantu pasangannya dalam membiayai kehidupan. Mereka bahkan memiliki penghasilan lebih tinggi dari pasangan yang artinya bisa memenuhi kebutuhan sendiri dan juga pasangannya.

Seperti kisah pasangan Kalina Newman dan Alex Peña. Newman memiliki gaji hampir 90.000 Dolar AS yang melebihi dua kali pendapatan Peña.

"Tapi bukannya aku membayar semua kebutuhan yang ada di rumah. Aku bukan sugar mama atau sejenisnya," ujar Newman sambil tertawa melansir dari npr.org.

Menurut data Biro Statistik Tenaga Kerja tahun 2018, hampir 30 persen istri di Amerika dalam pernikahan heteroseksual berpenghasilan ganda lebih besar dari suami mereka. Persentase tersebut meningkat dari waktu ke waktu, pada tahun 1987 hanya 18 persen istri yang mengklaim status pencari nafkah dalam pernikahan di mana kedua pasangan bekerja. 

Tren ini mengganggu norma gender yang sudah mapan. Dan penelitian menunjukkan hal itu dapat meningkatkan perselisihan dalam hubungan dan bahkan membuat pasangan salah mengartikan pendapatan mereka.

'Your Success is My Success'

zodiak
ilustrasi perempuan bekerja/Photo by Mia Moessinger on Unsplash

"Dia mengatakan pada saya ingin melamar pekerjaan tersebut dan akan segera di-interview. Jika dia mendapatkannya, hal itu bisa membuka banyak kesempatan bagi kami, saya mendukungnya karena kesuksesan dia, kesuksesan saya juga," ujar Peña.

Sejauh ini, sistem yang dilakukan adalah mereka membagi tagihan anggaran bersama sebesar 50-50. Sementara pembelian individu dibayar masing-masing. 

Meski sudah diatur proporsional tentu saja tidak selalu mulus. Peña mengaku ada perasaan yang mengganggu dirinya namun bisa dikendalikan.

"Ada periode singkat di mana saya, tidak cemburu, tapi lebih seperti mempertanyakan apakah saya melakukan bagian saya? Saya juga merasa tidak mampu dan sering tidak enak," lanjutnya.

Perasaan Peña bukanlah hal aneh, sebuah studi yang diterbitkan oleh American Psychological Association menemukan jika harga diri seorang pria terpukul saat pasangannya mengungguli dia secara umum. Sementara perempuan justru tidak terpengaruh oleh kesuksesan pasangannya.

"Ada beberapa pria yang pasti merasa bangga dengan istrinya karena pintar dan sukses. Tapi hal itu juga bisa mengintimidasi pria," ujar psikolog klinis yang berbasis di Washington Dr. Angela Snyder.

Snyder mengatakan konsep perempuan pencari nafkah bertentangan dengan norma masyarakat selama beberapa dekade. Dan menyesuaikan dengan perubahan tersebut bisa menjadi sulit bagi pasangan.

 

 

Berakhir Perceraian

Mempertimbangkan Kerugian dari Perceraian
Ilustrasi Pasangan Suami Istri Credit: unsplash.com/cottonbro

Seperti kisah pasangan Silver Spring (bukan nama asli) dari Nigeria yang menggambarkan hubungannya sebagai 'mimpi buruk'. Pernikahan yang berlangsung selama 18 tahun berakhir dengan perceraian.

Hal itu terjadi di saat ia mencapai puncak karier dengan menghasilkan gaji 120.000 Dolar AS di bidang kesehatan masyarakat. Sementara saat itu suaminya memilih tidak bekerja. 

"Dia orang yang sangat pintar hanya saja malas," ujarnya tentang sang mantan suami. 

Perdebatan yang datang tanpa henti menyebabkan masalah kesehatan, seperti gangguan mental dengan rasa malu dan stres karena sang suami tidak menafkahi keluarga. Dalam budaya tradisional Nigeria, seorang pria diharapkan untuk menjaga dan bertanggung jawab atas istrinya. 

Setelah berkonsultasi dengan dokter dan meminta bantuan mertua, ia merasa perceraian adalah satu-satunya pilihan. Contoh tersebut menunjukkan betapa melekatkan peran gender dan betapa lambatnya isu tersebut berubah dan beradaptasi, sebab realitasnya justru berkembang dengan kecepatan tinggi.

Jadi, apa yang diperlukan untuk punya pernikahan sukses saat norma penghasilan gender dibalik? Dr Snyder mengatakan kuncinya adalah komunikasi. 

"Jujurlah pada diri sendiri tentang bagaimana perasaan dalam situasi tersebut, klarifikasi ekspektasi, dan selesaikan masalahnya. Pasti dalam setiap perubahan ada masalah tapi bukan berarti buruk, tapi kesempatan untuk pertumbuhan lebih lanjut pada individu dan pasangan," tutupnya.

Simak video berikut ini

#Elevate Women 

Lanjutkan Membaca ↓