Melihat Kehidupan Tunanetra di Tengah Pandemi COVID-19 dari Kisah Perempuan yang telah Kehilangan Penglihatannya Ini

Annissa Wulan20 Jan 2021, 14:30 WIB
Diperbarui 20 Jan 2021, 14:30 WIB
Dorainne dan anjing pemandunya, Dime

Fimela.com, Jakarta Pandemi COVID-19 telah memengaruhi semua orang, terutama mereka yang tunanetra. Tunanetra telah mengalami kesepian dan isolasi pada tingkat yang jauh lebih tinggi daripada orang-orang pada umumnya.

Dengan adanya pandemi, ada sekumpulan penghalang fisik dan psikologis yang sama sekali baru dalam hal mempertahankan kemerdekaan kaum tunanetra. Karena pandemi COVID-19, pemerintah dan bisnis telah mengadopsi langkah-langkah keamanan yang diperlukan, seperti jarak sosial dan aturan kapasitas terbatas untuk mengekang penyebaran virus.

Namun, orang-orang tunanetra, seperti Dorianne Pollack tidak memiliki kesempatan untuk beradaptasi dengan aturan-aturan tersebut, karena semua dikomunikasikan dengan cara yang tidak mungkin diamati oleh kaum tunanetra. Misalnya, di banyak toko dan tempat lain, sekarang ada panah arah, papan nama, dan pengukuran yang ditempel untuk memastikan jarak, namun seseorang harus dapat melihatnya untuk mengetahui bahwa benda-benda tersebut ada di sana.

Anjing pemandu kaum tunanetra tidak memahami itu dan tongkat mereka tidak dapat merasakannya. Tidak seperti orang pada umumnya yang telah belajar menavigasi di dunia yang jauh secara sosial, kaum tunanetra dibiarkan menjaga diri mereka sendiri.

Dua hal terjadi pada kaum tunanetra sebagai akibat dari kurangnya inklusi ini. Pertama, mereka menerima banyak teguran dan penghinaan di depan umum.

Orang yang mengikuti aturan dan tidak ingin tertular akan cepat menghina orang yang secara fisik tidak menjauhkan diri. Karena begitu banyak orang telah melanggar aturan, entah karena ketidaktahuan, orang yang taat aturan menjadi cepat marah karena ketakutan mereka sendiri.

Dorianne pernah mendengar orang mengatakan hal-hal seperti, "Kamu terlalu dekat dengan saya!" dan "Apa yang salah denganmu?" Ada banyak hinaan lain yang tidak bisa diulangi oleh Dorianne sebagai tunanetra.

 

 

Banyak hal berubah secara signifikan dalam kehidupan Dorainne sebagai tunanetra

Dorainne dan anjing pemandunya, Dime
Dorainne dan anjing pemandunya, Dime. Sumber foto: Document/Dorainne.

Transportasi telah menjadi kendala baru dan kesempatan untuk menyebarkan lebih banyak serangan verbal. Dorianne tidak bisa naik bus umum dan meminta anjing pemandunya, Dime untuk mencarikannya tempat duduk, karena banyak tempat duduk yang terlarang, sebagai bagian dari usaha menjaga jarak sosial.

Tentu saja, Dime juga tidak bisa membaca tanda-tanda, sehingga latihan ketelitiannya selama bertahun-tahun sekarang menjadi tidak efektif, tanpa campur tangan orang asing, yang mungkin juga meneriakkan kata-kata kotor kepada Dorianne. Siapapun mungkin tidak berpikir bahwa kritik publik adalah masalah besar.

Sebenarnya, Dorianne bukan pelanggar aturan. Lebih dari siapapun, Dorianne merindukan masa-masa ketika dirinya bisa aktif di komunitasnya dan ia sangat ingin mematuhi protokol kesehatan, sehingga ia juga dapat mengambil bagiannya untuk tidak menyebarkan COVID-19.

Lebih sulit baginya untuk menghindari kontak dekat dengan orang-orang di depan umum, daripada bagi orang yang dapat melihat. Dan kegagalan untuk melakukannya tidak hanya membuatnya dikritik, namun juga meningkatkan risikonya untuk tertular virus.

Hal kedua yang terjadi pada kaum tunanetra saat mengisolasi diri. Perjalanan sederhana dari toko bahan makanan sekarang terasa melelahkan dan bahkan berbahaya, sehingga Dorianne menghindarinya.

Sebagai tunanetra, Dorianne kehilangan sebagian besar privasinya, yang ia anggap biasa sampai ia kehilangan penglihatannya lebih dari 15 tahun lalu. Ia perlu meminta bantuan dalam banyak situasi.

Sayangnya, meminta bantuan selama pandemi dapat menimbulkan konsekuensi yang menghancurkan bagi dirinya sendiri. Beruntungnya, Dorianne memiliki suami dan teman yang dapat membantunya mendapatkan apa yang dibutuhkannya.

Dorainne beruntung beruntung bertemu dengan anjing pemandunya, Dime

Ilustrasi disabilitas buta
Ilustrasi disabilitas buta. Sumber foto: unsplash.com/Ryoji Iwata.

Banyak orang buta dan tunanetra yang bicara dengan Dorianne hidup dengan rawan pangan, beberapa di antaranya bahkan kehilangan pendapatan dan pekerjaan. Namun, bagi banyak orang lain, ini bukan tentang uang, karena mereka terisolasi dan tidak ingin sering pergi keluar rumah, mereka akhirnya menjatah makanan.

Pengiriman makanan dan barang-barang rumah tangga lainnya adalah cara baru berbelanja di masa pandemi ini, bayangkan bagaimana orang tua tunanetra yang tidak memiliki akses ke internet atau perangkat yang diperlukan untuk memesan secara online. Akibatnya, banyak yang memilih untuk menimbun dan membagi apa yang mereka miliki, daripada meminta bantuan.

Dorainne sangat berterima kasih kepada anjing pemandunya, yang telah membantunya selama 5 tahun terakhir. Sebelum pandemi COVID-19, Dime dan Dorainne telah menguasai sebagian besar situasi publik.

Memiliki anjing pemandu telah memainkan peran penting dalam membuat Dorainne lebih mandiri. Namun, selama pandemi, jadwal Dime untuk bekerja berkurang secara signifikan, ia merindukan bekerja dan menjadi tidak begitu bahagia.

Orang-orang mungkin tidak menyadari bahwa anjing seringkali menjadi jembatan sosial bagi pemiliknya dan manusia lain. Anjing pemandu juga berfungsi sebagai katalisator untuk percakapan antara orang-orang tunanetra dan orang-orang awan yang mungkin tidak akan pernah bicara dengan orang-orang seperti Dorainne.

Bagaimanapun, kolaborasi dan kasih sayang dapat membantu kita semua untuk melihat satu sama lain dengan lebih jelas, baik saat ini maupun saat pandemi telah berlalu. Bagaimana menurutmu?

#Elevate Women

Lanjutkan Membaca ↓