5 Kisah Haru tentang Hari Pernikahan yang Penuh Air Mata

Endah Wijayanti23 Jan 2021, 11:45 WIB
Diperbarui 23 Jan 2021, 11:45 WIB
menikah tanpa ayah

Fimela.com, Jakarta Sebagian besar di antara kita pasti menginginkan hari pernikahan yang bahagia. Kita ingin di hari pernikahan kita, semua orang bisa ikut bahagia dan bersuka ria. Hanya saja kadang ada ujian dan cobaan yang harus diatasi sebelum mencapai hari pernikahan.

Ada hari pernikahan yang dicapai dengan air mata. Ada air mata bahagia, tapi ada juga air mata kesedihan. Berikut ini beberapa kisah haru dari Sahabat Fimela tentang hari pernikahan mereka. Harapannya dari kisah-kisah ini kita bisa memaknai hari pernikahan dengan sudut pandang berbeda. 

1. Menikah setelah Ayah Berpulang

"Pada acara pernikahan, hatiku terbelah, sungguh terbelah menjadi dua. Hati yang pertama adalah luka duka. Hati yang kedua adalah suka cita. Aku meneteskan air mata. Mungkin air mata yang memiliki rasa manis dan pahit sekaligus. Kenangan silam tentang ayah seperti slide show yang terus silih berganti."

Selengkapknya: Ruang Kosong di Hatiku, Ayah Berpulang Tanpa Sempat Melihatku Menikah

2. Kakak yang Meninggal Jelang Hari Pernikahannya

pernikahan kejutan dari kakak
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

"Sebelas tahun yang lalu tepatnya bulan Juni 2008 seharusnya merupakan momen yang ditunggu-tunggu oleh keluargaku terutama kedua orang tua. Di bulan itu kakak tertua satu-satunya seharusnya melangsungkan pernikahan. Namun takdir berkata lain, dua bulan sebelum hari H, kakak tercinta meninggalkan kami untuk selama-lamanya akibat sakit yang dideritanya. Kepergiannya yang begitu mendadak membuat kami begitu syok dan terpuruk, terutama ibuku."

Selengkapnya: Pernikahan Ini bagai Kejutan Terindah dari Kakak di Surga

3. Memperjuangkan Restu

di hari pernikahan
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/Patchananpro

"Selama sembilan tahun lamanya aku dan Mas Yus menjalin kasih dan selama itu pula tidak mendapat restu seutuhnya dari ayah dan ibuku. Perceraian orang tua Mas Yus membuat ayah dan ibuku khawatir bahwa nanti aku akan mengalaminya saat menikah dengan Mas Yus. Cukup beralasan rasa khawatir kedua orang tuaku kepadaku dan aku bisa memakluminya, karena ayah dan ibu sangat menyayangiku dan tak mau aku mengalami kekecewaan dalam kehidupan pernikahanku kelak."

Selengkapnya: Akhirnya Kudapat Restu Orangtua di Hari Pernikahanku

4. Mengalami Kecelakaan

kesetiaan sebelum menikah
Ujian kesetiaan jelang pernikahan./Copyright shutterstock.com

"Aku bekerja kembali seperti biasa tetapi mataku semakin hari terasa perih dan pandanganku semakin kabur. Sudah beberapa kali berkonsultasi dan diberikan obat tetapi belum ada hasilnya. Selain ke dokter orang tuaku juga menyarankan berobat alternatif tetapi kondisi mataku semakin memburuk, akhirnya aku mengajukan resign dari pekerjaanku karena sudah sering meminta izin dan ingin fokus ke pengobatan. Aku dirujuk ke rumah sakit besar."

Selengkapnya: Kesetiaan Seseorang Bisa Dilihat dari Sikapnya Menerima Kekurangan Pasangan

5. Papa yang Sakit

keajaiban pernikahan
Keajaiban terjadi di hari pernikahan./Copyright shutterstock.com

"Aku bertekad, sebelum aku menikah papa harus bisa bangkit dari tempat tidur dan dapat melihat aku dengan gaun putihku. Saat itu, aku dengan profesi sebagai pendidik libur selama seminggu. Aku manfaatkan untuk merawat papa secara penuh. Aku memotong kuku, rambut, memandikan, memberikan makanannya, karena aku ingin papa terlihat tampan saat putri satu-satunya menikah."

Selengkapnya: Keajaiban di Hari Pernikahanku

Sebenarnya, pernikahan yang sejati tidak terukur dari mewahnya, hebat dan materi tetapi sukacita harus sampai meneteskan air mata untuk bangkit dari kesedihan. Semua masalah dapat terlewati jika dari diri kita ada semangat dan percaya bahwa Sang Pencipta mengerti setiap tetesan air mata kita.

#ElevateWomen

Lanjutkan Membaca ↓