5 Kisah Haru tentang Ayah, Kasih Sayang, dan Kerinduan

Endah Wijayanti25 Jan 2021, 12:45 WIB
Diperbarui 25 Jan 2021, 12:45 WIB
rindu masa lalu

Fimela.com, Jakarta Sering kita  mendengar bahwa cinta pertama anak perempuan adalah ayahnya. Bagi kita sebagai anak perempuan, sosok ayah menempati ruang istimewa di hati kita. Setiap kenangan dan momen yang kita miliki bersamanya akan selalu tersimpan.

Selalu ada kisah tak terlupakan tentang sosok ayah di kehidupan kita. Ada kehangatan cinta, kasih sayang, dan kerinduan yang hadir dalam momen yang kita miliki bersama ayah tercinta. Seperti kisah-kisah berikut ini yang sungguh menyentuh dan mengharukan.

1. Menyayangi Ayah Selagi Masih Ada Waktu

"Saat itu papah berusia 62 tahun, dalam usia tersebut walau kondisi sering sakit-sakitan, tapi semangat dalam bekerja tidak kalah dengan orang berusia muda. Papah dan mamah memiliki usaha produksi keripik singkong bukan dengan alat besar tapi dengan pisau manual. Usaha kecil-kecilan ini yang membuat papah tetap semangat di masa hidupnya, tidak pernah putus asa, mengeluh capek tapi tetap giat dan semangat mengerjakannya."

Selengkapnya: Sayangi Ayah Sepenuh Hati, Jangan Sampai Menyesal saat Ia Sudah Tiada

2. Berharap Ayah Hadir di Mimpi

rindu ibu surga
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/KJ_Digital

"Aku sadar akan kehilanganmu, tapi yang aku harapkan adalah agar kau menemuiku, sekali saja pun tidak apa-apa. Setiap ingin tidur aku selalu berdoa agar kau datang dalam mimpiku, aku berdoa agar kau mendengar di atas sana. Tapi mengapa kau tidak datang, ayah?"

Selengkapnya: Setiap Akan Tidur, Aku Selalu Berdoa Agar Kau Datang di Mimpiku

3. Kebersamaan yang Selalu Dirindukan

rindu berat
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/Mal2TH

"Untuk usiamu yang kini sudah 60 tahun, aku harap akan ada tahun-tahun berikutnya bersamamu. Kado dari Heidy nanti Heidy bawa pada saat pulang ke rumah ya. Kau tahu tiap kali kau bilang, “Pulang nak, yang abah butuh itu kamu bukan uangmu,” aku selalu menangis. Rinduku mencapai puncaknya saat kau mengatakan itu padaku. Heidy akan pulang segera bah, buat abah, ke pelukan abah, bawa kado terbaik untuk ulang tahunmu."

Selengkapnya: Pulang Nak, yang Abah Butuh Itu Kamu dan Bukan Uangmu

4. Mengikhlaskan Kepergian Ayah

mudah kangen
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/fizkes

"Malam itu semua cerita ini berakhir, 30 Oktober 2006 pukul 19.00. Ayah kembali pulang, beristirahat untuk selamanya. Kami tidak percaya, kami tidak siap, kami kehilangan, tapi begitu kenyataannya. Sampai cerita ini ditulis, air mata ini belum kering. Cerita ini belum berlalu seharusnya. Ayah masih harus melihatku menjadi sarjana, bekerja dan menghasilkan uang untuk beliau, itu keinginanku."

Selengkapnya: Ayah, Kepergianmu Kuikhlaskan Meski Banyak Cerita Kita yang Belum Usai

5. Menikah tanpa Kehadiran Ayah

menikah
Ilustrasi./Photo by TranStudios Photography & Video from Pexels

"Setelah mengatakan maksud dan tujuanku menelpon, ayah sempat terdiam sebentar sebelum akhirnya ia mengatakan dengan lantang ketidaksetujuannya pada niat baik suamiku dan berkata ia tidak dapat hadir pada malam itu. Aku yang mendengar ayah berkata seperti itu tidak dapat lagi menahan tangis lebih lama. Segera aku menutup telepon dan berlari menemui ibu, paman, dan bibi. Aku benar-benar merasa benci terhadap ayah saat itu."

Selengkapnya: Ayah Menjadi Kesedihan Terbesar pada Hari Paling Membahagiakan

Semoga kita bisa menjadi anak yang berbakti untuk orangtua kita, ya. Serta semoga ayah kita selalu diberi kesehatan dan kebahagiaan setiap waktu.

#ElevateWomen

Lanjutkan Membaca ↓