Cinta Kadang Tak Hanya Memberi Kenangan, tapi Juga Trauma

Endah Wijayanti23 Feb 2021, 07:15 WIB
Diperbarui 23 Feb 2021, 07:15 WIB
seribu cinta dan kenangan

Fimela.com, Jakarta Kita semua pernah punya pengalaman atau kisah tentang cinta. Kita pun bisa memaknai arti cinta berdasarkan semua cerita yang pernah kita miliki sendiri. Ada tawa, air mata, kebahagiaan, kesedihan, dan berbagai suka duka yang mewarnai cinta. Kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories Februari 2021: Seribu Kali Cinta ini menghadirkan sesuatu yang baru tentang cinta. Semoga ada inspirasi atau pelajaran berharga yang bisa dipetik dari tulisan ini.

***

Oleh:  Nourmalita Zianisa

Aku berjalan di pinggir trotoar sebuah kawasan megah di Jakarta, menunggumu menjemputku untuk pulang bersama. Kamu tahu, itu pertama kali kita menjalin hubungan diam-diam.

Kamu masih bersama dia dan hubunganmu yang bermasalah. Dan aku, sendiri.

Lamban laun, kamu menyelesaikan hubungan itu dan menjalani hubungan denganku tanpa harus diam-diam lagi, orang-orang kantor pun tahu. Aku tahu, risikoku saat itu sangat besar, mengambil seseorang yang bukan milikku. Tapi saat itu, dengan segala usaha yang kamu lakukan, berhasil meluluhkan hati seorang Nourmalita Zianisa.

Aku juga teringat, betapa aku masih egois untuk bergantung sama kamu, semuanya harus sama kamu. Survey kost-kostaan saat itu, kondangan, apa pun, padahal aku tahu, bergantung itu tidak baik, dan terbukti saat ini aku belum bisa menyembuhkan atau melupakan semua kenangan itu. Karena belum ada kenangan lainnya yang akan menimpanya.

Ditambah, kamu yang setiap minggu menjemputku ketika kita mencoba menjalani hubungan jarak jauh. Yang biasa ketemu setiap hari, sekarang hanya di akhir pekan. Melepas rindu dengan sekadar berpelukan erat dan lama sekali ketika kita mau pulang. Mau taruhan? Aku masih mengingat wangi aroma tubuhmu hingga saat ini.

Kenangan dan Trauma

Patah Hati
Ilustrasi/copyright unsplash.com/Anthony Tran

Bagiku, memori atau kenangan itu yang membuatku bahagia, kalau yang kuingat malah membuatku sedih atau sakit itu namanya trauma.

Mau tahu kenangan yang membuatku masih enggak bisa memaafkan orang itu hingga saat ini?

Ketika seorang ibu, memanggilku pelacur, saat aku tidak bersalah apa apa, hanya sekadar membela diriku sendiri karena aku mau membuktikan semua yang dituduhkannya itu salah. Beliau mendorongku ke tembok hingga mengatakan hal itu padaku, anak gadisnya. Yang melakukan segalanya untuk beliau tersenyum, yang diteriaki makian malam-malam untuk mengusir kami semua (ayah, aku, dan kedua adikku) karena saat itu aku benar-benar tidak tahan dengan omongan kasarnya.

Maaf Ma, aku harus menumpahkan di sini, karena kelak suatu saat ketika aku sudah bisa menyembuhkan diriku dari luka batinku selama ini, kenangan ini akan jadi pelajaran yang sangat berharga. Tentang menjadi seorang ibu yang menjaga perkataannya dan perlakuannya, seorang istri yang patuh dan hormat pada suaminya, dan seorang istri yang setia pada suaminya.

Yang mungkin, enggak pernah kudapatkan sosok itu selama ini.

Kembali lagi pada masa sekarang, aku duduk depan laptop. Dengan segelas air putih dan sebutir panadol merah, mencoba mengingat kembali kenangan yang berkesan atau trauma yang belum sembuh. Hingga kantuk itu datang kembali dan aku memutuskan untuk menyudahi tulisan ini. 

#ElevateWomen

Lanjutkan Membaca ↓