Menikah Bukan Jaminan Hidup Lebih Mudah, Ada Banyak Hal yang Diperjuangkan Bersama

Endah Wijayanti24 Feb 2021, 13:35 WIB
Diperbarui 24 Feb 2021, 13:35 WIB
menikah banyak bersyukur

Fimela.com, Jakarta Kita semua pernah punya pengalaman atau kisah tentang cinta. Kita pun bisa memaknai arti cinta berdasarkan semua cerita yang pernah kita miliki sendiri. Ada tawa, air mata, kebahagiaan, kesedihan, dan berbagai suka duka yang mewarnai cinta. Kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories Februari 2021: Seribu Kali Cinta ini menghadirkan sesuatu yang baru tentang cinta. Semoga ada inspirasi atau pelajaran berharga yang bisa dipetik dari tulisan ini.

***

Oleh:  BC

Tanggal 14 Februari menjadi momen romantis yang diincar banyak pasangan untuk berkencan ataupun merayakan Hari Kasih Sayang. Momentum kasih sayang selain itu berupa perayaan anniversary yang bisa dibilang membuat pasangan makin mesra. Memiliki uang banyak menjadi hal yang seakan wajib merayakan hari pernikahan di tempat dinner dan saling bertukar hadiah istimewa.

Bagaimana dengan pasangan yang hidupnya pas-pasan? Jangankan untuk makan enak, untuk biaya hidup seperti bayar kontrakan, tagihan listrik, internet, air dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Terlebih jika sudah memiliki anak, prioritas istri jadi terakhir, bukan?

Awal pernikahan itu menjadi tombak yang utama menancap lebih kuat atau malah cepat tumbang dengan sendirinya. Seperti kata pepatah ombak di awal pernikahan kadang lebih tenang tapi jika sering terjadi percekcokan maka akan semakin mudah untuk tumbang.

Menikah itu menyatukan perbedaan prinsip dan kebiasaan, seiring berjalannya waktu menikah butuh saling percaya. Komitmen untuk terus mendewasakan diri, menahan amarah dan terus memupuk rasa peduli sangat utama. 

Apalagi cinta itu butuh diperjuangkan, perasaan cinta bisa lebih kuat jika ada jalinan yang sering romantis. Butuh banyak biaya jika mengikuti perasaan dan keinginan, tetapi bertolak belakang dengan keadaan. Pandemi juga membuat perekonomian menurun. 

Menikah itu menemukan kunci bahagia, jika menerima keadaan. Kesulitan pasca pernikahan biasanya didominasi dengan masalah finansial, komunikasi dan perbedaan dalam merawat anak. Aku menikah sudah 3 tahun, masih dibilang berumur jagung. Tetapi, seringkali bentrokan dan konflik terjadi di rumah tangga kami.

Tentang Hari Jadi Pernikahan

cincin pernikahan
ilustrasi./Photo by rawpixel.com from Pexels

Awalnya aku merasa kurang lengkap dengan tidak pernah adanya perayaan anniversary setiap tahun. Ketika melihat status teman di Instagram, beberapa bisa merasakan kebahagiaan dalam bentuk perayaan anniversary. Terkadang muncul perasaan iri dan cemburu, kenapa mereka bisa merayakan anniversary? Di tempat romantis dengan setangkai bunga mawar dan hadiah istimewa, sementara aku tidak pernah. Jangankan untuk perayaan, biaya hidup semakin banyak dan pemasukan kurang.

“Sayang kenapa kita tidak merayakan ulang tahun pernikahan ya?” tanyaku dengan bermanja-manja.

“Sebenarnya saya juga ingin, tetapi melihat keadaan keuangan tidak cukup, jadi terima yang saat ini ya.”

Hatiku berdebam, seperti ada gemuruh yang membuat basah pipi. Aku sedih, kupikir suamiku tidak menunjukkan bukti cinta. Ia bukan tipe lelaki yang romantis. Akhirnya suasana mulai menegang, karena inginku tidak harus mewah. Cukup membuat perayaan sederhana, tetapi lelaki itu tidak setuju. Refleksi pernikahan yang kurasa sepi dari kata-kata cinta maupun penghargaan antar pasangan. Kadang melihat iklan-iklan bertebaran bunga mawar dan coklat, hanya menambah rasa sedih saja.

Ah, anniversary, jika tiap tahun diselenggarakan mungkin cuma momen yang sederhana. Tetapi, akan banyak perayaan lainnya, seperti ulang tahun suami, hari jadian, ulang tahun anak, dan hal-hal yang membuat kita memutar ulang kejadian yang penuh dengan perayaan saja.

Ada yang lebih penting daripada perayaan anniversary, yaitu menghargai pasangan. Membuat pasangan tidak tersinggung, tidak banyak perdebatan maupun sesuatu yang mengarah pada pertengkaran.

 

Memaknai Pernikahan

pernikahan selingkuh
ilustrasi./Photo by Nick Karvounis on Unsplash

Cinta kadang hadir dari kasih sayang, suatu hari setelah mengantar pesanan katering, sepeda motor yang dikendarai oleh suami tiba-tiba berbelok ke pedagang kaki lima. Tepatnya penjual bakso. Aku bingung, padahal aku tidak ingin makan bakso. Suami berkata, “Kita sedang tersesat di sini. Duduk saja dulu.”

Ia pun memesan dua mangkok bakso, aku hanya bisa senyum-senyum sendiri. Rinai hujan mulai turun, sore yang dingin tapi berkat bakso kami bisa menikmati bersama. Perayaan anniversary tidak akan pernah ada. Tetapi kebersamaan, makan bareng dan berjuang bersama akan selalu ada sampai akhir nanti.

Suatu hari aku juga sibuk mengurus anak, suamiku tidak pernah membiarkan aku mengerjakan pekerjaan berat. Ia pun terkadang memasak nasi goreng untukku, menyuapi aku yang sibuk menyusui. Bahkan menyediakan minum dalam botol. Ia dengan seulas senyum, berusaha mengurangi beban rumah tangga.

Bentuk cinta tidak melulu lewat perayaan dan ucapan mesra, tetapi lewat tindakan dan selalu membuat istri seperti seorang ratu. Kuacungi jempol, meskipun kehidupan kami sangat sederhana ia tidak pernah menuntut aku untuk tampil modis dan memiliki make up mahal. Aku bersyukur lewat event menulis yang diadakan Fimela mendapatkan hadiah make up dan set perlengkapan bersolek.

Em, hal yang harus ditumbuhkan dalam romansa rumah tangga, ialah memperhatikan kebutuhan suami. Dengan bercinta bisa membuat letih menjadi hilang dan lebih menundukkan pandangan bagi suami.

Oh, iya aku masih belum tinggal mandiri. Hidup masih tinggal bersama keluarga suami, pengeluaran menjadi bercampur. Merayakan anniversary di rumah berasa makin mustahil, mungkin akan dianggap sebuah pemborosan. Untuk itu aku sebagai anggota keluarga baru, harus pandai memosisikan diri. Sebagai istri dan menantu. Membantu kakak ipar juga, dengan membawa si kecil jalan-jalan atau bermain bersama dengan anakku juga.

Kadang anniversary membayang-bayang di benak, tetapi setelah hati mulai menerima. Aku pun ikhlas, bahwa keutuhan rumah tangga dan bisa rukun dengan keluarga suami sudah melegakan. Pun dengan melapangkan hati, perayaan anniversary sebenarnya tidak hanya setahun sekali. Tetapi tiap hari wajib memupuk cinta, menyiram dengan kasih sayang dan saling menghargai. Pasangan akan betah tinggal di rumah, asalkan sang istri bisa menjaga sikap dan melaksanakan tugas seorang istri dengan sebaik mungkin.

Mencintai pasangan dengan cara sederhana, perayaan yang sesungguhnya bisa berkumpul bersama berpadu suasana yang harmonis dan penuh canda. 

#ElevateWomen

Lanjutkan Membaca ↓