Hidup Korban KDRT Terselamatkan Setelah Dua Kali Menjalani Transplantasi Wajah

Vinsensia Dianawanti24 Feb 2021, 16:30 WIB
Diperbarui 25 Feb 2021, 16:38 WIB
KDRT

Fimela.com, Jakarta Tidak pernah ada dalam bayangan Carmen Tarleton bahwa dirinya harus menjalani transplantasi wajah saat menjadi korban KDRT atau kekerasan dalam rumah tangga. Pada 2007, Tarleton habis dipukuli sang suami dengan tongkat baseball dan menyiramnya dengan larutan alkali. 80% tubuhnya terbakar dan mengharuskan menjalani sejumlah perawatan.

Tarleton langsung diterbangkan ke Brigham and Women's Hospital untuk menjalani 55 operasi dan terus berjuang dengan raa sakit yang terus-menerus. Hingga akhirnya, dokter melakukan transplantasi wajah untuk Tarleton pada hari Valentine 2013.

"Transplatnasi wajah pertama saya menyelamatkan nyawa. Saya benar-benar tidak merasa bahwa saya akan hidup sangat lama," ungkap Tarleton.

Setelah operasi, rasa sakitnya hilang. Ia pun menjadi pembicara inspiratif untuk membawa pesan yang tidak putus asa dan untuk tidak menyimpan amarah dan kebencian. Ia bahkan menulis buku berjudul "Overcome: Burned, Blinded, and Blessed.

 

Transplantasi yang gagal

korban KDRT
Ilustrasi/copyrightshutterstock/fizkes

Namun pada Agustus 2019, transplantasi wajahnya mulai menunjukkan kegagalan. Wajahnya membengkak dan mulai merasakan sakit yang menyiksa di bagian depan telinga. Hal ini biasanya terjadi pada pasien transplantasi wajah dengan donor yang tidak cocok. Terlebih, Tarleton menjalani banyak operasi yang begitu banyak menyebabkan risikol lebi tinggi akan penolakan transplantasi.

Setelah berdiskusi panjang dengan dokter, ia memutuskan untuk melakukan transplantasi wajah yang kedua. Kali ini diharapkan wajah pendonor jauh lebih cocok sehingga mengurangi risiko penolakannya.

Operasi dilakukan pada Juli 2020 dan berjalan dengan lancar. Namun karena pendarahan tak terduga, dokter harus menghentikan prosedur di tengah pandemi dan membawa Tarleton ke ICU untuk menstabilkan kondisinya. Setelah kondisi stabil, prosedur pun kembali dilanjutkan dan berhasil.

 

Wajah yang terakhir

Pasca operasi pun rasa sakit yang dialami Tarleton menghilang. Namun rasa sakit fisik dari bekas luka yang menutupi tubuhnya masih terasa. Dia pun menjadi buta pada mata makanan di 2009. Lalu, mata kirinya mulai perlahan kehilangan fungsi sejak 2018. Untuk melihat wajah barunya, Tarleton harus berada sangat dekat dengan cermin.

"Saya masih tidak bisa melihat detail yang bisa dilihat orang lain. Tapi saya mendapatkan gambar yang bagus. Saya yakin wajah ini akan bertahan sampai saya meninggalkan Bumi. Ini wajah terakhirku. Aku tidak akan punya yang ketiga," ungkap Tarleton.

Simak video berikut ini

#Elevate Women

Lanjutkan Membaca ↓