Zuhud adalah Sikap Berserah Diri kepada Allah dan Meninggalkan Urusan Duniawi

Imelda Rahma25 Feb 2021, 15:37 WIB
Diperbarui 25 Feb 2021, 15:38 WIB
Zuhud

Fimela.com, Jakarta Zuhud merupakan sikap terpuji karena melepaskan hati dari pengaruh dunia. Tak bisa dipungkiri, seiring berjalannya waktu kesenangan dunia begitu dicintai oleh sebagian besar manusia. Mereka seakan-akan lupa bila kesenangan duniawi tersebut hanya berlangsung sementara. Bahkan, tak sedikit pula mereka terlena sehingga melupakan Allah SWT.

Meski begitu, ada pula orang-orang yang sadar dan secara perlahan meninggalkan kesenangan duniawi. Tujuannya tentu untuk mencari ridho Allah SWT dan bekal untuk akhir hayatnya. Meninggalkan kecondongan atas kecintaan pada dunia inilah yang dinamakan zuhud.

Tingkatan zuhud adalah ada tiga yang dijelaskan Imam Ahmad. Dari ketiga tingkatan ini bisa disimpulkan bahwa kezuhudan seseorang tidak bisa disamaratakan. Tidak pula menuntut dan bisa dilakukan sesuai kemampuan.

Untuk lebih jelasnya, Fimela.com kali ini akan mengulas secara lengkap mengenai zuhud. Dilansir dari Merdeka.com, simak ulasan selengkapnya berikut ini.

Pengertian Zuhud

Pengertian Zuhud
Ilustrasi Sikap Zuhud Credit: shutterstock.com

Zuhud adalah upaya manusia mengalihkan perhatiannya jauh dari dunia. Orang yang bersikap zuhud adalah mereka yang hanya fokus pada kepentingan akhirat atau surgawinya. Meski menurut beberapa pendapat juga menyebutkan, zuhud bukan berarti melupakan dunia.

Jika dilihat secara kasat mata, zuhud adalah praktik yang tak memerlukan harta kekayaan di dunia. Tak hidup dengan mencari harta kekayaan seperti manusia kebanyakan. Orang yang zuhud hanya mencari harta seperlunya, asal cukup untuk bertahan hidup di dunia.

Bisa dikatakan, zuhud adalah keputusan melupakan dunia untuk mencintai Allah SWT saja. Melupakan angan-angan dan hanya melihat dunia dari sudut pandang “tidak membutuhkannya”. Zuhud adalah mengganggap kecil dunia.

Dalil Mengenai Zuhud

Dalil Mengenai Zuhud
Ilustrasi Sikap Zuhud Credit: shutterstock.com

Al-Qur’an Surat Al-Hadid ayat 23

لِّكَيْلَا تَأْسَوْا۟ عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا۟ بِمَآ ءَاتَىٰكُمْ ۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

Likai lā ta`sau 'alā mā fātakum wa lā tafraḥụ bimā ātākum, wallāhu lā yuḥibbu kulla mukhtālin fakhụr

Artinya:

“(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.”

Tafsir Al-Mukhtashar:

Agar kalian tidak bersedih atas dunia yang luput dari tangan kalian, kalian juga tidak berbangga dengan apa yang Allah berikan kepada kalian dengan kebanggaan yang mengandung keangkuhan dan kesombongan.

Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang menyombongkan diri dengan dunia yang dimilikinya, membanggakannya di depan orang lain. Orang- orang yang sombong itu adalah orang-orang yang kikir dengan harta mereka, mereka tidak menafkahkannya di jalan Allah, juga menyuruh orang-orang agar bersikap bakhil dengan menghiasinya bagi mereka.

Barangsiapa berpaling dari ketaatan kepada Allah, ia tidak merugikan kecuali dirinya sendiri, dan sama sekali tidak merugikan Allah. sesungguhnya Allah Mahakaya, tidak membutuhkan mahklukNya, juga Maha Terpuji, Pemilik semua sifat yang baik dan sempurna, serta perbuatan baik yang berhak untuk dipuji karenanya.

Doa Rasulullah SAW

Ibnu ‘Umar pernah mendengar Rasulullah SAW melantunkan doa, “Ya Allah, anugerahkan kepada kami rasa takut kepada-Mu yang membatasi antara kami dengan perbuatan maksiat kepadamu dan berikan ketaatan kepada-Mu yang mengantarkan kami ke surga-Mu dan anugerahkan pula keyakinan yang akan menyebabkan ringan bagi kami segala musibah di dunia ini.” (HR.Tirmidzi, An Nasa’i, Al Hakim, dan Al Baghawi)

Al-Qur’an Surat Al-A’la ayat 17

وَٱلْءَاخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰٓ

Wal-ākhiratu khairuw wa abqā

Artinya:

“Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.”

Tafsir Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah:

Bersamaan dengan itu, Allah menjelaskan yang tidaklah mereka menjadi (hamba) yang berhasil kecuali mereka jadikan (keimanannya) memberikan dampak dari kelezatan-kelezatan fana yang berlalu begitu saja dengan cepat di dunia, dibandingkan dengan akhirat yang akan datang dan abadi; Mereka menjadikan apa yang menjadikannya berhasil dengan (meninggikan) keadaan hari akhirat yang mereka tidak banyak berpikir (ragu-ragu) yaitu dengan (balasan) mendapatkan surga yang lebih utama dibandingkan dunia.

Nah, itu tadi ulasan mengenai ulas zuhud adalah melupakan dunia untuk Allah SWT, beserta tingkatan, dan dalilnya yang wajib dipahami umat Islam.

Al-Qur’an Surat Al-A’la ayat 16

بَلْ تُؤْثِرُونَ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا

Bal tu`ṡirụnal-ḥayātad-dun-yā

Artinya:

“Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi.”

Tafsir Kementerian Agama Saudi Arabia:

Akan tetapi orang-orang kafir tidak mempedulikan kemenangan itu; namun lebih menginginkan kehidupan dunia. Mereka jauh sekali dari usaha untuk meraih kemenangan, dan tidak menghiraukan kehidupan akhirat yang kekal. Jika disebutkan kehidupan akhirat kepada mereka maka mereka akan berpaling darinya, sungguh mereka telah berpaling dari hal yang lebih baik dan lebih kekal.

Tingkatan Zuhud

Tingkatan Zuhud
Ilustrasi Sikap Zuhud Credit: shutterstock.com

Menurut Imam Ahmad ada tiga tingkatan zuhud yang bisa dipahami:

1. Orang awam menganggap zuhud adalah meninggalkan keharaman.

2. Orang istimewa (khawash) menganggap zuhud adalah meninggalkan hal-hal yang halal sekalipun melebihi kebutuhannya.

3. Orang sangat istimewa (al-‘arifin) mengganggap zuhud adalah meninggalkan segala sesuatu yang mengganggunya untuk mengingat Allah SWT.

Menurut Abdul Mun’im al-Hasyimi dalam bukunya “Akhlak Rasul” yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, ada lima faktor pemengaruh zuhud:

1. Memikirkan kehidupan akhirat dengan menganggap dunia sebagai ladang akhirat.

2. Menyadari bahwa kenikmatan di dunia bisa memalingkan hari dari mengingat Allah SWT.

3. Menumbuhkan keyakinan bahwa memburu kehidupan dunia saja sangat melelahkan.

4. Menyadari bahwa dunia sebagai bentuk laknat, kecuali dzikir, belajar, mengajar, dan pekerjaan yang hanya ditujukan pada Allah SWT.

5. Merasakan dunia dari sudut pandang hina dan godaan yang bisa membahayakan kehidupan manusia di dunia dan akhirat.

Lanjutkan Membaca ↓