Ulasan Novel Keajaiban Toko Kelontong Namiya Karya Keigo Higashino

Endah Wijayanti27 Feb 2021, 11:15 WIB
Diperbarui 27 Feb 2021, 11:15 WIB
Keajaiban Toko Kelontong Namiya

Fimela.com, Jakarta Bagaimana rasanya tiba-tiba terjebak dalam suatu aliran waktu? Tak hanya itu saja bahkan bisa berhubungan dengan orang-orang yang hidup puluhan tahun lalu? Inilah yang dialami oleh Shota, Atsuya, dan Kohei. Mereka bertiga adalah pencuri kelas teri. Karena sedang dikejar polisi tapi mobil mereka mendadak bermasalah, mereka pun harus bersembunyi. Setidaknya mereka harus bersembunyi sampai subuh tiba. Sebuah toko yang tampaknya sudah lama tak berpenghuni pun mereka pilih. Toko tersebut adalah Toko Kelontong Namiya.

Awalnya hanya ingin bersembunyi dan tidur sampai keesokan pagi. Akan tetapi, Shota, Atsuya, dan Kohei malah mendapatkan pengalaman aneh. Ada surat-surat yang datang melalui pintu gulung toko. Surat-surat itu berisi curahan hati soal masalah yang dihadapi oleh pengirimnya. Mereka meminta saran kepada pemilik toko tersebut, yang tak lain bernama Kakek Namiya. Shota, Atsuya, dan Kohei yang menerima surat itu bingung.

Mereka bertiga pun memutuskan untuk membalas setiap surat yang masuk. Setiap surat balasan yang selesai ditulis akan dimasukkan di kotak susu. Anehnya lagi ternyata pengirim-pengirim surat tersebut adalah sosok-sosok yang berasal dari masa lalu. Ada aliran waktu yang aneh terjadi pada malam itu. Hanya satu malam itu saja.

Novel Keajaiban Toko Kelontong Namiya

Keajaiban Toko Kelontong Namiya 1
Novel Keajaiban Toko Kelontong Namiya./Copyright Endah

Judul: Keajaiban Toko Kelontong Namiya

Penulis: Keigo Higashino

Alih bahasa: Faira Ammadea

Editor: Pandam Kuntaswari

Ilustrator sampul: Martin Dima

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Ketika tiga pemuda berandal bersembunyi di toko kelontong tak berpenghuni setelah melakukan pencurian, sepucuk surat misterius mendadak diselipkan ke dalam toko melalui lubang surat.

Surat yang berisi permintaan saran. Sungguh aneh.

Namun, surat aneh itu ternyata membawa mereka dalam petualangan melintasi waktu, menggantikan peran kakek pemilik toko kelontong yang menghabiskan tahun-tahun terakhirnya memberikan nasihat tulus kepada orang-orang yang meminta bantuan. Hanya untuk satu malam.

Dan saat fajar menjelang, hidup ketiga sahabat itu tidak akan pernah sama lagi...

***

"Seandainya mereka tidak berkeinginan menjalani hidup dengan baik dan tekun, mungkin jawaban apa pun yang kuberikan tidak akan ada gunanya bagi mereka." (hlm. 173)

Novel yang sudah pernah difilmkan ini sungguh menghangatkan hati. Awalnya mungkin kita akan merasa setiap tokoh tidak saling berhubungan. Namun, siapa sangka ternyata masing-masing tokoh saling berpengaruh dan berdampak pada tokoh lainnya. Belum lagi dengan peralihan waktu dan keajaiban yang terjadi pada malam itu, semakin mendekati akhir cerita kita makin dibuat takjub dan terkejut.

Ceritanya tidak membosankan sama sekali. Sudut pandang yang dihadirkan dalam novel ini pun membuat kita terus penasaran dengan kehidupan setiap tokohnya. Masing-masing kisah saling bersinggungan satu sama lain. Kita akan dibawa ke masa lalu, masa kini, dan masa depan selama membaca jalinan ceritanya. Menyinggung soal Olimpiade 1980 dan perjalanan grup The Beatles juga. 

Terjemahan novel ini juga sangat bagus. Pelajaran hidup yang disuguhkan oleh penulis juga sangat menyentuh. Dari awal cerita hingga akhir cerita, kita akan diajak mengikuti rangkaian cerita yang menyentuh. Kadang dalam menghadapi suatu persoalan kita sebenarnya sudah tahu jawabannya atau jalan keluarnya. Hanya saja kita masih perlu penegasan atau dorongan dari orang lain untuk bisa membuat pilihan yang lebih matang. Benar adanya bahwa kata-kata bisa memberi pengaruh yang sangat kuat pada diri dan kehidupan seseorang.

Bila suka dengan genre fantasi, perjalanan lintas waktu (time traveling), serta kisah inspiratif, novel ini sangat cocok untukmu. Topik tentang persahabatan, keluarga, dan cinta juga sangat kental di novel ini. Keajaiban Toko Kelontong Namiya menghadirkan pengalaman membaca yang tak akan pernah terlupakan. 

#ElevateWomen

Lanjutkan Membaca ↓