Kadang Perasaan Cinta Cukup Disimpan Sendiri demi Kebaikan Bersama

Endah Wijayanti27 Feb 2021, 10:45 WIB
Diperbarui 27 Feb 2021, 10:45 WIB
menutup hati

Fimela.com, Jakarta Kita semua pernah punya pengalaman atau kisah tentang cinta. Kita pun bisa memaknai arti cinta berdasarkan semua cerita yang pernah kita miliki sendiri. Ada tawa, air mata, kebahagiaan, kesedihan, dan berbagai suka duka yang mewarnai cinta. Kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories Februari 2021: Seribu Kali Cinta ini menghadirkan sesuatu yang baru tentang cinta. Semoga ada inspirasi atau pelajaran berharga yang bisa dipetik dari tulisan ini.

***

Oleh: Yanma Hidayah

Cinta? Seperti apa itu? Jika kita mengartikan sikap perhatian seseorang pada kita sebagai rasa cinta, apakah itu terlalu lebay? Aku memang bukanlah orang yang pernah merasakan cinta sebelumnya. Mungkin banyak dari kalian yang mengira itu hanya baper semata, tapi rasanya tidak bagiku yang merasakan sendiri. Aku dapat memahami perasaannya dari semua tindakan manisnya tanpa harus dia berucap.

Ketika dia berusaha mencariku, ketika dia mencoba dekat denganku, ketika dia mencoba menemuiku, apakah itu bisa dikatakan pertanda kalau ada cinta yang sedang tumbuh? Atau itu hanya rasa suka biasa? Entah mengapa, setiap kali aku mengatakan tentang ini, aku merasa jika ini memang terlalu lebay. Namun, begitulah adanya.

Saat dia mencoba mencariku, mencoba dekat denganku, dan mencoba menemuiku, aku selalu ingin menghindar darinya. Aku tidak mau memiliki perasaan yang lebih untuknya. Aku juga merasa kalau dia memang bukan orang yang tepat untuk menjadi pasanganku.

Di masa kecil, kami pernah beberapa kali main bersama, cukup dekat memang. Setiap dia lewat depan rumahku, dia selalu memberikan tanda. Namun, ketika kami sudah SMP kami berbeda sekolah dan mulai saat itu kami tidak pernah bermain bersama atau sekadar menyapa. Setelah itu, momen kami hanya terjadi saat idulfitri datang. 

Menjaga Jarak

cara move on
Ilustrasi./Copyright pexels.com/@d-ng-nhan-324384

Sampai tiba waktunya kami menjadi dewasa. Dia bekerja di luar kota dan aku kuliah di kota yang berbeda. Jadi, pertemuan setahun sekali di hari diulfitri semakin nyata adanya. Anehnya perasaanku ini, setiap idulfitri tiba aku selalu menunggu dia datang ke rumah dan aku selalu menunggu-nunggu hal indah apa yang akan terjadi, karena setiap kita bertemu di hari idulfitri pasti ada saja momen indah yang terjadi. Namun, idulfitri tahun lalu kami tidak bisa bertemu dikarenakan pandemi covid-19.

Tahun ini kurasa sudah bukan waktunya lagi untuk menantikan hal tersebut. Usiaku sudah tidak dapat menerima hal seperti itu. Walaupun masih pantas, tetap saja aku tidak ingin menantikannya lagi di idulfitri tahun ini. Mungkin, sebelumnya aku terlihat seperti memiliki rasa suka padanya. Ya, memang aku akui. Namun, apakah itu akan tumbuh menjadi rasa cinta? Tidak.

Sebenarnya hal yang paling membuatku tidak ingin memiliki perasaan yang lebih dalam lagi dengan dia, yakni karena dia adalah mantan pacar temanku. Mereka memiliki kisah yang fenomenal. Selain itu, kami bertiga juga tinggal di RT yang sama. Oleh karenanya, aku tidak mau berada di lingkaran hubungan yang sama dengan mereka.

Saat ini, aku dan dia sudah memiliki dunia masing-masing. Dia dengan dunia kerjanya dan aku dengan dunia perkuliahan yang juga sebentar lagi beralih ke dunia kerja. Jadi, aku berharap agar kami menemukan kebahagiaan kami masing-masing tanpa terpikir angan-angan masa lalu. Terkhusus untuk diriku.

#ElevateWomen

Lanjutkan Membaca ↓