Dua Kata yang Takkan Bisa Terucap pada Ayah

Endah Wijayanti27 Feb 2021, 11:44 WIB
Diperbarui 27 Feb 2021, 11:44 WIB
hari kematian ayah

Fimela.com, Jakarta Kita semua pernah punya pengalaman atau kisah tentang cinta. Kita pun bisa memaknai arti cinta berdasarkan semua cerita yang pernah kita miliki sendiri. Ada tawa, air mata, kebahagiaan, kesedihan, dan berbagai suka duka yang mewarnai cinta. Kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories Februari 2021: Seribu Kali Cinta ini menghadirkan sesuatu yang baru tentang cinta. Semoga ada inspirasi atau pelajaran berharga yang bisa dipetik dari tulisan ini.

***

Oleh: Rosalia Wihal

Kita akan merasa sesuatu itu berharga saat kita telah kehilangannya. Ini adalah suatu perkataan yang sudah sangat umum dan tidak asing lagi di telinga banyak orang. Bagi beberapa orang mungkin perkataan ini hanyalah sebuah "perkataan", tapi bagi orang yang sudah pernah mengalaminya, kata ini memiliki makna yang sangat dalam.

Di waktu aku masih kecil, ayahku memiliki sebuah pabrik bahan makanan sehingga sebagian besar waktu sehari-harinya ia habiskan di luar rumah untuk berjualan barang-barang hasil produksinya. Ayah hanya ada di rumah untuk tidur atau untuk mengatur barang-barang hasil produksinya. Waktu yang dihabiskan ayah bersamaku sangat sedikit, bahkan bisa dibilang sangat langka. Di waktu kebersamaanku dengan ayah yang sedikit itu pun sebagian besar terisi dengan waktu di mana ayah memarahiku, sehingga sosok ayah bagiku waktu itu adalah seorang sosok yang menyebalkan karena mengekang kebebasanku.

Di waktu aku kelas 5 SD, ayah didiagnosis mengidap penyakit kanker stadium akhir. Ibu, aku, dan kedua kakakku bergantian menjaga ayah. Di saat ayah sedang sakit pun ayah masih sering memarahiku saat aku menjaganya. Aku yang waktu itu masih kecil pun menjadi semakin kesal dengan ayahku.

Ketika aku duduk di bangku kelas 6 SD, kondisi ayah tidak juga membaik, bahkan bisa dibilang semakin parah. Setelah aku selesai mengikuti Ujian Nasional, aku pun pergi ke luar kota bersama nenekku untuk menghadiri pernikahan sepupuku. Saat itu ibuku tidak pergi karena kondisi ayah yang semakin parah. Selama satu minggu aku berada di luar kota, ayahku terus menanyakan kapan aku pulang kepada ibuku. 

Merindukan Ayah

hari ayah
Ilustrasi./Copyright shutterstock

Di hari aku pulang dari luar kota, saat itu aku dan nenekku mendarat di bandara sudah tengah malam, sehingga nenekku memutuskan untuk aku menginap di rumah nenek dulu malam itu. Setelah nenekku menelepon ibuku untuk menyampaikan hal tersebut, ibuku pun memberitahu ayahku bahwa aku sudah berada di rumah nenek.

Pada dini hari saat aku masih berada di rumah nenek, ibuku menelepon dan mengatakan bahwa ayah telah tiada. Sejujurnya, aku tidak terlalu merasa kehilangan pada saat itu, mungkin karena saat itu aku merasa ayah adalah sosok yang menyebalkan dan terlalu mengatur hidupku, terlebih lagi karena waktu itu aku masih kecil.

Namun, seiring aku beranjak dewasa aku semakin mengerti bahwa ayah yang selalu memarahiku dan mengekangku adalah sosok yang sangat menyayangiku dan semua itu ia lakukan untuk kebaikanku. Sudah puluhan tahun sejak kepergian ayah, aku semakin merindukan sosok ayah. Aku benar-benar menyesal dengan sikapku dulu pada ayah.

Diriku yang saat ini mungkin belum cukup bisa membuat ayah bangga, namun didikan-didikan ayah di waktu aku kecil tidak akan pernah kulupakan dan bahkan semua itu sudah tertanam dalam diriku. Tanpa didikan ayah, mungkin saat ini aku tidak akan sebaik sekarang. Ada dua kata yang ingin sekali kuucapkan karena telah menjadikanku seperti diriku yang saat ini, namun kata ini tidak akan pernah bisa kuucapkan padamu: Terima kasih, Ayah.

#ElevateWomen

Lanjutkan Membaca ↓