Kutemukan Cinta yang Berbeda setelah Aku Menjadi Seorang Ibu

Endah Wijayanti01 Mar 2021, 12:15 WIB
Diperbarui 01 Mar 2021, 12:15 WIB
komunikasi nonverbal dengan anak

Fimela.com, Jakarta Kita semua pernah punya pengalaman atau kisah tentang cinta. Kita pun bisa memaknai arti cinta berdasarkan semua cerita yang pernah kita miliki sendiri. Ada tawa, air mata, kebahagiaan, kesedihan, dan berbagai suka duka yang mewarnai cinta. Kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories Februari 2021: Seribu Kali Cinta ini menghadirkan sesuatu yang baru tentang cinta. Semoga ada inspirasi atau pelajaran berharga yang bisa dipetik dari tulisan ini.

***

Oleh: Ranti Uli

Hai. Kenalkan namaku Ranti. Saat ini usiaku 30 tahun. Tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua menurutku. Namun aku sudah mengenal cinta cukup lama. Pertama kali aku mengenal cinta dari orangtuaku. Dari perkataan, “Mama dan papa sayang kamu,” dan dari dedikasi mereka membesarkan dan merawatku.

Kemudian aku mengenal cinta jenis lain. Saat itu usiaku delapan tahun dan aku pindah ke sekolah baru. Seseorang memberikanku sebuah surat. Isinya sederhana. Dia mengenalkan dirinya, mulai dari nama, usia, tempat tinggal, nama saudara dan saudarinya serta hal-hal kesukaannya. Di akhir surat, dia meminta kesediaanku untuk menjadi pacarnya.

Aku bingung karena itu pertama kali mendapat surat seperti itu. Dari kakakku yang usianya lima tahun lebih tua dariku, aku diberitahu bahwa yang kuterima adalah surat cinta. Apa sih cinta itu? Kakakku bilang temanku itu suka padaku dan ingin aku jadi pacarnya. Tapi aku masih terlalu kecil untuk mengiyakan permintaannya.

Di bangku sekolah, beberapa kali aku naksir dan ditaksir orang. Perasaan itu memang indah. Aku merasa ada kupu-kupu di perutku saat kami berpas-pasan. Aku merasa jantungku hampir copot sangking senangnya ketika kami jalan di mall. Aku tersenyum lebar setiap kali kami mengobrol di telepon.

Lalu saat kuliah aku berkenalan dengan cinta yang serius. Teman lama yang menyatakan cinta padaku dan mengajakku tidak hanya sekadar berpacaran tapi juga memupuk cinta dengan komitmen jangka panjang bahkan seumur hidup. Kami memulai cinta yang semakin serius di pelaminan ketika aku berusia 24 tahun.

Aku ada di langit ketujuh. “Oh begini toh indahnya dicintai dan mencintai seseorang yang peduli dan mau membahagiakan kita.”

Cinta yang benar-benar berbeda.

Kasih Sayang Seorang Ibu pada Anaknya

cintaku
Cintaku./Copyright Marantina

Usiaku memasuki 26 tahun ketika aku mengenal cinta yang benar-benar berbeda. Cinta yang tak pernah kubayangkan akan kurasakan sampai sekarang. Cinta ini bagiku patut mendapat penghargaan cinta yang terbaik sepanjang masa.

Kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa

Hanya memberi, tak harap Kembali

Bagai sang surya menyinari dunia.

Lirik lagu itu dengan tepat menggambarkan bagaimana cinta seorang ibu kepada anaknya. Ketika aku mencintai pasangan, jujur saja aku sangat mengharapkan dia pun mencintai dan menunjukkan cintanya padaku.

Beda ceritanya ketika aku dinyatakan hamil dan ada sosok calon manusia dalam kandunganku. Secara instan dan natural, aku berani mencintai anak ini apa pun yang terjadi. Entah bagaimana, aku tak berharap sedikit pun anakku akan mencintaiku atau membalas cintaku. Yang kutahu hanyalah aku mencintainya dan akan memberi yang terbaik untuknya, apa pun yang terjadi. Matahari tak pernah bertanya apakah manusia, tumbuhan, laut dan segala isi dunia mensyukuri dan membalas sinarnya. Matahari hanya bersinar dan bersinar.

Tentu saja cinta ini sering diuji ketika aku sedang lelah dan banyak tugas tapi anak rewel minta ditemani terus. Cinta ini punya tantangan yang besar karena anak belum paham bahwa selain ibu, aku punya peran dan tanggung jawab lain. Tapi tetap saja, aku berani bilang bahwa cintaku pada anak merupakan jenis cinta terbaik yang ada di dunia.

Menjadi ibu mengubah hidupku, membuatku kehilangan dan mendapat banyak kesempatan. Mencintai anak membuatku selalu merasa bangga dan khawatir, merasa hidup bergerak sangat cepat sekaligus sangat lambat, dan membuatku terus menerus memikirkan masa lalu dan masa depan.

Aku berkali-kali jatuh cinta dan merasa dicintai, tapi tak pernah aku menemukan jenis cinta seperti yang kurasakan pada anakku. Bagiku, cinta ibu pada anaknya layak diberi penghargaan cinta terbaik sepanjang masa.

#ElevateWomen

Lanjutkan Membaca ↓