Sesalku Berhubungan dengan Pria Beristri, tapi Kini Aku Berjuang demi Anakku

Endah Wijayanti01 Mar 2021, 12:45 WIB
Diperbarui 01 Mar 2021, 12:53 WIB
seribu cinta dan ibu tunggal

Fimela.com, Jakarta Kita semua pernah punya pengalaman atau kisah tentang cinta. Kita pun bisa memaknai arti cinta berdasarkan semua cerita yang pernah kita miliki sendiri. Ada tawa, air mata, kebahagiaan, kesedihan, dan berbagai suka duka yang mewarnai cinta. Kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories Februari 2021: Seribu Kali Cinta ini menghadirkan sesuatu yang baru tentang cinta. Semoga ada inspirasi atau pelajaran berharga yang bisa dipetik dari tulisan ini.

***

Oleh: Anastasia Rambu

Tahun 2014 aku diterima di salah satu perusahaan ternama di Jakarta. Betapa bangganya aku saat itu, bisa diterima bekerja disana.

Perjalanan menuju kantor sangat jauh, tapi aku menjalaninya dengan bahagia. Perjalanan pulang pergi 4 jam sama sekali tak terasa melelahkan (awalnya). Namun akhirnya kuputuskan untuk kos di dekat kantor.

Aku senang sekali bisa bekerja di kantor ini. Teman-teman baru semua menyenangkan, dan para senior pun semua baik hati, menyambut kami anak-anak baru ini seperti keluarga.

Ditambah lagi aku pun bisa kenal dengan seorang pria, satu kantor tapi beda divisi. Dia pria yang sangat menyenangkan, pria yang ramah, bahkan bisa kubilang baik hati, karena dia berulang kali menawarkan bantuan kepadaku saat aku tengah dilanda kesulitan.

Sampai akhirnya kisah cinta pun terjalin. Kisah cinta terlarang karena dia sudah berkeluarga. Dia sudah memiliki istri dan seorang anak yang saat itu baru berusia sekian bulan.

Kami menjalani hubungan tentu saja dengan diam-diam. Kalau sampai ketahuan dengan orang kantor, kami bisa ditegur, apalagi aku, seorang wanita single yang menjalin hubungan dengan pria beristri.

Tiap pulang kerja, aku menanti pria itu. Sebut saja namanya Rain, begitu aku menyebutnya, karena aku dulu senang menonton drama Full House, pemain prianya bernama Rain.

Rain selalu mengantarku pulang sampai kos, dan tentu saja dia mampir.

Berawal dari situ, saat ia mampir di kos pertama kali, kami sama-sama tak bisa membendung hawa nafsu. Aku menyerahkan keperawananku kepadanya.

Sesal yang kurasakan pada akhirnya, kenapa aku bisa-bisanya menyerahkan keperawananku, hal yang paling berharga di hidupku, pada seorang pria beristri? Apa yang bisa kuharapkan darinya?

Tapi sesal itu tak berlangsung lama. Hari demi hari kujalani bersama Rain, hari yang penuh canda tawa, ia benar-benar pria yang menyenangkan.

Saat itu aku tak peduli dengan statusnya, yang kutahu, dia ada sama aku, itu cukup. Yang penting aku bahagia, egoku yang kuutamakan. Lagu kebangsaanku saat itu “Tak Ada Logika”, setiap liriknya benar-benar pas banget sama aku, ”Yang hanya ingin dapat memiliki, dirimu hanya untuk sesaat."

Sampai akhirnya kejadian itu pun menimpaku, aku hamil. Saat itu aku pusing, stres, bingung, apa yang harus kulakukan, aku tak berani bilang sama siapa-siapa. Dan Rain sepertinya bisa mencium gelagatku, dia bertanya kepadaku, apa aku hamil. Aku menangis sejadi-jadinya, dan dia hanya bisa terdiam, tak sepatah katapun terucap darinya.

Keesokan harinya dia memberi sebuah solusi kepadaku. Dia menyuruhku untuk menggugurkan kandunganku. Aku hanya bisa terdiam, menangis di dalam hati, menjerit di dalam hati. Sungguh hatiku sangat sakit rasanya, janin yang ada di dalam rahimku ini anakmu Rain, anakmu. Tapi kamu malah nyuruh aku buat gugurin anak ini?

Tak lama dari itu, aku memutuskan untuk resign, mengundurkan diri dengan alasan aku ingin melanjutkan studi S2. Tak ada orang kantor yang curiga soal kehamilanku, karena memang kami menjalani hubungan dengan diam-diam, dan saat itu walaupun usia kandunganku sudah memasuki 3 bulan tapi tidak terlihat sama sekali.

Melakukan yang Terbaik untuk Buah Hatiku

suami cerai
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Rain tak mau bertanggungjawab, dan aku pun tak memaksanya untuk bertanggungjawab, karena aku tahu dia sudah berkeluarga. Aku tahu aku yang salah, kalau saja dari awal aku tidak termakan rayuannya, ah tapi ya sudahlah, semua sudah berlalu.

Saat ini, 2021, aku memutuskan menjadi seorang ibu tunggal, dulu akhirnya kuputuskan untuk melanjutkan kehamilanku, tanpa pasangan. Anakku sudah berusia 4 tahun sekarang. Aku bersyukur untuk hal yang boleh kualami, ini jadi pelajaran berharga bagiku.

Aku tak akan lagi menjalin hubungan dengan pria beristri, dan aku tak akan lagi dengan mudahnya menyerahkan hal berharga dalam hidupku, sampai nanti jika Tuhan izinkan aku untuk menikah. Jika pun nanti aku tidak menikah, aku pun akan hidup bahagia dengan anakku.

Maafkan mama ya nak, jika kamu harus hidup tanpa sosok seorang ayah. Tapi aku percaya dan aku selalu berkata pada anakku, Tuhan yang selalu menjaga kita.

Mama dulu memang bukan perempuan baik, tapi mama sangat bersyukur memiliki Tuhan yang begitu baik, yang tetap mau menerima mama saat mama bertobat. Dan bahkan Tuhan menghadirkan orang-orang baik di hidup mama, di hidup kita Nak. Banyak banget orang yang sayang dan perhatian sama kamu. Percaya Nak, kamu tak akan kekurangan kasih sayang sampai kapan pun.

Terima kasih sayang, kamu sudah hadir di hidup mama, berkat kamu, mama bisa keluar dari ‘kubangan lumpur’ dosa yang dulu begitu menjerat mama.

Sebuah pesan untuk Rain, aku sudah memaafkanmu walaupun kamu tak meminta maaf.

#ElevateWomen

Lanjutkan Membaca ↓