Cintaku pada Ayah akan Selalu Hidup, walau Sosoknya Sudah Tiada

Endah Wijayanti02 Mar 2021, 13:35 WIB
Diperbarui 02 Mar 2021, 13:35 WIB
bersama sosok ayah

Fimela.com, Jakarta Kita semua pernah punya pengalaman atau kisah tentang cinta. Kita pun bisa memaknai arti cinta berdasarkan semua cerita yang pernah kita miliki sendiri. Ada tawa, air mata, kebahagiaan, kesedihan, dan berbagai suka duka yang mewarnai cinta. Kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories Februari 2021: Seribu Kali Cinta ini menghadirkan sesuatu yang baru tentang cinta. Semoga ada inspirasi atau pelajaran berharga yang bisa dipetik dari tulisan ini.

***

Oleh: Ranti Uli

It was the worst day of my life. Aku meraskan duka yang sangat mendalam, yang tak pernah kurasakan sebelumnya, dan kuharap tak perlu kurasakan lagi. Ayah pergi selama-lamanya pada saat usiaku 23 tahun. Kini, sudah lebih dari tujuh tahun ayah tidak ada lagi di dunia ini. Tapi kenangan tentang ayah akan selalu ada. Cintaku pada ayah pun akan selalu hidup.

Meskipun klise, ayah memang benar-benar cinta pertamaku. Ayah merupakan sosok laki-laki pertama yang peduli dan memerhatikanku dengan cintanya. Aku pun mencintai ayah. Terima kasih karena sudah memberi standar tinggi terhadap pasangan hidup untuk menemani hari-hariku.

Karena ayah, aku memilih pria yang bertanggung jawab pada keluarga. Karena sifat humoris ayah, aku pun memilih laki-laki yang selalu bisa membuatku tertawa. Terima kasih karena ayah menghargaiku sebagai perempuan sehingga aku pun memilih pasangan hidup yang menghargai perempuan.

Aku memahami kedalaman cinta ibu pada anaknya. Wajar sekali karena selama sembilan bulan ibu mengandung anak hingga melahirkan dengan segala sukacita dan susah payahnya. Aku paham cinta seperti itu karena aku pun seorang ibu.

Tapi aku masih merasa takjub dengan cinta seorang ayah pada anaknya. Cinta ayah padaku benar-benar membuatku terpesona. Bukan ayah yang melahirkanku, tapi ayah yang menjagaku sejak aku lahir dan memastikan aku aman.

Aku ingat ayah selalu khawatir kalau dulu aku belum ada di rumah ketika petang tiba. Ini bukan semata kekhawatiran terhadap anak perempuan yang pergi-pergi sampai malam. Ini adalah perihal ayah mau memastikan aku aman. Kalau aku bilang mau pergi dengan teman atau pacar, ayah yang bertanya seribu pertanyaan, untuk menjamin aku selalu aman meski tidak ada di hadapan ayah.

Semua keluarga dan teman-temanku tahu persis bahwa aku ini “putrinya ayah” dari bagaimana ayah menjaga dan mencintaiku. Ayah selalu ada ketika aku butuhkan. Ayah tidak pernah menghakimi atau menyalahkanku meski aku melakukan kesalahan fatal sekalipun. Ayah mengajarkanku untuk menghadapi konsekuensi dari perbuatanku, sembari memelukku. 

Ayah adalah Cinta Pertamaku

anak perempuan cinta pertama ayah
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/sasilsolutions

Ayah tak pernah menganggap mimpi-mimpiku konyol. Ayah justru menyemangatiku untuk meraih semua yang kuimpikan. “Tidak ada yang mustahil jika kamu terus berusaha, sayang.” Aku ingat begitu kata-kata ayah padaku.

Namun ayah lupa mengajarkanku tentang duka. Aku begitu terpuruk ketika ayah pergi. Bagaikan ada lubang berwarna hitam dalam hati dan hidupku ketika aku tahu ayah sudah tiada. Duka ini terlalu mendalam, aku dulu berpikir aku takkan bisa melanjutkan hidup tanpa ayah. Semua berbeda ketika ayah pergi.

Pada akhirnya aku belajar juga untuk merelakan kepergian ayah. Aku rela bahwa cinta pertamaku sudah tidak ada lagi. Mau tak mau, aku harus menerima bahwa ayah memang tak bisa selamanya ada bersamaku.

Tapi kenangan tentang ayah masih kental dalam pikiranku. Hal-hal baik yang ayah ajarkan sangat membantuku menjalani kehidupan. Dan tentu saja, cinta ayah padaku berhasil membentukku menjadi perempuan independen yang tahu apa yang aku mau dan bagaimana meraihnya.

Aku benci hari ketika ayah pergi. Namun, aku bersyukur Tuhan memilihmu jadi ayahku. Aku akan menjaga cintaku pada ayah untuk tetap hidup hingga akhir napasku karena aku begitu sayang pada ayah.

#ElevateWomen

Lanjutkan Membaca ↓