Kesabaran Istri Bisa Menaklukkan Kerasnya Hati Suami

Endah Wijayanti03 Mar 2021, 11:45 WIB
Diperbarui 03 Mar 2021, 11:45 WIB
ganti pasangan

Fimela.com, Jakarta Kita semua pernah punya pengalaman atau kisah tentang cinta. Kita pun bisa memaknai arti cinta berdasarkan semua cerita yang pernah kita miliki sendiri. Ada tawa, air mata, kebahagiaan, kesedihan, dan berbagai suka duka yang mewarnai cinta. Kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories Februari 2021: Seribu Kali Cinta ini menghadirkan sesuatu yang baru tentang cinta. Semoga ada inspirasi atau pelajaran berharga yang bisa dipetik dari tulisan ini.

***

Cerita Pendek oleh: Puji Khristiana Dyah Nugrahaini

Banyak yang bertanya mengapa aku masih saja bertahan dengan laki-laki seperti itu. Tak hanya pemabuk. Tapi juga pemakai narkoba, tukang judi, hobi selingkuh dan ringan tangan. Sudah tak terhitung berapa kali luka fisik dan luka batin yang dia torehkan padaku dan putri kecil kami. Sedikit saja emosinya tersulut, maka dengan mudah dia melayangkan pukulan pada kami.

Sebelas tahun menjalani pernikahan dengan laki-laki seperti itu memang tidak mudah. Jangankan nafkah batin. Nafkah lahir saja dia tidak pernah memberi sama sekali. Uang hasil keringatnya habis di meja judi dan membeli narkoba. Aku berusaha memenuhi kebutuhanku dan anakku dengan berjualan makanan kecil-kecilan, menjadi buruh tukang cuci, dan berbagai pekerjaan serabutan lainnya. Jika ada tetangga yang mengadakan hajatan aku sedikit bersyukur. Dengan kemampuan memasak aku bisa menambah penghasilan dengan menjadi tukang masaknya.

Hampir setiap hari suamiku selalu pulang malam dengan bau mulut penuh alkohol. Tak jarang diantar oleh perempuan-perempuan yang habis dizinahinya. Saat dia kekurangan uang, maka tak segan-segan meminta uang hasil jerih payahku sendiri. Jika aku menolak memberi, maka dia akan langsung memukul dan menginjak tubuhku tanpa ampun.

Kedua orang tuaku selalu menyarankan agar aku melayangkan gugutan cerai saja. Buat apa mempertaruhkan nyawa demi laki-laki seperti itu. Aku cantik. Masih banyak yang mau menikahi. Atau jika aku trauma menikah, hidup sendiri juga lebih baik. Toh selama ini juga mencari uang untuk hidup sendiri. Bahkan bapakku bilang kalau aku tidak mau mengurus perceraian, dia sendiri yang akan mendaftarkannya di pengadilan agama. Kedua orang tuaku tidak tega melihat badan kurusku terus menanggung beban lahir dan beban batin atas perlakuan menantu yang tidak beradab.

Beberapa kali memang terpikir di benakku untuk bercerai saja dari laki-laki semacam itu. Selain tidak ingin melihat mental dan fisik anakku terganggu karena ulah bapaknya, aku juga tidak ingin melihat kedua orang tuaku terus-terusan bersedih karena melihat suramnya rumah tangga kami. Tapi entah kenapa. Setiap aku mencoba shalat istikharah untuk diberi kemantapan bercerai, justru hati ini diberi kemantapan untuk tetap bertahan. Seperti ada bisikan bahwa suatu saat suamiku akan bisa berubah menjadi nahkoda teladan yang akan membawa bahtera rumah tangga ini menuju surga-Nya. 

Aku ikuti saja apa mau Sang Pencipta kehidupan ini. Meski tidak mudah, kucoba terus bertahan menghadapi laki-laki macam itu. Sebagai istri, aku mencoba melayaninya dengan sebaik mungkin. Memasak makanan, membuat kopi, mencuci dan menyetrika pakaiannya serta selalu menjaga rumah agar terlihat rapi. Termasuk juga saat dia hanya mendatangiku jika sedang ingin berhubungan badan. Meski tubuh terasa sakit dan lelah, aku coba melayaninya dengan baik. Sambil berdoa semoga tuhan berkenan melembutkan hati dan perilakunya hingga menjadi suami yang sayang keluarga dan bertanggung jawab.

Tidak ada Tuhan yang tidak mendengar dan menjawab doa hamba-Nya. Mungkin selama ini tuhan ingin berbicara padaku dan mengajarkan secara langsung arti kata kesabaran. Setelah bertahun-tahun mencoba bertahan, bersabar dan terus berdoa, akhirnya tuhan menjawabnya lewat sebuah peristiwa.

Siang itu aku baru saja menyelesaikan pesanan kue dari pelanggan. Tetanggaku datang tergopoh-gopoh memanggilku. Menjelaskan bahwa suamiku diciduk polisi karena tertangkap basah berjudi dan mengonsumsi narkoba. Aku tidak kaget mendengar kabar ini. Karena cepat atau lambat hal ini pasti akan terjadi pada suamiku. Setelah mengantar kue pesanan pelanggan, aku langsung menuju kantor polisi tempat suamiku ditahan. Aku datang sendiri tanpa ada orang yang mau menemani.

Kulihat dia tertunduk lesu ketika aku menjenguknya. Tidak lagi ada wajah marah, beringas, pongah, dan sombong seperti yang terlihat selama ini. Dengan penampilan seperti ini suamiku tak lebih dari laki-laki pesakitan yang kehilangan kekuatan serta harga diri. Dari 15 menit waktu yang diberikan rumah tahanan, hanya kata maaf yang bisa dia ucapkan. Meminta maaf sambil menangis sesenggukan. Inilah tangis pertama yang kulihat selama 11 tahun pernikahan kami.

Berita tertangkapnya suamiku langsung menyebar hari itu juga. Membuat kedua orang tua dan seluruh keluargaku malu oleh ulahnya. Maka tak khayal jika kedua orang tuaku meminta untuk segera mengurus surat perceraian. Tidak akan ada masa depan yang cerah jika terus hidup dengan narapidana seperti dia. Yang ada hanya penderitaan yang tak kunjung usai. Kasihan dengan putri kami yang sering dirundung teman-temannya karena memiliki ayah seperti itu.

Tapi lagi-lagi, keyakinan selalu membuatku tetap bertahan. Suamiku dijatuhi vonis hukuman satu tahun penjara karena terbukti berjudi dan mengonsumsi narkoba. Tidak ada yang berubah dengan hidup kami setelah suami dipenjara. Aku tetap menjadi tulang punggung sekaligus tulang rusuk dalam keluarga. Mencari uang dan membesarkan putri kami satu-satunya.

Bedanya, kami bisa hidup lebih tenang tanpa ada amarah dan kekerasan dari tangan suamiku. Rezekiku juga semakin bertambah. Bisnis pembuatan kue yang baru kurintis berkembang pesat. Banyak pesanan yang datang membuatku kewalahan. Sehingga harus mempekerjakan beberapa karyawan agar bisa terus melayani pesanan pelanggan. Perlahan ekonomi keluarku membaik.

Ada Keyakinan dalam Diri

pasangan
ilustrasi./Photo by Pablo Heimplatz on Unsplash

Selama setahun itu pula aku tak pernah absen menjenguk suami di penjara. Meski sibuk, setiap seminggu sekali menyempatkan menengok dia di rumah tahanan. Kubawakan makanan apa pun yang dia pesan. Kubuat dengan tanganku sendiri, dengan segenap cinta dan perhatian.

Tak ada keluarga ataupun temannya yang mau menjenguk. Apalagi wanita-wanita yang pernah menjadi selingkuhannya. Mereka sudah menganggap bahwa suamiku telah meninggal. Hanya aku satu-satunya orang yang tak pernah lelah menjenguknya, memberi semangat, mencoba membuatnya tersenyum, mengembalikan kepercayaan dirinya, mendoakannya dan selalu mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Di dalam penjara inilah dia akhirnya menyadari kesalahannya selama ini. Sadar bahwa dia belum bisa menjadi suami dan ayah yang baik bagi keluarga. Dia memintaku untuk memberi kesempatan sekali lagi agar bisa berubah dan memperbaiki semuanya. Suamiku juga berjanji kelak ketika sudah keluar dari rumah tahanan dan telah menjalani rehabilitasi dari ketergantungan narkoba, dia akan menjalani hidup dengan normal. Bekerja dan menebus semua kesalahan yang dilakukan selama ini.

Dan benar saja. Setahun setelah menjalani hukuman, suamiku kembali ke rumah seperti bayi yang baru dilahirkan. Tak pernah meninggalkan shalat lima waktu. Sudah tidak pernah pergi ke tempat judi, tidak pernah menyentuh alkohol, apalagi narkoba. Dia dedikasikan waktunya untuk lebih banyak di rumah. Membantu mengembangkan usaha toko kue dan meluangkan waktu untuk bisa menemani putri kami.

Doa dan kesabaranku dijawab Tuhan. Sekarang, usia pernikahan kami hampir menginjak 20 tahun. Suamiku tampil lebih religius. Sering ke masjid dan benar-benar meninggalkan dunia hitamnya dulu. Dua kata yang selalu diucapnya setiap hari padaku. Kata maaf dan terima kasih. Maaf karena dia pernah mengecewakanku. Terima kasih karena aku mau terus bersabar, berdoa dan memberi kesempatan kedua untuknya. Seribu kali cinta dan kesabaran yang kuberikan, kini berbuah dengan manisnya ribuan kali cinta dari takdir-Nya.

#ElevateWomen

Lanjutkan Membaca ↓