Kenangan di Cologne, Menemukan Cinta Tak Terduga di Tempat Istimewa

Endah Wijayanti04 Mar 2021, 11:35 WIB
Diperbarui 04 Mar 2021, 11:40 WIB
seribu cinta dan cologne

Fimela.com, Jakarta Kita semua pernah punya pengalaman atau kisah tentang cinta. Kita pun bisa memaknai arti cinta berdasarkan semua cerita yang pernah kita miliki sendiri. Ada tawa, air mata, kebahagiaan, kesedihan, dan berbagai suka duka yang mewarnai cinta. Kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories Februari 2021: Seribu Kali Cinta ini menghadirkan sesuatu yang baru tentang cinta. Semoga ada inspirasi atau pelajaran berharga yang bisa dipetik dari tulisan ini.

***

Oleh: Luh Manik Sinta Nareswari

Tidak semua pernah merasakan rasa rindu yang teramat dalam pada suatu tempat yang bahkan belum pernah ia kunjungi, perasaan yang aneh dan nyeleneh mungkin bagi sebagian orang. Perasaan ini dikenal dengan istilah fernweh, suatu kata dalam bahasa Jerman yang mungkin tidak ada padanannya dalam bahasa lainnya, sebuah antonim dari homesick.

Entah sudah berapa lama aku memendam perasaan ini terhadap suatu kota besar di negara bagian Jerman, Nordrhein Westfalen. Mungkin semenjak aku mempelajari bahasa asing keduaku ini dan menemukan artikel tentangnya dalam buku, Cologne, begitulah kota tersebut dikenal dunia.

Rasa rindu yang teramat dalam, akhirnya membawaku ke sana pada musim panas tiga tahun silam. Setelah melewati perjuangan mendapatkan beasiswa dan segala drama serta air mata, usahaku tidak menghianati hasilnya, aku berkesempatan melepas rindu di kota itu untuk satu bulan lamanya. Waktu yang tidak banyak, tidak panjang, tidak cukup, tapi penuh makna dan cinta.

Detik pertama ketika aku keluar dari kereta super cepat yang membawaku dari kota Frankfurt ke Cologne, senyumku tersungging dari ujung telinga ke telinga satunya, mataku berbinar menahan air mata, hatiku berdegup kencang. Persis seperti ketika sedang jatuh cinta dan dimabuk asmara. Rasa lelah yang menyelimuti seakan sirna seketika, rinduku terbalaskan.

Aku tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagiaku, akhirnya aku berada di tempat yang berhasil membuatku jatuh cinta meski waktu itu hanya mampu melihatnya dalam lembaran kertas. Entah ini mimpi atau nyata, yang kutahu saat itu adalah aku sedang hidup dalam mimpiku, bukan lagi memimpikan hidupku.

Memaknai Cinta

Luh Manik Sinta Nareswari
Luh Manik Sinta Nareswari

Tidak hanya sibuk menikmati waktu berada di sana, aku juga turut mencari peruntungan untuk menemukan cinta. Mungkin saja cinta sejatiku berada di tempat yang membuatku jatuh cinta, selagi matahari masih terbit dari timur, semuanya mungkin saja terjadi.

Aku mulai mengunduh aplikasi kencan daring dengan harap mempertemukanku dengan sosok “dia”, aku mencoba membaur dengan seluruh teman-teman kursusku yang berasal dari seluruh belahan dunia. Hari berganti hari, ada sedikit perasaan yang tumbuh pada seorang teman satu kelas, mungkin karena intensitas pertemuan kami yang cukup tinggi dan kepiawaiannya dalam membawa diri; aku terbuai. Kenyataan pahit harus kuterima karena ternyata ia hanya tertarik untuk sebatas menjadi teman denganku, yang memiliki harapan lebih akan hubungan kami. Begitu pula dengan mereka lainnya, yang kukenal melalui dunia maya.

Memang sayang seribu sayang semesta belum mendukungku, meski entah sudah berapa banyak kenalan yang kutemui dan calon-calon kencan potensial yang tak berujung pasti, sampai aku kembali ke negeri sendiri aku masih sendiri.

Di saat aku terlalu menyibukkan diri dengan menemukan cinta di sana, di saat aku terlalu terpesona dengan hidup di kota impian untuk sementara. Semesta menyiapkan kejutan istimewa yang membawaku kepada cinta yang lainnya, cinta di atas bentuk cinta segalanya, self love.

Tanpa aku sadari sepanjang kisahku merajut asa di Cologne, aku semakin jatuh cinta mendalam terhadap Sinta, pada diriku sendiri. Aku memberikannya kepercayaan bahwa ia bisa melewati dan melalui semuanya, aku memberikannya kebebasan lebih untuk menjadi diri sendiri yang apa adanya meski berbeda. Aku sudah jauh lebih menerima keberadaan kekurangan yang ada pada diriku dan mengapresiasi kelebihanku, satu hal yang begitu sulit untuk dilakukan jauh sebelum aku pergi beribu kilometer jaraknya seorang diri.

Sejak di sanalah aku belajar untuk berteman baik dengan diriku sendiri, menjalin hubungan sehat dengan penuh rasa cinta. Memiliki rasa nyaman dan aman meski sendirian, cinta tidak melulu tentang pasangan, bukan?

Mungkin berada di Cologne selama satu bulan memang belum cukup untuk mendatangkanku seorang pujaan hati yang kuidamkan, tetapi siapa sangka perjalananku ke kota impian ini tidak hanya untuk menuntaskan rindu tetapi juga untuk menjalin cinta lebih dalam dengan diriku sendiri. Teruntuk kota Cologne dan Sinta yang penuh cinta, isch han disch jän (dalam dialek Kolsch dari kota Cologne, yang berarti aku mencintaimu). 

#ElevateWomen

Lanjutkan Membaca ↓