Mempertahankan Hubungan yang Berat Sebelah Bisa Membuat Batin Tersiksa

Endah Wijayanti05 Mar 2021, 07:15 WIB
Diperbarui 05 Mar 2021, 07:15 WIB
seribu cinta dan orang yang salah

Fimela.com, Jakarta Kita semua pernah punya pengalaman atau kisah tentang cinta. Kita pun bisa memaknai arti cinta berdasarkan semua cerita yang pernah kita miliki sendiri. Ada tawa, air mata, kebahagiaan, kesedihan, dan berbagai suka duka yang mewarnai cinta. Kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories Februari 2021: Seribu Kali Cinta ini menghadirkan sesuatu yang baru tentang cinta. Semoga ada inspirasi atau pelajaran berharga yang bisa dipetik dari tulisan ini.

***

Oleh: A

Aku adalah salah satu orang yang yakin bahwa Tuhan akan menjawab permintaanku dalam doa di waktu yang menurut-Nya tepat. Penantianku yang panjang akan datangnya seseorang yang tepat pun akhirnya terjawab saat dia datang menyapaku di media sosial.

Seorang pria yang sudah aku ketahui di kota perantauan tiga tahun yang lalu dengan beberapa kali pertemuan yang tidak sengaja. Aku mengingatnya karena wajahnya mengingatkanku dengan orang yang pernah dekat denganku saat duduk di bangku SMA. Sejak itu obrolan kami di media sosial terus berlanjut dan tidak butuh waktu lama bagi kami untuk mengatur waktu bertemu.

Pertemuan pertama kami saat itu berjalan mulus. Aku percaya dia adalah jawaban dari doaku selama ini. Dia datang di kehidupanku dengan segala kriteria pasangan yang aku idamkan. Aku rasa dia juga merasakan hal yang sama denganku, aku senang cintaku tidak bertepuk sebelah tangan. Namun, karena kota tempat tinggal kami yang berbeda, pertemuan kami tidak bisa lama dan harus berpisah kembali. Setelah pertemuan singkat itu, kami berdua tetap saling kontak dan mencari waktu yang tepat untuk bertemu kembali.

Dia pun datang kembali, mencariku, menghabiskan waktu bersama dan aku semakin jatuh hati lah kepadanya. Tidak ada hal yang salah di hubungan kami, karena kami berdua memiliki perasaan yang sama.

Hanya saja perbedaan kota ini membuat kami harus kembali berpisah untuk sementara waktu, kembali dengan rutinitas kehidupan kita masing-masing, dia dengan pekerjaannya dan aku dengan pekerjaanku. Meskipun terpisah ratusan kilometer, dia selalu menyempatkan waktu untuk menghubungiku, menghiburku, dan memperhatikanku. Kehadirannya di hidupku membuat kehidupanku benar-benar berwarna, hingga membuat aku memutuskan untuk berkunjung ke kota tempat tinggalnya.

Aku mulai melihat keseriusannya denganku saat dia mengenalkanku dengan sahabat–sahabat dekatnya dan memintaku untuk jadi pacarnya. Aku pun tidak berpikir dua kali saat mengiyakan, walaupun belum terlalu lama kami mengenal satu sama lain tapi aku tidak menemukan alasan untuk menolaknya.

Akhirnya dia menjadi pacar pertamaku, orang yang berhasil membuatku membuka hati setelah sekian lama. Banyak orang bilang long distance relationship bukanlah hal yang mudah. Kami pun mulai merasakannya saat bulan demi bulan kami lewati, banyak pertengkaran dan perbedaan pendapat yang kita alami sehingga membuat kami sering menyalahkan jarak. Ditambah lagi pada saat itu sedang maraknya virus corona, tapi kami berhasil melewati masa sulit itu dan akhirnya bertemu.

Mengakhiri Hubungan yang Berat Sebelah

seribu cinta dan cinta buta
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/kittirat+roekburi

Beberapa bulan belakangan, dia yang awalnya menunjukkan keseriusannya kepadaku perlahan mulai membuatku ragu karena dia merahasiakan hubungan kami dengan keluarganya serta kesibukannya dengan bisnis yang menyita waktunya hingga membuat kami jarang berbicara dari hati ke hati lagi. Dia pun menjelaskan kepadaku bahwa dia belum sepenuhnya siap untuk menjalani hubungan yang serius dan sikapnya berubah karena tuntutan pekerjaannya.

Aku mencoba memahaminya dan bersabar, tetapi ternyata gagal karena dia pun merasakan bahwa sikapku berubah. Tekanan dari teman, keluarga, serta pertengkaran dan perasaan yang tidak tersampaikan membuatku akhirnya memutuskan untuk merelakannya. Ternyata dia yang aku percayakan untuk hatiku belum sepenuhnya siap untuk berjalan dan berjuang bersama. Aku putuskan untuk memintanya fokus dengan bisnisnya, dengan harapan jika suatu saat kita bertemu lagi, mungkin kami bisa lanjutkan kembali.

Keputusan yang aku buat mungkin belum sepenuhnya bisa dia terima, dia terus menghubungiku dan membuatku mempertanyakan kembali keputusanku. Apakah yang aku lakukan ini memang sudah yang terbaik? Aku tidak tahu. Yang aku tahu hatiku sebenarnya masih berharap banyak dengannya.

Harapannya mungkin sama dengan harapanku, ingin bertemu kembali untuk membicarakan kembali hubungan ini. Namun ternyata dia berkata lain, dia mengakui bahwa memang hubungan kami tidak bisa dilanjutkan lagi untuk saat ini. Aku pun menerima dengan berat hati dan belajar bahwa untuk mempertahankan satu hubungan yang langgeng, diperlukan keinginan dari dua orang untuk saling bekerjasama dan berkorban.

Jadi apakah kita ini hanya bertemu pada waktu yang salah? Atau apakah cintaku jatuh pada orang yang salah?

#ElevateWomen

Lanjutkan Membaca ↓