Saat Kesedihan Begitu Pekat, Ini Tandanya untuk Lebih Mencintai Diri Sendiri

Endah Wijayanti05 Mar 2021, 10:15 WIB
Diperbarui 05 Mar 2021, 10:15 WIB
perempuan dan kesepian

Fimela.com, Jakarta Kita semua pernah punya pengalaman atau kisah tentang cinta. Kita pun bisa memaknai arti cinta berdasarkan semua cerita yang pernah kita miliki sendiri. Ada tawa, air mata, kebahagiaan, kesedihan, dan berbagai suka duka yang mewarnai cinta. Kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories Februari 2021: Seribu Kali Cinta ini menghadirkan sesuatu yang baru tentang cinta. Semoga ada inspirasi atau pelajaran berharga yang bisa dipetik dari tulisan ini.

***

Oleh: Nurul Azizah

Waktu ke waktu terasa panjang dan tanpa arti. Tiap kali terbangun, aku dapati diriku merasa gelisah dan berat hati. Pikiranku melayang pada bayangan diriku di masa depan.

“Akankah ada laki-laki yang benar-benar tulus mencintai dan menerimaku? Dengan segala keadaanku, benarkah laki-laki itu akan tetap menjadikanku satu-satunya di hatinya?” Keraguan itu datang kembali, bahkan hampir setiap pagi. Perasaan ini membuatku merasa kacau dan tak berharga.

Tak hanya berhenti di situ, berbagai pikiran tak mengenakkan pun datang menyusulnya. Ketika itu mulai terjadi, segera kupaksa diriku untuk bangun dan bergerak mengambil air wudu. Ya. Dia memang tempat terbaik untuk mengadu dan melepaskan segenap kepenatan kita. Kepada-Nya aku adukan segala hal yang membebaniku, tentang segala hal yang ku alami, tentang segala hal yang aku khawatirkan, dan tentang segala hal yang aku inginkan.

Sama halnya dengan kita tidak bisa memilih dari siapa kita dilahirkan, kita juga tidak bisa memilih untuk terlahir sebagai laki-laki atau perempuan. Bagiku terlahir sebagai seorang perempuan adalah hal yang menyenangkan sebelum aku mengenal berbagai keberagaman yang ada pada perempuan. Sebenarnya pun begitu juga dengan laki-laki. Hanya saja perempuan memiliki lebih banyak keragaman antara satu dengan yang lainnya, ditambah pula dengan banyaknya stereotipe yang melekat pada perempuan membuat identitas sebagai seorang perempuan terasa lebih memberatkan.

Semakin hari aku semakin menyadari betapa jauhnya diriku dari hal-hal yang disebut ideal oleh masyarakat secara umum. Setiap kali aku menatap ke dalam cermin, yang kudapati di sana adalah sosok wanita yang banyak sekali kurangnya. Ingin aku marah, mengucap ribuan sumpah serapah, dan bertanya-tanya mengapa harus aku yang mendapatkan ini semua.

Menyayangi Diri Sendiri Lebih Dalam Lagi

mencintai diri sendiri
Ilustrasi/copyright shutterstock/Roman Samborskyi

Segala hal yang aku miliki dan melekat pada diriku seakan tak ada yang aku sukai. Namun, aku menyadari, aku bukanlah satu-satunya orang yang merasa seperti ini. Ada banyak sekali perempuan di luar sana yang juga merasa tidak percaya diri dengan apa yang mereka miliki, sama sepertiku.

Lambat laun seiring berjalannya waktu, semakin aku menyadari kekuranganku, semakin pula aku tersadar bahwa itu di luar kuasaku. Memang bukan proses yang mudah dan cepat, bahkan membutuhkan waktu untuk menangis, murung dan meratap. Namun, itu adalah titik balik bagiku untuk berani menerima diriku seutuhnya.

Tentu tidak ada satu orang pun yang mau memiliki kekurangan sekecil apa pun. Tetapi, harus selalu diyakini, Tuhan Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk diri kita. Tugas kita adalah untuk bersyukur atas segala anugerah-Nya, merawat dan menjaga apa yang dititipkan-Nya, dan apa pun kekurangan yang kita miliki, yakinlah dengan seizin-Nya, tentu akan ada orang yang tulus ikhlas menerima dan mencintai kita, sebagaimana kita pun bisa tulus ikhlas menerima dan mencintai orang lain sepenuhnya. Karena sebelum mengharapkan cinta tulus orang lain, haruslah kita  menjadi orang pertama yang tulus mencintai diri kita dan percaya diri dengan segala hal yang kita miliki.

Semoga dengan keikhlasan kita untuk menerima diri, hari-hari yang kita jalani terasa lebih ringan dan menyenangkan hati. Kini aku telah tersadar dan aku akan mencintai diriku seribu kali.

#ElevateWomen

Lanjutkan Membaca ↓