Menjadi Ibu Harus Kuat agar Bisa Membesarkan Anak Perempuan Hebat

Endah Wijayanti05 Mar 2021, 10:45 WIB
Diperbarui 05 Mar 2021, 10:45 WIB
dekat anak

Fimela.com, Jakarta Kita semua pernah punya pengalaman atau kisah tentang cinta. Kita pun bisa memaknai arti cinta berdasarkan semua cerita yang pernah kita miliki sendiri. Ada tawa, air mata, kebahagiaan, kesedihan, dan berbagai suka duka yang mewarnai cinta. Kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories Februari 2021: Seribu Kali Cinta ini menghadirkan sesuatu yang baru tentang cinta. Semoga ada inspirasi atau pelajaran berharga yang bisa dipetik dari tulisan ini.

***

Oleh: RKW

Setiap orang tua selalu menginginkan segala yang terbaik dari diri anaknya. Selama sembilan bulan lebih mengandung, tentu besar harapan seorang ayah dan ibu untuk melihat malaikat kecil yang ia lahirkan lucu dan penuh dengan tawa bahagia. Bola mata bulat yang bening, kulit putih yang bersih, jari-jari kecil yang lembut, dan kaki-kaki mungil yang kuat adalah dambaannya sebagai ibu.

Aku begitu bersyukur, karena aku menjadi salah satu ibu yang beruntung mendapatkan buah hati seperti apa yang aku harapkan. Di tengah perjuangan dan keterbatasan ekonomi rumah tangga, aku dianugerahi oleh Allah seorang bayi perempuan mungil yang begitu cantik.

Meski di luar ekspektasi, mengingat kondisi ekonomi yang kurang memungkinkanku untuk mengonsumsi makanan bergizi, alhamdulillah malaikat kecilku lahir dengan tidak ada kekurangan sedikitpun. Aku memandangi setiap lekuk tubuhnya, alis yang tidak terlalu tebal, mata yang cantik, kulit yang bersih, dan segala keindahan lain yang tidak bisa aku jelaskan. Saat itu aku terlampau bahagia. Segala bentuk kekhawatiranku hilang, ketika aku mendengar suara tangisan putriku, dan tubuhnya yang hangat mulai menempel di atas dadaku.

Aku berjanji pada diriku sendiri untuk menyayanginya dengan sepenuh hati—sama seperti para ibu lainnya. Aku selalu berusaha menjadi ibu yang kuat di hadapannya. Meski aku seringkali mengeluh di saat sendiri, di depan putriku segala keluhan itu harus kusembunyikan rapat-rapat. Putriku harus tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang tangguh setangguh ibunya ketika mengandung dan melahirkan, dan sekuat ayahnya yang selalu bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan keluarga. 

Melakukan yang Terbaik untuk Putri Tercinta

anak
ilustrasi./Photo by Kenny Krosky on Unsplash

Bulan telah berganti. Putriku masih tampak baik-baik saja. Menurutku, ia tumbuh dan berkembang dengan baik. Satu hal yang membuatku agak sedikit aneh adalah kakinya dapat ditekuk-tekuk sesuka hati.

Aku pikir, dia memiliki kelebihan dibandingkan dengan anak-anak yang lain—memiliki badan yang lentur.  Hingga suatu ketika, ia terserang demam yang sangat tinggi. Aku tidak ingat betul berapa derajat celcius. Yang aku ingat hanya kepanikan karena untuk berobatpun aku tidak begitu punya banyak uang.

Melihat kondisi putriku yang semakin menurun, akhirnya aku memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit terdekat. Dokter memeriksa dengan jeli. Kaki putriku digerak-gerakkan. Setelah diperiksa, aku membawa pulang putriku. Aku masih berpikir positif bahwa ia hanya mengalami demam biasa.

Hari dan bulan berlalu. Demamnya telah hilang setelah ia meminum obat yang diberikan oleh dokter. Akan tetapi, ada hal aneh yang terjadi. Putriku belum bisa merangkak seperti anak-anak seusianya. Ia pun begitu lemas untuk menggerakkan kaki-kakinya. Jika diangkat, kaki kaki itu langsung terbanting ke tanah. Ia seperti tak punya kekuatan untuk menahannya.

Melihat perkembangannya yang kurang baik, akhirnya aku memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit lagi. Aku menyampaikan apa yang dialami putriku. Setelah semua pemeriksaan selesai, dokter memberitahuku sebuah hal yang begitu mengejutkan.

Aku tidak paham betul apa nama penyakitnya. Aku sulit untuk menjelaskannya karena menggunakan bahasa ilmiah. Putriku ternyata mengalami kelumpuhan. Saraf-saraf pada kakinya melemah. Itulah sebabnya dia masih belum bisa merangkak di usianya yang sekarang. Aku tidak bisa berkata-kata lagi. Detak jantungku seakan berhenti, darahku juga ikut membeku. Tidak tahu lagi apa yang harus aku perbuat saat itu.

Pikiranku hanya tertuju pada pikiran buruk bahwa Allah tidak adil. Suamiku berusaha tegar menerima kenyataan ini. Ia menguatkan dan meyakinkanku bahwa kita berdua adalah orang tua spesial karena harus mendidik dan merawat seorang putri yang juga kelak akan tumbuh dengan spesial. Aku tidak bisa berpikir. Dokter hanya menyarankan untuk melakukan terapi.

Hari demi hari berlalu. Aku masih saja kalut dengan pikiran dan keadaanku sendiri. Aku tidak mengerti lagi, membayangkan kelak bagaimana putriku akan menjalani kehidupan yang begitu keras. Di saat anak-anak yang lain tumbuh dengan sempurna, bisa berjalan, berlari, bahkan melompat, putriku mungkin hanya bisa duduk termenung di atas kursi rodanya, melihat dari kejauhan, mimpi dan keinginan yang nantinya hanya bisa ia simpan rapat-rapat. Setiap kali mengingatnya, hatiku terasa hancur. Bahkan, pikiranku sudah berimajinasi terlalu jauh. Bagaimana jika nantinya aku meninggal lebih dulu. Siapa yang akan menjaga dan merawatnya hingga ia kelak tumbuh menjadi dewasa.  

Berupaya Menjadi Ibu yang Baik

keluarga
ilustrasi./Photo by César Abner Martínez Aguilar on Unsplash

Perputaran dari dari bulan ke tahun aku lewati begitu saja. Lama-kelamaan, aku bosan dengan keluhan, sehingga aku memutuskan untuk mengubah pola pikirku sendiri tentang apa yang saat ini aku hadapi. Aku harus kuat jika ingin putriku juga tumbuh menjadi perempuan yang kuat. Aku harus menjadi ibu yang hebat jika ingin putriku kelak juga menjadi perempuan yang hebat. Aku tidak ingin di tengah segala bentuk keterbatasan yang ada, orang-orang jadi merendahkan.

Pada awalnya, putriku kesulitan untuk melakukan self service sendiri. Pergi ke kamar mandi, buang air kecil, mandi, naik ke atas kasur pun begitu kesulitan. Kadang aku merasa capek sendiri. Anak-anak seusianya yang sudah bisa pergi ke toilet sendiri dan mandi, ia masih harus banyak dibantu. Aku selalu menghela napas panjang dan beristighfar jika rasa lelah terhadap putriku sudah memuncak. Aku selalu meminta kepada Allah agar aku dikuatkan, dan tidak menyerah dengan keadaan. Bagaimanapun, ia adalah gadis kecil yang begitu aku sayangi. Putriku adalah titipan yang harus aku jaga hingga ia tumbuh menjadi gadis dewasa.

Sebagai ibu, aku selalu berusaha mengajarkan dia tentang makna hidup dan kebaikan Allah atas apa yang menimpa dirinya. Semuanya akan baik-baik saja. Ia harus punya mimpi dan cita-cita yang tinggi. Ia harus punya semangat yang membara untuk mengubah keterbatasan ini menjadi sebuah kebermanfaatan untuk semuanya.

Hingga saat ini, dia masih harus berjuang dan berusaha dengan rasa lemahnya untuk bisa melakukan semuanya sendiri. Aku tidak pernah meninggalkannya. Hanya saja, aku tidak selalu memberikan bantuan ketika ia menginginkan sesuatu. Aku ingin ia belajar untuk percaya, bahwa ia bisa seperti anak-anak pada umumnya. Meskipun aku seringkali menahan isak tangis ketika melihat dia tidak bisa melakukan atau bahkan sekedar meraih sesuatu. Lagi-lagi aku biarkan, hingga dia benar-benar tidak bisa.

Rasa sabarku untuk gadis kecil itu kadang naik dan turun. Namun, rasa cinta dan sayangku untuknya seribu kali lipat, entah bagaimanapun keadaan dan kondisinya rasa itu tidak akan pernah berkurang meski hanya setetes pun.

Darinya aku belajar bahwa aku dan suamiku adalah orang tua yang hebat. Hebat bukan karena sudah mampu mendidiknya dengan benar, tetapi hebat karena sampai dengan detik ini ia masih bisa tersenyum bahagia. Melihat senyumnya yang selalu mengembang adalah anugerah terbesar yang diberikan Allah. Aku berharap, aku diberikan usia yang panjang. Lebih panjang dari usia gadis kecilku.

Aku pun berharap, semoga setiap asa dan keinginannya dapat terwujud. Meski harus tertatih, aku yakin ia bisa menjadi gadis kebanggaan orang tuanya. Saat ini aku tidak banyak berharap. Semoga dia bisa memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa harus mengiba kasihan dari orang lain.

#ElevateWomen

Lanjutkan Membaca ↓