Dari Bus Malam Menuju Pelaminan, Jatuh Cinta Berulang dalam Pernikahan

Endah Wijayanti09 Mar 2021, 13:15 WIB
Diperbarui 09 Mar 2021, 13:15 WIB
adat menikah pasangan jurep

Fimela.com, Jakarta Kita semua pernah punya pengalaman atau kisah tentang cinta. Kita pun bisa memaknai arti cinta berdasarkan semua cerita yang pernah kita miliki sendiri. Ada tawa, air mata, kebahagiaan, kesedihan, dan berbagai suka duka yang mewarnai cinta. Kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories Februari 2021: Seribu Kali Cinta ini menghadirkan sesuatu yang baru tentang cinta. Semoga ada inspirasi atau pelajaran berharga yang bisa dipetik dari tulisan ini.

***

Oleh: Titis Widawati

Kutulis sepenggal kisah cinta sederhana ini dengan penuh syukur, menjadikannya arsip istimewa, setidaknya bagi kami, pemilik kisah itu sendiri.  Kisah ini berawal dari bus malam antarkota lintas provinsi yang mempertemukan dua pribadi dalam satu bangku ekonomi yang tidak begitu nyaman diduduki. Menjadi satu-satunya pilihan tempat duduk yang tersisa, begitulah rahasia Tuhan mempertemukan kami.

"Pacarnya, ya?" sapanya pertama kali, setelah melihat seorang lelaki yang mengantarkanku berlalu. Pertanyaan ini terdengar kurang sopan di telingaku, membuat perasaan kurang nyaman dan sedikit meresahkan.

"Bukan," jawabku spontan, karena memang bukan. Aku merasa tidak perlu menjelaskan bahwa lelaki yang ditanyakannya adalah mantan pacarku, karena menurutku orang asing memang tidak berhak mendapat penjelasan apa pun.  Aku telah memutuskan hubungan berpacaran dengan lelaki yang dimaksudnya itu kisaran sebulan sebelumnya, tetapi hubungan pertemanan kami masih tetap baik. Tidak pernah kusangka, justru dialah yang akan mengantarku menemui jodohku. Terima kasih untuknya. 

Sepuluh jam perjalanan bukanlah waktu yang singkat. Duduk di kursi tanpa sekat dengan lawan jenis sebenarnya sedikit membuatku kurang nyaman dan menjadi salah tingkah. Aku sering mengalihkannya dengan memainkan berkas hasil penelitian skripsi yang ada di pangkuanku yang rencananya akan kurekap dan kuolah hasilnya selama menjalani libur semester di kampung halaman. Namun, entah apa yang membuatku tetap terjaga sepanjang perjalanan, mungkin karena aku merasa berada dalam ruang bercerita dan diskusi  di gelombang dan frekuensi yang sama. Pembicaraan mengalir begitu saja mengalihkan kantuk dan berujung saling bertukar akun email, aku belum memiliki ponsel waktu itu.

Setelah pertemuan di bus malam itu, setelah libur semesterku usai, pembicaraan kami lanjutkan via email. Aku jadi rajin mengerjakan tugas-tugas kuliah di warnet, bukan karena tugasnya banyak, tetapi karena di situlah aku bisa menyapa dan berbicara banyak melalui obrolan  via email dengannya. Berjalannya waktu, kami putuskan kembali bertemu setelah enam bulan kemudian.

Bersama dalam Pernikahan

menikah yang dimudahkan
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Aku tidak begitu mengingat wajahnya waktu bertemu pertama kali di bus, karena gelap malam menghalangi sebagian pandanganku. Namun, sekali kubiarkan hatiku terjatuh pada pribadinya, teduhnya membuat hati ini enggan beranjak lagi.

Sekalipun berusaha bangkit, selalu terjatuh kembali di tempat yang sama. Entah mengapa, sejak mengenalnya, pintu hatiku tertutup rapat untuk sosok lain. Seringnya mengulang rasa dan terjatuh di hati yang sama, membuat kami sepakat mengikat semua rasa dalam ikatan pernikahan. Dia sudah bekerja, dan kami menikah setelah aku menyelesaikan wisuda sarjanaku. 

Berdua memegang kunci janji pernikahan dan membuka pintu rumah tangga, masuk dalam dunia baru yang jelas berbeda dan nyata. Aku kehilangan rasa rindu menggebu, karena dia selalu ada di sisiku, mulai saat terbangun di pagi hari, hingga menutup mata di malam hari. Perbedaan kebiasaan, benturan kepentingan, gesekan pendapat, perbedaan selera masakan, aroma sabun mandi, warna cat rumah hingga dalam hal pekerjaan, mengasuh anak, mulai bermunculan satu per satu.

Bahkan ketika suami harus kehilangan pekerjaan, yang membuatku harus menggantikan perannya, aku tetap bisa berdiri tegar dan memeluknya erat. Marah, sedih, jengkel, kecewa, sering membuat pertahananku porak poranda, namun rasa cinta, komitmen, dan tanggung jawab membuat kami terus sanggup berjalan melaluinya. Bahkan masih ada banyak hal yang masih bisa kami tertawakan bersama, segala perselisihan berakhir dengan tetap saling berpelukan.

Hingga kini aku semakin mengerti, bahwa pernikahan bukan sekadar memadukan dua pribadi yang sedang jatuh cinta, tetapi lebih dari itu, harus siap berkomitmen, menuntut setia dan bertanggung jawab. Dan di atas semuanya itu, harus ada landasan iman yang akan menjaga dan merawat sebuah pernikahan. Bunga-bunga yang mulai layu dan kering harus mulai diremajakan kembali, agar berbunga indah kembali.

Rasa rindu yang berubah bosan perlu diramu ulang dengan bumbu-bumbu baru yang akan membuat jatuh cinta lagi dan mengulang berpacaran lagi di dalam masa pernikahan. Jika aku memulai hari dengan mencintai lelaki di sampingku setiap pagi, sudah lebih seribu kali aku mencintai lelaki yang sama, selama delapan belas tahun masa pernikahan kami. Menikahi orang yang dicintai itu sudah biasa, tetapi tetap mencintai orang yang dinikahi apa pun keadaannya, itu baru sesungguhnya cinta.

Banyuwangi, 4 Maret 2021

#ElevateWomen

Lanjutkan Membaca ↓