Konflik Tak Kunjung Usai, Anak-anak di Mali Belajar Lewat Radio

Karla Farhana07 Apr 2021, 15:30 WIB
Diperbarui 07 Apr 2021, 15:30 WIB
Anak-anak di afrika

Fimela.com, Jakarta Mali, salah satu wilayah konflik di Afrika belum juga aman. Apalagi di daerah Mali Tengah dan Mali Utara. Anak-anak di sana akhirnya kesulitan untuk mendapatkan akses kesehatan dan juga pendidikan. Akhirnya, 300.000 orang mengungsi, dan setengah dari mereka adalah anak-anak. 

Krisis kemanusiaan yang berkepanjangan ini diperparah dengan adanya pandemi COVID-19. Hal ini menggerakkan UNICEF untuk mendistribusikan radio bertenaga surya di derah yang terdampak konflik. Perangkat ini memberikan harapan baru kepada mereka yang mungkin putus sekolah karena pandemi dan juga krisis kemanusiaan. 

UNICEF membagikan radio tenaga surya tersebut kepada mereka yang membutuhkan. Satu radio bisa digunakan hingga 15 siswa. Salah satunya Aichata. Siswi 15 tahun ini tadinya bersekolah di desa Diabaly. Beberapa bulan setelah sekolahnya tutup, ayahnya memutuskan keluarganya untuk pindah ke kota Segou. 

Di sini, dia bersekolah di Adama Dagnon, yang memiliki radio bertenaga solar, sehingga Aichata dan teman-teman sekelasnya bisa tetap belajar. 

"Saya bisa masuk kelas dengan radio ini. Ini sangat membantu saya mengejar ketertinggalan materi," katanya kepada UNICEF. 

Menjadi Relawan Tenaga Pengajar

Afrika
Ilustrasi anak-anak di Afrika | pexels.com/@shelaghmurphy

Bukan hanya Aichata yang terbantu dengan program sekolah lewat radio bertenaga solar ini. Educo, salah satu partner UNICEF di Segou dan Mopti, bertugas untuk mengidentifikasi apa saja yang bisa mereka manfaatkan dari radio tersebut. Dia bekerja di sekolah untuk mendistribusikan radio dan memonitor hasilnya. 

"Kami mengunjungi rumah-rumah untuk memastikan anak-anak menggunakan radio tersebut. Tapi juga melihat sampai mana kemajuan dari sekolah ini," kata Dioukou Konate, head of Educo’s humanitarian project untuk Segou. 

#eleavate women

Lanjutkan Membaca ↓