6 Sinyal Tubuh yang Menjadi Pertanda Harus Berhenti Minum Kopi

Fimela Editor14 Apr 2021, 07:30 WIB
Diperbarui 14 Apr 2021, 07:30 WIB
Ilustrasi secangkir kopi

Fimela.com, Jakarta Bagi sebagian orang, minum kopi merupakan rutinitas harian yang tak boleh terlewatkan. Sebab, tanpa kopi akan mengganggu mood hingga kinerja mereka.

Meskipun ada banyak manfaat dari minum kopi, tetapi mengonsumsinya secara berlebihan juga dapat berdampak buruk pada kesehatan tubuh Anda.

Ahli nutrisi di Columbia, Kylie Ivanir, menyarankan bahwa orang dewasa harus membatasi asupan kafein mereka, paling banyak 400 mg per hari, yaitu sekitar tiga hingga lima cangkir kopi seduh berukuran 200 ml.

Khususnya untuk kelompok individu tertentu, seperti yang menderita hipertensi, insomnia, hingga gangguan kecemasan harus membatasi asupan kopi mereka. Berikut 6 sinyal tubuh yang menjadi pertanda harus berhenti minum kopi, seperti yang dilansir Eat This, Not That!.

1. Punya tekanan darah tinggi

Ahli nutrisi di Sharp Hospital, Sandy Younan Brikho, mengingatkan bagi kamu yang memiliki tekanan darah tinggi (hipertensi) untuk berhenti minum kopi secepatnya. Sebab, kafein dalam kopi bisa menyebabkan peningkatan tekanan darah Anda.

"Penelitian menyebutkan bahwa asupan kopi yang tinggi di antara orang yang memetabolisme kopi secara perlahan menyebabkan peningkatan tekanan darah," tuturnya.

Untuk Anda yang menderita tekanan darah tinggi, konsultasikan dengan dokter Anda. Kemungkinan inilah saatnya untuk menghentikan kebiasaan minum kopi Anda selamanya.

2. Mengalami GERD

Kafein dapat memicu GERD. Asupan kopi, teh, dan soda (semua minuman yang berkafein) telah dikaitkan dengan peningkatan risiko gejala gastroesophageal reflux.

"Menghilangkan minuman berkafein adalah pedoman dari Asosiasi Gastroenterologi Amerika untuk manajemen GERD," kata Annamaria Louloudis, ahli nutrisi dan pendiri Louloudi Nutrition.

3. Mengalami insomnia atau kurang tidur

Hentikan kebiasaan minum kopi jika kamu sedang mengalami insomnia. Pasalnya, kafein hanya akan memperburuk kondisi gangguan tidur pada tubuh seseroang.

"Karena kandungan kafeinnya yang tinggi, konsumsi kopi enam jam, atau kurang, sebelum tidur telah dikaitkan dengan efek mengganggu pada tidur dan peningkatan insomnia," kata Louloudis.

Jika Anda kesulitan untuk menghentikan kebiasaan tersebut, Louloudis menyarankan untuk mengubah kebiasaan minum Anda menjadi lebih awal di hari itu dan mengurangi ukuran porsi.

 

4. Mengalami gangguan kecemasan

kopi
ilustrasi secangkir kopi/Photo by Nathan Dumlao on Unsplash

Louloudis mengungkapkan, karena kandungan kafein yang tinggi, minum terlalu banyak kopi dapat menyebabkan peningkatan gejala kecemasan termasuk jantung berdebar-debar, sakit kepala, gemetar, dan insomnia.

"Seseorang yang memiliki gangguan kecemasan sangat sensitif terhadap efek negatif kafein ini," katanya, mengutip sebuah studi.

5. Berat badan bertambah

Menurut Younan Brikho, minum kopi menyebabkan rasa kenyang. Sehingga seringkali, perasaan kenyang ini membuat Anda melewatkan waktu makan atau ngemil.

"Begitu perasaan kenyang ini hilang, perut Anda kosong dan seringkali orang kelaparan. Hal ini menyebabkan banyak orang makan berlebihan pada waktu makan berikutnya karena mereka sangat lapar." ujar dia.

 

6. Haid tidak teratur

masker kopi
ilustrasi kopi/Photo by Mike Kenneally on Unsplash

Ahli diet kinerja di FWDfuel Sports Nutrition, Abby Vichill, mengungkapkan bahwa tanda kamu minum terlalu banyak kopi adalah ketidakteraturan menstruasi.

Beberapa orang terkadang minum kopi sebagai pengganti makanan. Padahal, cara ini tidak sehat untuk menurunkan berat badan dan dapat memengaruhi siklus menstruasi.

Pasalnya, kortisol (hormon stres) secara alami sudah tinggi di pagi hari, ketika Anda memiliki gula darah rendah karena tidak sarapan dan minum kopi, akan menyebabkan peningkatan kortisol.

"Ketika tubuh merasakan tingkat kortisol yang tinggi, otak akan memberi sinyal kepada tubuh bahwa ia dalam keadaan bahaya dan akan menghentikan reproduksi dalam upaya untuk tidak menempatkan janin yang sedang tumbuh dalam lingkungan yang stres.” jelas Vichill.

Penulis: Hilda Irach

Lanjutkan Membaca ↓