Virus Corona E484K Ditemukan di Indonesia, Turunkan Efikasi Vaksin COVID-19?

Vinsensia Dianawanti06 Apr 2021, 11:30 WIB
Diperbarui 06 Apr 2021, 14:12 WIB
virus corona covid-19

Fimela.com, Jakarta Kementerian Kesehatan RI melalui Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kemenkes RI Siti Nadia Tarmizi mengonfirmasi adanya temuan virus corona varian baru E484K di Indonesia. Nadia menyebut pasien yang terinfeksi virus corona E484K saat ini sudah dalam kondisi yang sehat.

Virus corona E484K menjadi mutasi virus yang terjadi pada varian berbeda dan telah ditemukan sebelumnya di Afrika Selatan dan Brasil. Mutasi sendiri terjadi karena lonjakan protein dan bisa berdampak pada respon kekebalan tubuh hingga efektivitias vaksin.

Penny Moore dari National Institute for Communicable Disease Afrika Selatan menyebut virus Corona E484K terbilang mengkhawatirkan. Virus corona varian E484K disebut sebagai mutan lolos karena terbukti dapat melepaskan antibodi yang diproduksi oleh vaksin.

"Kami khawatir mutasi ini akan berdampak, dan yang tidak kamu ketahui adalah sejauh mana dampaknya," ungkap Penny Moore.

 

Menyebar begitu cepat.

Positif Covid-19 Meningkat, Gedung Sekolah di Indramayu Dijadikan Ruang Isolasi
ilustrasi virus corona covid-19 copyright by diy13 (Shutterstock)

Peneliti di Fred Hutchinson Cancer Center di Seattle menguji E484K untuk melihat bagaimana kemampuan antibodi menetralkan varian ini. Mereka menguji ini terhadap antibodi yang dibuat oleh vaksin COVID-19.

Sejak kemunculannya pertama kali di Afrika Selatan, virus corona E484K kini telah ditemukan di 12 negara lainnya, seperti Inggris, Botswana, Perancis, Australia, Jerman, Swiss, Jepang, Swedia, Korea Selatan, Finlandia, Irlandia, dan Belanda. Terbaru, ditemukan virus varian ini di Indonesia.

 

Virus mampu beradaptasi

Sigal, peneliti asal Afrika Selatan menyebut bahwa virus corona E484K menyebar begitu cepat ke seluruh dunia. Setiap kali menyebar dari orang ke orang, virus tersebut mendapat kesempatan lain untuk bermutasi.

Menurut virologi asal Rockefeller University Paul Beiniasz, virus ini mendapat kesempatan lebih banyak untuk belajar bagaimana menjadi kebal terhadap vaksin. Virus ini menunjukkan bahwa dia bisa beradaptasi dan dalam aturan pertama virologi, jangan meremehkan virus.

Simak video berikut ini

#Elevate Women

Lanjutkan Membaca ↓