Studi: Sepertiga Pasien Alami Gangguan Saraf dan Kejiwaan Usai 6 Bulan Terinfeksi Corona

Karla Farhana14 Apr 2021, 08:00 WIB
Diperbarui 14 Apr 2021, 08:00 WIB
Pasien Corona

Fimela.com, Jakarta Siapa sangka infeksi akibat SARS-CoV-2 yang merupakan virus penyebab Corona memiliki hubungan erat dengan kondisi otak pasien. Sebuah studi observasi terbaru yang dilakukan Maxime Taquet dkk dan dipublikasi pada jurnal the Lancet Psychiatry menunjukkan sepertiga pasien, 6 bulan usai terinfeksi Corona, mengalami gangguan neurologis atau saraf dan juga psikiatrik atau kejiwaan. 

Sebelumnya, Taquet dan peneliti lainnya melakukan penelitian terhadap sebuah data yang diambil dari rekam medis elektronik yang memuat lebih dari 81 juta pasien. Para peneliti tersebut kemudian membaginya menjadi beberapa kelompok yang terdiri dari 236.379 pasien yang didagnonasi terinfeksi Corona, 105.579 pasien mengidap influenza, dan kelompok terakhir terdiri dari 236.038 pasien yang didiagnosa mengalami infeksi saluran pernapasan sekalogus influenza. 

Penelitian ini kemudian menunjukkan, dalam 6 bulan setelah infeksi SARS-CoV-2, sekitar sepertiga orang mengalami gangguan saraf atau psikiatrik/ kejiwaan. Selain itu, sebagian besar gangguan saraf atau psikiatri ini dinilai lebih umum pada pasien yang menderita Corona daripada mereka yang menderita influenza dan pasien yang mengidap infeksi saluran pernapasan. 

Kondisi kejiwaan yang paling umum pada pasien adalah kecemasan dan gangguan suasana hati (mood). Sementara, insiden pasien mengalami pendarahan otak, stroke seismik, dan demensia lebih rendah. 

 

Perlunya Sistem Kesehatan yang Menyoroti Kesehatan Mental Pasien Corona

Corona
Ilustrasi Pandemi Corona | pexels.com/@cottonbro

Menurut Professor Paul Harrison, pimpinan penelitian dari departemen psikiatri di Oxford, penelitian tersebut menekankan pentingnya sistem kesehatan agar dilengkapi sehingga bisa menangani potensi angka gangguan saraf yang lebih tinggi pada pasien Corona yang sudah sembuh. 

"Ini adalah data real dari jumlah pasien yang besar. Mereka mengonfirmasi tingginya tingkat diagnosis psikiatri setelah Covid-19, dan (studi ini) menunjukkan bahwa gangguan serius yang memengaruhi sistem saraf (seperti stroke dan demensia) juga terjadi. Sementara yang terakhir jauh lebih jarang, mereka signifikan, terutama pada mereka yang menderita Covid-19 parah," katanya seperti dikutip dari CNBC. 

Sementara, Taquet mengatakan perlu diadakan studi lanjutan untuk melihat apa yang terjadi pada pasien setelah 6 bulan. 

#elevate women

Lanjutkan Membaca ↓