Deja vu adalah Bentuk Pengulangan Perasaan, Ketahui Alasannya

Imelda Rahma12 Apr 2021, 19:31 WIB
Diperbarui 13 Apr 2021, 09:40 WIB
Deja Vu

Fimela.com, Jakarta Pernahkah kamu merasakan seperti sudah mengalami suatu kejadian tertentu atau merasa familiar dengan sesuatu? Kejadian demikian sering disebut dengan deja vu. Fenomena ini bisa dirasakan oleh siapa pun tanpa terkecuali.

Sudah ada banyak penelitian yang dilakukan tentang deja vu. Tentu saja hasilnya berbeda-beda. Namun, ada sejumlah peneliti yang sepakat menilai tentang fenomena ini.

Lalu sebenarnya apa yang dimaksud dengan deja vu? Kenapa seseorang bisa mengalaminya? Beberapa peneliti menyebutkan bahwa setidaknya ada tiga penyebab deja vu. Agar kamu bisa lekas mengenali apakah yang kamu rasakan termasuk deja vu atau tidak.

Untuk itu, Fimela.com kali ini akan mengulas pengertian déjà vu dan alasan mengapa seseorang bisa mengalaminya. Dilansir dari Merdeka.com, simak ulasan selengkapnya berikut ini.

Seputar Deja Vu

Seputar Deja Vu
Ilustrasi Deja Vu Credit: shutterstock.com

Deja vu berasal dari bahasa Perancis yang berarti "telah melihat, atau "telah menyaksikan". Kata deja vu pertama kali dicetuskan oleh seorang psikologi berkebangsaan Perancis bernama Emile Boirac pada tahun 1876 di dalam bukunya "L'Avenir des Sciences Psichyques".

Dalam hal ini deja vu adalah perasaan familiar terhadap sesuatu atau merasa seolah-olah dirinya sudah pernah melihat pada masa lampau sesuatu peristiwa yang sedang dialaminya pada hari ini.

Seiring berjalannya waktu deja vu terus mengalami perkembangan sehingga dibedakan dalam beberapa sub bagian seperti deja vecu (telah mengalami), deja senti (telah memikirkan) dan deja visite (telah mengunjungi).

Dalam fenomena deja vu indera memainkan peranan penting dalam menjalankan fungsi otak pada manusia. Tanpa indera otak manusia tidak akan mampu berfungsi sebagaimana mestinya atau dengan kata lain semakin tajam indera manusia maka semakin terasah pula otak menjalankan fungsinya.

Dalam hal ini deja vu menjadi contoh di mana indera mempunyai ketertarikan signifikan dengan fungsi otak manusia. Deja vu juga menjadi bukit bahwa setiap stimulus yang dipancarkan oleh alam ditangkap oleh indera manusia dan menimbulkan respon baik sadar atau subliminal.

Alasan Mengapa Seseorang Mengalami Deja Vu

Alasan Mengapa Seseorang Mengalami Deja Vu
Ilustrasi Deja Vu Credit: shutterstock.com

1. Kamu Sering Jalan-Jalan

Alasan kamu mengalami deja vu yang pertama adalah kamu termasuk orang yang sering jalan-jalan. Orang-orang yang kerap bepergian dan mereka yang dapat mengingat mimpinya cenderung lebih mungkin mengalami deja vu, daripada mereka yang suka berdiam diri di rumah saja.

Orang-orang ini dapat menggunakan berbagai sumber imajinasi mereka. Misalnya menginjak Selandia Baru dan melihat pemandangan gunung es. Setibanya di Swiss, mereka tiba-tiba merasa deja vu lantaran sudah melihat hal yang nyaris serupa di Selandia Baru.

2. Pernah Berada di Tempat yang Sama

Alasan kamu mengalami deja vu berikutnya adalah kamu pernah berada di tempat yang sama. Beberapa peneliti percaya bahwa deja vu terpicu ketika kamu memasuki lingkungan yang mirip dengan apa yang pernah kamu alami di masa lalu.

Misalnya, kamu dapat mengalaminya ketika memasuki lobi hotel tempat perabotan dikonfigurasi dengan cara yang sama seperti ruang keluarga di rumah masa kecil kamu.Peneliti menguji teori itu dalam penelitian 2009 yang diterbitkan dalam jurnal Psychonomic Bulletin & Review. Para peneliti menyimpulkan bahwa mungkin ada hubungan antara deja vu dan perasaan keakraban.

3. Ada Sesuatu dengan Otak

Beberapa orang yang memiliki epilepsi lobus temporal (sejenis epilepsi yang terjadi di bagian otak yang menangani memori jangka pendek) mengalami deja vu tepat sebelum mereka mengalami kejang. Itu sebabnya beberapa ahli berpikir deja vu dipicu oleh semacam gangguan dalam penembakan neuron di otak.

Lanjutkan Membaca ↓