Chauvinisme adalah Perwujudan Sikap Fanatisme, Ketahui Dampak Positif dan Negatifnya

Imelda Rahma16 Apr 2021, 11:44 WIB
Diperbarui 16 Apr 2021, 12:32 WIB
Demonstrasi

Fimela.com, Jakarta Chauvinisme adalah sebuah bentuk dari perasaan cinta, bangga, loyalitas yang tinggi, fanatisme atau kesetiaan pada suatu Tanah Air atau negara tanpa mempertimbangkan pandangan dari orang lain tentang suatu bangsa lain.

Bisa dikatakan juga, chauvinisme adalah sebuah ajaran dan paham tentang fanatisme seseorang terhadap Tanah Air yang berlebihan. Sehingga merendahkan kualitas negara lain atau menganggap bangsa lain sebagai bangsa yang tidak bagus di mana paham seperti ini cenderung menimbulkan lebih banyak kontra yang kontroversial dan pandangan buruk dari bangsa lain terhadap bangsanya sendiri.

Meski bisa memberi dampak positif, beberapa dampak negatif dari chauvinisme adalah konflik yang bisa saja timbul akibat tidak dapat menerima perbedaan pendapat dan selalu merasa lebih baik dari bangsa lain.

Untuk lebih jelasnya, Fimela.com kali ini akan mengulas pengertian chauvinisme beserta dampak positif dan negatifnya. Dilansir dari Liputan6.com, simak ulasan selengkapnya berikut ini.

Seputar Chauvinisme

Seputar Chauvinisme
Ilustrasi Demonstrasi Credit: pexels.com/Allegra

Mengutip Macmillan (2015), chauvinisme adalah kepercayaan pada superioritas atau dominasi kelompok atau orang sendiri yang dipandang kuat dan berbudi luhur. Sementara yang lain dianggap lemah atau tidak berharga.

Kemudian, jika merujuk pernyataan ahli teori politik Hannah Arendt (1945), konsep chauvinisme adalah produk yang bentuknya hampir sama dari konsep nasional, sejauh ia bersumber langsung dari gagasan lama tentang "misi nasional".

Istilah chauvinisme sendiri, apabila merujuk pada sejarah sebenarnya mulai muncul sekitar tahun 1960. Awalnya, chauvinisme dikenal sebagai bentuk dari pandangan agresif pria terhadap wanita. Chauvinisme dicetuskan oleh tokoh bernama Nicolas Chauvin. Dirinya merupakan seorang tentara setia dari Napoleon Bonaparte. Bahkan, meski Napoleon kalah kala itu, Chauvin masih tetap setia kepadanya.

itulah mengapa, istilah tersebut akhirnya muncul dengan sebutan mirip nama Chauvin. Jika melihat lebih jauh lagi, sebenarnya pengertian Chauvinisme ada berbagai macam menurut para ahli.

Seperti chauvinisme menurut St. Times. Menurutnya, chauvinisme adalah rasa cinta tanah air secara berlebihan dengan mengagung-agungkan bangsa sendiri sehingga merendahkan bangsa lain. Begitu juga menurut Inovania, chauvinisme adalah sebuah istilah yang dipergunakan merujuk pada sebuah kesetiaan yang ekstrem terhadap sesuatu tanpa mempertimbangkan alternatif lain. 3 dari 6 halaman

Ciri - Ciri Sikap Chauvinisme

Ciri - Ciri Sikap Chauvinisme
Ilustrasi Demonstrasi Credit: pexels.com/Kaia

Tidak hanya sampai pada konsep dari chauvinisme itu sendiri, ada baiknya untuk memahami juga gambaran mengenai ciri dari sikap chauvinisme tersebut. Berikut ciri dari sikap chauvinisme:

1. Sikap Fanatik Terhadap Bangsa dan Negaranya dengan Berlebihan

Salah satu ciri sikap chauvinisme adalah menunjukkan sikap fanatik yang berlebihan terhadap bangsa serta negaranya. Pasalnya, seseorang yang menganut konsep chauvinisme sangat percaya jika ras dan bangsanya adalah yang terbaik dari yang terbaik. Maka tidak heran jika penganut konsep chauvinisme membuatnya merasa superior dan berhak atas orang lain.

2. Memandang Rendah dan Menindas Ras serta Bangsa Lain

Kemudian ciri kedua dari sikap chauvinisme adalah memandang ras dan bangsa lain lebih rendah darinya. Bahkan tidak ragu-ragu untuk melakukan sebuah penindasan. Hal tersebut yang pada akhirnya jadi latar belakang seseorang melakukan tindakan rasis pada orang lain hanya karena menganggap dirinya lebih baik dan berhak atas mereka yang memiliki perbedaan seperti, warna kulit, mata dan lain sebagainya.

3. Punya Pemimpin Revolusionis dan Dikktatoris

Selanjutnya, ciri yang ketiga dari penganut chauvinisme adalah dipimpin oleh seorang pemimpin yang memiliki kecenderungan revolusionis dan diktatoris. Revolusionis yang dimaksud adalah memimpin dengan kekerasan. Sedangkan diktator maksudnya tidak memimpin secara demokratis dan pemimpin tersebut punya kekuasaan sangat mutlak serta tidak bisa diganggu gugat oleh siapa saja.

Dampak Positif dari Chauvinisme

Dampak Positif dari Chauvinisme
Ilustrasi Kerjasama Tim Credit: pexels.com/Kiddo

Meski merupakan salah satu konsep yang sudah sangat lama ada, serta erat kaitannya dengan pandangan hidup suatu negar. Chauvinisme adalah salah satu konsep yang punya dampak positif bagi kehidupan.

Tapi memang, tidak terlalu banyak dampak positif dari konsep chauvinisme tersebut. Adapun dampak positif chauvinisme adalah mampu mempersatukan warga negara menjadi satu kesatuan yang tunduk akan pemerintahan.

Umumnya, ketika menganut konsep ini, bangsa atau suatu negara bisa terhindar dari konflik internal. Pasalnya, hampir semua warga negaranya tunduk serta memberi kepercayaan yang sangat besar pada pemerintah.

Dampak Negatif dari Chauvinisme

Dampak Positif dari Chauvinisme
Ilustrasi Dampak Negatif dari Chauvinisme Credit: pexels.com/Robin

Selain dampak positif yang bisa didapatkan, ada beberapa dampak negatif dari konsep chauvinisme adalah sebagai berikut:

  • Berpotensi merusak perdamaian dunia.
  • Jadi alasan seorang pemimpin punya keyakinan besar untuk menyerang bangsa lain demi kekuaasaan.
  • Menjadikan seseorang tidak bisa berpikir hal-hal baik tentang bangsa lain.
  • Pemicu pertentangan dan peperangan antar bangsa dan negara.
  • Menjadikan jiwa seseorang lebih tertutup dan sulit bersosialisasi.
  • Jadi penyebab seseorang untuk melupakan konsep Ketuhanan yang Maha Esa.
Lanjutkan Membaca ↓