Perjalanan Panjang Sembuh dari Trauma, Ada Harapan yang Kunyalakan

Endah Wijayanti19 Apr 2021, 08:45 WIB
Diperbarui 19 Apr 2021, 08:45 WIB
luka pudar

Fimela.com, Jakarta Selalu ada cerita, pengalaman, dan kesan tersendiri yang dirasakan tiap kali bulan Ramadan datang. Bahkan ada kisah-kisah yang tak pernah terlupakan karena terjadi pada bulan suci ini. Tiap orang pun punya cara sendiri dalam memaknai bulan Ramadan. Tulisan kiriman Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Berbagi Cerita tentang Indahnya Ramadan di Share Your Stories Bulan April ini pun menghadirkan makna dan pelajaran tersendiri.

***

Oleh:  Ayu Anggraini Surya Budhi

Tepat di bulan April,  tahun 2021,  menjelang bulan puasa saya berhasil menyelesaikan sebuah buku yang paling bersejarah dalam hidup saya. Alhamdulillah, itulah kata pertama yang bisa saya ucapkan setelah menyelesaikannya, dan optimis bahwa buku ini akan menjadi perpanjangan tangan Tuhan untuk banyak orang di luar sana. Buku ini disebut-sebut sebagai buku pertama yang membahas mengenai kelainan kepribadian di Indonesia dan mengangkat masalah yang ada di tengah masyarakat saat ini. 

Saya berasal dari Sumatera Utara dan dibesarkan dalam lingkungan yang penuh kekerasan, dan seringkali kekerasan tersebut dianggap budaya masyarakat di sana. Semakin lama saya merasakan banyaknya hal hal yang bertentangan dengan hati nurani dari cara didik atau pola asuh kedua caretakers yang menjaga saya dan membesarkan saya, terutama kejadian di bulan puasa beberapa tahun lalu yang membuat saya begitu trauma dan down sekali. 

Di tahun 2021, tepat sebelum memulai bulan puasa, saya mengalami kekerasan, dari orang yang mendemonstrasikan ciri pengidap kelainan kepribadian narsistik di area tempat tinggal dan hal tersebut mendorong saya untuk mencari ilmu, dan mencari informasi. Setelah berpisah dengan caretakers sejak usia 13 tahun, lagi-lagi saya merasa seperti mengulang pola kekerasan yang sama, yang dilakukan oleh orang yang berbeda. 

Ternyata di balik sesuatu yang ditakdirkan untuk terjadi, ada hikmah yang begitu indah. Akhirnya Tuhan menghadapkan saya pada  kenyataan mengenai kelainan kepribadian yang ada pada kedua caretakers. Ternyata saya pun mengadopsi banyak sekali program toxic dan trauma dari lingkungan yang penuh kekerasan tersebut. Menyedihkan rasanya jika harus berhadapan dengan gambaran masa kecil yang kelam dan penuh penderitaan. 

Saya pun akhirnya menyadari efek yang ditimbulkan kepada diri sendiri dan berhasil menemukan berbagai metode self healing dari perjalanan saya memulihkan diri dari kekerasan narcissistik. Saya juga menuliskan pengalaman pengalaman pribadi di dalam buku tersebut. 

Hikmahnya akan Diberikan kepada Orang yang Dipilih-Nya

ramadan 2021 dan puasa bersama bapak
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/paliemassa

Buku itu bisa tercipta karena adanya pengalaman, ilmu pun bisa didapatkan karena adanya pertemuan antara pertolongan Tuhan, studi, dan pengalaman. Dalam satu bulan saya sudah membantu puluhan korban dari kekerasan narsistik, ikut memberikan edukasi pada platform instagram yang saya buat @npdawarenessid serta bisa melihat banyak korban mampu menemukan dirinya kembali, hal ini sudah jadi hal yang lebih dari kata cukup untuk membuat saya bahagia. 

Ke depannya saya berharap bisa membantu menyadarkan pengidap kelainan kepribadian sebagaimana saya menuliskan metode untuk mereka bisa mengurangi spektrum dan tendensi yang tidak baik pada buku saya. 

Saya berharap saya bisa memberikan kontribusi pada masyarakat untuk peduli dan tanggap akan kesehatan mentalnya. 

Bulan puasa ini terasa begitu berbeda dari sebelumnya. Jika di tahun tahun sebelumnya saya menangisi kesendirian di bulan puasa karena tidak mampu untuk pulang kampung, dan berjumpa dengan caretakers yang saya cintai, maka bulan puasa ini saya merasa stabil, content, bahagia, dengan takdir yang dipilihkan Allah atas kondisi saat ini.

Saya pun menyadari bahwa di balik kesusahan saya secara finansial di tahun tahun lalu, Tuhan melindungi saya dari berbagai potensi kekerasan yang bisa dilakukan caretakers yang mengidap kelainan kepribadian. 

Betapa bijaksananya Tuhan yang telah menciptakan saya dan semua orang, serta mengetahui segala perkara yang gaib. Ternyata hikmahnya akan diberikan kepada orang yang dipilih-Nya, dan hikmah tersebutlah yang menguatkan saya, menaikkan kesadaran akan kebijaksanaan. Butuh waktu puluhan tahun bagi saya untuk mampu melihat kebaikan dari suatu kejadian yang biasa dilabeli sebagai kejadian yang tidak menyenangkan.

Saya berharap para korban dan pelaku kekerasan dari pengidap kelainan kepribadian bisa mendapatkan kesadaran, penyembuhan, dan terapi. Serta dengan munculnya buku tersebut, para pekerja profesional di bidang kesehatan mental bisa lebih mengenali personality disorder atau kelainan kepribadian.

Inilah cerita saya di bulan Ramadan, sebagai "My Ramadhan Story" untuk FIMELA. 

Semoga FIMELA bisa terus berjaya dan ke depannya bisa ikut berkontribusi membahas isu ini. 

#ElevateWomen

Lanjutkan Membaca ↓