Sang Putri Meninggal setelah Diselingkuhi Suami, Ibu Ini Berusaha Ikhlaskan Semua

Endah Wijayanti19 Apr 2021, 10:56 WIB
Diperbarui 19 Apr 2021, 10:56 WIB
ramadan 2021 dan mengikhlaskan

Fimela.com, Jakarta Selalu ada cerita, pengalaman, dan kesan tersendiri yang dirasakan tiap kali bulan Ramadan datang. Bahkan ada kisah-kisah yang tak pernah terlupakan karena terjadi pada bulan suci ini. Tiap orang pun punya cara sendiri dalam memaknai bulan Ramadan. Tulisan kiriman Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Berbagi Cerita tentang Indahnya Ramadan di Share Your Stories Bulan April ini pun menghadirkan makna dan pelajaran tersendiri.

***

Oleh: Aulia Hamidah Fauzia

Amarah, merasa kecewa, kehilangan, adalah sifat alamiah manusia dan itu adalah sunatullah, di mana manusia akan merasakan tangis dan bahagia secara berdampingan. Di bulan Ramadan ini, aku berharap, Tuhan akan memberikan hikmahnya atas belasan pasangan yang berada di ambang perceraian agar dipersatukan kembali dalam ikatan cinta kasih yang saling memaafkan.

Terkadang aku merasa amat sedih dan kehilangan, ketika aku menangani perkara perceraian yang hanya diinginkan oleh satu pihak saja, terlebih itu terjadi di bulan Ramadan ini. Menjadi saksi hidup atas belasan perkara cerai yang aku saksikan langsung, membuatku belajar banyak bagaimana seni memaafkan, belajar ikhlas, dan selalu berbuat baik kepada siapa pun, sekalipun kepada orang yang pernah menyakiti kita atau keluarga kita.

Ini kisahku, di bulan Ramadan ini yang ikut merasakan apa yang dirasakan oleh seorang ibu paruh baya yang menerima akta cerai putrinya.

***

Ramadan ini terasa berat, aku harus tetap tinggal di Bandung dan berjauhan dengan suami yang bekerja mengurus bisnisnya di Pekanbaru. Kebijakan pemerintah adanya larangan mudik untuk menekan penyebaran covid-19 mengharuskanku ikhlas Ramadan dan Idulfitri tahun ini tidak berkumpul bersama suami tercinta. Tapi, setidaknya aku harus banyak bersyukur, di saat suami dari teman-temanku terkena Pemutusan Hubungan Kerja sepihak (PHK), kami masih sangat berkecukupan mendapat materi yang berlimpah dari sektor usaha suamiku dan pekerjaanku.

Meskipun terkadang, aku merasa sepi dan sedih karena jauh dari suami dan keluarga, aku tersadar, ketika beberapa perkara cerai yang aku dan tim tangani, menyisakan kesedihan yang jauh lebih besar atas orang-orang yang terpaksa cerai karena masalah-masalah hidup yang amat berat. Sebagian besar, perkara cerai yang masuk di bulan Ramadan ini adalah mereka yang berseteru karena masalah ekonomi, perselingkuhan serta keegoisan pasangan muda. Dan aku terkejut, kala angka perceraian selama pandemi dan Ramadan ini semakin meningkat, lebih dari 500 perkara cerai setiap bulannya.

 

Mengurus Perceraian Seorang Perempuan Muda

ramadan 2021 dan perceraian orangtua
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/airdone

Awal bulan Maret lalu, seorang wanita muda yang cantik jelita, dengan busana kerja yang sangat rapi datang ke kantor hukum kami. Karena ketua tim pengacara kami sedang di luar, sembari menunggu beliau, wanita muda itu sedikit berbincang dan menyapaku. Setelah aku cek berkas perkara cerainya, aku terkejut, dia masih 21 tahun dan baru 3 bulan menikah, sang suami yang ia gugat adalah seorang pria yang sangat tampan dan usianya baru 25 tahun. Sang wanita muda ini tersenyum simpul sembari mengajakku mengobrol terkait kemelut masalah rumah tangganya.

Dia sangat ramah, mungkin karena dia bekerja sebagai salah satu staf customer service di salah satu bank, jadi pembawaanya selalu tersenyum dan ramah meskipun sebetulnya dia sedang banyak memendam masalah. Dia berkata kepadaku apakah mungkin nanti di pengadilan, hakim mengabulkan gugatan cerainya sesegera mungkin karena dia pikir, selama ini dia tidak berubah dan selalu bersikap baik pada suaminya. Namun, balasan dari sang suami, akhir-akhir ini selalu berucap kasar, puncaknya ketika sang suami melemparkan ponsel miliknya karena ketahuan ada chat mesra dengan wanita lain, hingga menyebabkan pelipis mata sang wanita muda itu cedera. Suaminya semakin acuh terlebih mereka hanya bertemu pada akhir pekan semenjak sang suami dipromosikan menjadi manajer di kota yang berbeda.

Tiba saat persidangan perdana, aku melihat, wanita muda yang cantik semampai itu tidak begitu ceria, tubuhnya semakin kurus dengan mata yang sedikit sayu. Dia hanya datang seorang diri, dan berkata kepadaku, sulit baginya untuk meminta sang ibu untuk menemaninya di Pengadilan Agama, karena ia sadar betul, sang ibu sedang dalam keadaan berduka karena suaminya baru saja meninggal seminggu yang lalu.

Sidang perdana dan kedua itu tidak dihadiri sang suami wanita muda itu, akhirnya sidang diputus secara verstek karena pihak tergugat yakni suami wanita muda itu tidak datang meskipun pihak pengadilan telah memanggilnya secara patut.

Aku sadar,meskipun wanita muda itu tidak menangis histeris, tapi, aku melihat, dia menyeka air matanya dengan jemari yang bergetar. Aku sadar, dia sejujurnya tidak menginginkan perceraian itu, tapi ia harus memutuskan, ia harus hidup dengan layak bahagia tanpa kekerasan dalam rumah tangga.

Satu bulan telah berlalu, kami sulit sekali menghubungi klien kami itu, kami bermaksud akan memberikan akta cerai kepada kedua belah pihak yang telah bercerai. Akhirnya aku putuskan untuk mengantarkan akta cerai itu ke rumahnya saja.

 

Perceraian yang Menyakitkan

cerita perceraian
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/Sargis+Zubov

Sore itu kala aku hendak pulang rumah, aku terkejut mendapatkan paket 5 koper besar ke kantor kami, di sela paket ada sedikit catatan, “Ini adalah barang-barang milik klien Anda. Tolong disampaikan, tertanda ‘R’," tulisnya. Dan ketika kami mencoba menelepon nomor ponsel pengirim, ternyata itu adalah nomor mantan suami klien kami.

Aku tak habis pikir, sebegitunya sang mantan suami yang tak hadir di persidangan cerai seperti menghilang, dan malah “membuang” semua sisa barang-barang mantan istrinya ke alamat kantor kami.

Ramadan tahun ini selain kita menahan haus dan lapar kita juga harus kuat menahan hawa nafsu dan tetap semangat untuk bekerja meskipun pandemi masih ada. Aku merasa begitu letih dengan tumpukkan berkas perceraian di kantor, terlebih dengan banyaknya drama setiap pasangan yang terkadang saling mengumpat, saling membenci meskipun kami dan hakim telah berusaha untuk memediasi kedua belah pihak agar berdamai.

 

 

Menemui Ibu dari Klien

cinta ibu dan pekerjaan
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/photographeeeu

Lalu, aku teringat akan akta cerai yang belum aku antar kepada klien kami. Aku mencoba menghubungi sekali lagi ke nomor ponsel klien kami, dan kali ini teleponku diangkat, ternyata yang bicara adalah suara dari seorang wanita paruh baya yang mempersilakanku untuk datang ke rumahnya dan mengonfirmasi bahwa 5 koper barang-barang yang dikirim “R” adalah benar koper-koper milik putrinya.

Sang ibu berkata bahwa ia tahu dari tetangga yang satu kota dengan mantan suami dari putrinya itu telah membeli rumah baru dan hendak menikah lagi dengan rekan kerjanya di kantor, dan ia merasa sang mantan suami putrinya itu ingin segera menyingkirkan semua barang putrinya dan ingin menikah lagi.

Aku pun tiba di depan gerbang rumahnya, aku disambut satpam berwajah sedih. Dari jauh aku melihat wanita paruh baya itu melambaikan tangan dan memberi isyarat masuk kepadaku sambil tersenyum simpul.

Aku pun masuk dan mencium aroma kapur barus yang pekat dan aroma bunga. Aku pun duduk dan mengeluarkan berkas akta cerai, sang ibu itu tiba-tiba berkata lirih sembari memegang tanganku beliau terisak sedih, “Nak, tolong akta cerai ini diantar saja ke mantan suami putri saya, mohon maaf Ibu tidak mau menerimanya, sebetulnya putri kami baru saja wafat pagi tadi."

Betapa terkejutnya aku saat itu. Sang ibu pun bercerita banyak. Ternyata klien kami sulit dihubungi karena sebetulnya mulai dari awal persidangan, ia sedang berjuang melawan sakit paru dan penyakin autoimun.

Sang ibu berkata anaknya tidak mau makan dan hanya mau minum saja dan itu pun sedikit, ia alami semenjak dia tahu bahwa mantan suaminya berselingkuh dengan sahabatnya sendiri yang ia “titipkan” agar dapat bekerja di perusahaan tempat mantan suaminya bekerja. Sang anak merasa sangat kecewa karena ia selalu berbagi cerita kepada sahabatnya itu tentang kebaikan suaminya dahulu yang sangat royal memberikan uang belanja, tas, sepatu, perhiasan dan selalu mengajaknya wisata. Tak disangka ternyata sahabatnya itu iri dan berniat jahat merebut suami putrinya itu. Putrinya amat depresi dan menyerang autoimunnya sehingga ia pun wafat di usia yang sangat muda.

Tapi aku terenyuh kala sang ibu berkata, “Meskipun mantan suami putriku telah berbuat jahat, di momentum Ramadan ini telah mengikhlaskan kepergian suami dan putriku, serta telah memaafkan mantan suami putriku serta sahabat putriku."

Sungguh, aku tidak melihat dendam sedikit pun dari raut wajah sang ibu, aku berpikir betapa mulianya beliau. Meskipun telah kehilangan banyak hal. Lalu beliau berpesan kepadaku untuk menyampaikan akta cerai dan berita kematian putrinya kepada sang mantan suami putrinya. Karena pesan dari almarhumah putrinya, ia berharap sang mantan suami mengingatnya, bahwa sebetulnya ia tidak menginginkan perceraian itu dan masih mencintai mantan suaminya itu.

Aku pun berpamitan dengan langkah yang lunglai, meskipun Ramadan ini kita menahan haus dan lapar, kita jauh memiliki tantangan yang lebih berat, yakni menahan nafsu yang dapat menjerumuskan orang terhormat sekalipun menjadi hina, menahan amarah serta mampu memaafkan orang-orang yang menyakiti kita dan keluarga kita.

Ada satu hal yang aku pikir ini penting, kala sang Ibu dari klienku berkata bahwa yang merebut suami putrinya adalah sahabat dekat putrinya, aku tahu bahwa sang pencuri itu biasanya adalah orang terdekat. Serta kita diwanti-wanti agar tidak memamerkan secara sengaja ataupun tidak kepada orang lain atas apa yang kita miliki, atas apa pun kebaikan dan harta suami yang diberi kepada kita, sekalipun itu saudara atau sahabat ataupun teman kita, karena terkadang ada kalanya seseorang menginginkan kita terjatuh atas topeng manisnya di depan kita.

Semoga kisahku menginspirasi para wanita di mana pun agar selalu sederhana dan tidak pamer harta kepada siapa pun, selalu belajar memaafkan kesalahan orang lain dan di bulan Ramadan ini mari kita jadikan momentum untuk merenungkan makna hidup dengan banyak mensyukuri semua nikmat Tuhan Yang Maha Esa.

Jangan merasa sepi dan merasa menjadi manusia termalang di dunia ini, karena banyak orang-orang dari kita yang tetap bertahan hidup dan mau belajar untuk mencoba selalu bahagia meskipun orang-orang yang dia sayangi telah hilang dan masalah hidupnya begitu pelik dan banyak. Semoga. Aamiin.

 

#ElevateWomen

Lanjutkan Membaca ↓