Kehadiran Penyakit Tak Perlu Disesali, Cukup Ikhlas Menerima Keterbatasan Diri

Endah Wijayanti22 Apr 2021, 12:45 WIB
Diperbarui 22 Apr 2021, 12:45 WIB
ramadan 2021 dan ujian sakit

Fimela.com, Jakarta Selalu ada cerita, pengalaman, dan kesan tersendiri yang dirasakan tiap kali bulan Ramadan datang. Bahkan ada kisah-kisah yang tak pernah terlupakan karena terjadi pada bulan suci ini. Tiap orang pun punya cara sendiri dalam memaknai bulan Ramadan. Tulisan kiriman Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Berbagi Cerita tentang Indahnya Ramadan di Share Your Stories Bulan April ini pun menghadirkan makna dan pelajaran tersendiri.

***

Oleh:  Anita Kasifah

Ramadan tahun ini terasa berbeda daripada Ramadan sebelumnya. Pasalnya tepat pada tanggal 10 Maret 2021 saya didiagnosis mengidap penyakit autoimun. Ya, Ramadan kali ini saya jalani dengan status baru yakni sebagai seorang penyandang Autoimun Systemic Sclerosis. I can’t find the right words to describe my feeling.

Hidup sebagai seorang penyandang autoimun merupakan sebuah ujian yang mengikis kesombongan diri, bahwa sehebat apa pun, kita tak kuasa menolak takdir yang telah ditetapkan-Nya atas diri kita. Mencoba untuk menerima semua keterbatasan diri dan berlapang dada atas ketidakmengertian orang lain akan kondisiku.

Systemic Sclerosis is a rare autoimmune disorder it affects your complete body, your skin, your muscles, your blood vessels and also your internal organs. Sejauh ini, belum ada obat yang dapat menyembuhkan autoimun. Maka dari itu penyandang autoimun mengonsumsi obat untuk mengurangi gejala-gejala tertentu yang dirasakan.

Menjaga Hati yang Bahagia

ramadan 2021 dan keringanan berpuasa
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/prostock_studio

Awal mula saya mengetahui saya mengidap autoimun, saya merasa stres. Tidak bermaksud melebih-lebihkan, tapi saya bisa sampai menangis tanpa sebab setiap hari. Terlebih saya sudah mempunyai rencana pengembangan karier serta rencana hidup lainnya.

Sampai detik ini pun, saya masih berjuang berdamai dengan kondisi saya saat ini. Berusaha ikhlas menerima keterbatasan diri. Terkadang tak semua dari apa-apa yang kita semogakan selaras dengan kenyataan. Akan selalu ada rintangan dan tantangan yang mau tak mau harus dihadapi. Bahkan tak jarang, saat apa yang kita rencanakan sama sekali tak pernah terjadi.

Siapalah kita? Hanya makhluk lemah dan penuh keterbatasan tanpa bantuan-Nya. Kehadiran penyakit bukan untuk disesali, melainkan untuk dijadikan sarana agar lebih bisa memanfaatkan waktu luang dan waktu sehat, dan lebih mendekatkan diri pada Sang Pencipta.

Well, terlepas dari sakit yang saya derita, alhamdulillah berpuasa di bulan Ramadan membuat badan saya terasa lebih baik. Dan yang terpenting adalah dengan berpuasa di bulan Ramadan membuat hati dan pikiran saya menjadi lebih tenang. Stay positive! Saya percaya obat terbaik berasal dari hati yang bahagia.

#ElevateWomen

Lanjutkan Membaca ↓