Menilik 5 Keistimewaan Hajar Aswad yang Jarang Diketahui, Lengkap Beserta Riwayatnya

Imelda Rahma05 Mei 2021, 16:35 WIB
Diperbarui 05 Mei 2021, 16:35 WIB
Hajar Aswad

Semua umat muslim yang datang ke Tanah Suci, saat melihat Kakbah pasti memiliki keinginan salah satunya adalah mencium hajar aswad. Semua umat Muslim menginginkan mencium batu Hajar Aswad. Selain wangi, batu berwarna hitam tersebut juga menjadi sunah saat seorang muslim bisa menciumnya.

Hajar aswad berada di sudut Kakbah sebelah tenggara dan diletakkan oleh Nabi Ibrahim di atas fondasi fondasi dasar Baitullah yang telah dia tinggalkan bersama putranya, Nabi Ismail. Hajar Aswad memiliki berbagai keistimewaan dan keutamaan.

Nah, ada baiknya di bulan Ramadan ini, kamu mengenal salah satu fenomena luar biasa dalam Islam, yakni Hajar Aswad agar tingkat keimanan dan pengetahuan mengenai Islam menjadi bertambah.

Untuk itu, Fimela.com kali ini akan mengulas 5 keistimewaan Hajar Aswad beserta riwayatnya. Dilansir dari Liputan6.com, simak ulasan selengkapnya berikut ini. 

Berasal dari Surga

Berasal dari Surga
Ilustrasi Ibadah Haji Credit: shutterstock.com

Sebagaimana sabda Rasuallah SAW. "Hajar aswad berasal dari surga," (HR Ahmad dan al-Turmudzi).

Terletak pada Tempat yang Paling Mulia di dalam Baitullah

Terletak pada Tempat yang Paling Mulia di dalam Baitullah
Ilustrasi Ibadah Haji Credit: shutterstock.com

Hajar aswad terletak di atas fondasi fondasi dasar yang telah ditinggikan Nabi Ibrahim bersama putranya, Nabi Ismail. Sebagaimana Allah SWT, berfirman di dalam surah Al Baqarah. "Dan ingatlah ketika Ibrahim meninggikan fondasi-fondasi Baitullah bersama Ismail" (QS Al Baqarah : 127)

Dianjurkan untuk Dikecup dan Diusap

Dianjurkan untuk Dikecup dan Diusap
Ilustrasi Ibadah Haji Credit: shutterstock.com

"Sungguh, aku tahu, kamu hanya batu. Tidak bisa memberi manfaat atau bahaya apa pun. Andai saja aku ini tak pernah sekalipun melihat Rasulullah shallahu alaihi wa sallam menciummu, aku pun enggan menciummu," (HR Bukhari)

Titik Awal Dimulainya Tawaf Disekeliling Ka'bah

Titik Awal Dimulainya Tawaf Disekeliling Ka'bah
Ilustrasi Ibadah Haji Credit: shutterstock.com

Menjadi Saksi di Hari Kiamat bagi Orang yang Mengusapnya dengan Benar

Menjadi Saksi di Hari Kiamat bagi Orang yang Mengusapnya dengan Benar
Ilustrasi Ibadah Haji Credit: shutterstock.com

Riwayat Hajar Aswad

Riwayat Hajar Aswad
Ilustrasi Ibadah Haji Credit: shutterstock.com

Semua umat Muslim menginginkan mencium batu Hajar Aswad. Selain wangi, batu berwarna hitam tersebut juga menjadi sunah saat seorang muslim bisa menciumnya.

Namun, tidak mudah untuk mencium batu yang diriwayatkan berasal dari surga tersebut, karena banyak orang yang berebut bisa mencium batu yang letaknya berada di salah satu sisi Kakbah ini. Bukan hanya puluhan, ribuan orang bahkan ingin menciumnya dalam waktu bersamaan.

Mereka berebut karena Nabi Muhammad SAW mencium Hajar Aswad yang terletak di sisi Kakbah. Letaknya persis di Rukun Hajar Aswad atau di sebelah pintu Kakbah. Batu hitam itu dibingkai cincin Hajar Aswad berwarna perak, dan terletak berada di ketinggian 1 meter.

"Karena mencium mengikuti tuntunan Nabi Muhammad SAW, bukan karena ada fadilahnya. Rasulullah mencium Hajar Aswad didasari pada ketaatan dan kepatuhan kepada Allah," kata Konsultan Bimbingan Ibadah Haji Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH), Profesor Aswadi, di Mekah, Senin (14/8/2017), dilansir dari Liputan6.com.

Aswadi mengisahkan, sahabat Nabi Muhammad SAW, Umar bin Kathab, pernah berkata jika bukan karena Nabi Muhammad mencium Hajar Aswad maka ia tidak akan melakukannya.

"Sesungguhnya aku menciummu dan aku tahu bahwa engkau hanyalah batu. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menciummu, maka tentu aku tidak akan menciummu," kata dia.

Berdasarkan pernyataan itu, Aswadi menjelaskan, mencium Hajar Aswad adalah murni karena kepatuhan. "Bukan karena nafsu, tapi berdasarkan dari wahyu Allah SWT," jelas dia.

Guru Besar Universitas Islam Negeri Sunan Ampel ini menjelaskan, Hajar Aswad mengandung banyak rahasia, di antaranya warna aslinya yang putih bisa berubah menjadi hitam.

"Itu sama dengan perilaku manusia. Bahwa manusia diciptakan oleh Allah, tetapi karena dorongan manusia ingin melampaui batas maka dari itu menjadi ternoda," kata Aswadi.

Lanjutkan Membaca ↓