Perjalanan Mengabdi di Ujung Timur Celebes

Endah Wijayanti09 Jun 2021, 10:35 WIB
Diperbarui 09 Jun 2021, 10:51 WIB
minuman pagi sehat

Fimela.com, Jakarta Setiap kali kita melakukan perjalanan, selalu ada cerita yang berkesan. Bepergian atau mengunjungi sebuah tempat memberi kenangan tersendiri di dalam hati. Tiap orang pastinya punya pengalaman atau kisah tak terlupakan tentang sebuah perjalanan, seperti tulisan Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba My Trip Story: Setiap Perjalanan Selalu Memiliki Cerita berikut ini.

***

Oleh: Damar

Tanggal 10 April 2014, pertama kalinya bagiku menaiki “si burung besi”. Hari penantian itu akhirnya datang juga.

Empat tahun menimba ilmu di perguruan tinggi plat merah ditambah satu setengah tahun digantung karena adanya moratorium pengangkatan ASN membuatku teramat memimpikan hari itu.

Beberapa bulan sebelumnya, aku sudah mengisi formulir kesediaan untuk bersedia ditempatkan di seluruh pelosok Indonesia, dengan menyertakan tiga provinsi pilihan yang ingin dituju. Sebagai lulusan dengan IPK pas-pasan, aku tidak berani menuliskan daerah Indonesia bagian barat, tentu saja teman-temanku yang lebih pintar telah memilihnya.

Kupandangi peta Indonesia lekat-lekat sebelum memutuskan tiga provinsi yang akan kutulis di form itu. Jangan sampai salah langkah. Aku pun tak ingin bila terlempar terlalu jauh jika salah strategi karena aku juga ingin penempatan bersama, dengan ehem, calon suami yang juga teman seangkatanku.

Bismillah, kuberanikan diri menuliskan tiga nama provinsi dengan hati berdebar. Kepulauan Riau, Sulawesi Tengah, dan Papua Barat. Gambling kutulis Papua Barat di sana, di satu sisi berharap semoga takdir tidak membawaku ke sana, di sisi lain pengalaman senior mengatakan lebih baik di Papua Barat daripada di Papua dari segi fasilitas dan kemudahan lainnya. Entahlah, aku hanya berharap namaku dan namanya ada di daftar CPNS yang penempatan di Sulawesi Tengah. Memang Allah itu sesuai persangkaan hamba-Nya, Allah Maha Baik. Kami berdua benar-benar mendapatkan penempatan di Sulawesi Tengah.

Hari itu, ada enam orang lain teman kami yang berangkat bersama kami menuju Sulawesi Tengah. Sungguh, itu menjadi perjalanan terjauh bagiku yang selama ini bagai katak dalam tempurung. Setelah transit di Makassar, kami melanjutkan perjalanan ke Palu.

Sesampainya di Kota Palu, kami berdelapan langsung menuju kantor provinsi untuk pembekalan dan diinfokan ke kabupaten mana kami akan diberangkatkan esok hari. Kami dibagi menjadi empat kabupaten, masing-masing kabupaten terdiri dari dua orang. Syukurlah aku dan calon suami bisa mendapatkan penempatan di kabupaten yang sama, Kabupaten Banggai Kepulauan.

Tidak pernah terbayang sebelumnya di mana itu Banggai Kepulauan, seperti apa rupanya, bagaimana jalan ke sana, apalagi membayangkan berapa lama kami harus tinggal di sana.

Perjalanan dari Kota Palu dimulai. Tanggal 11 April kami menempuh 20 jam via darat dengan mobil travel dari Kota Palu ke Kabupaten Banggai. Sesampainya di Banggai, kami singgah di rumah senior kami sejenak untuk beristirahat karena perjalanan belum usai. Ya, dari Kabupaten Banggai kami masih harus naik kapal feri selama 6 jam untuk menyeberang ke Kabupaten Banggai Kepulauan. Benar-benar tidak pernah terbayang sebelumnya di Indonesia ada tempat sejauh ini. Dalam hati membatin, bukankah lebih baik jika kami dapat Kota Sorong yang bisa langsung dituju dengan pesawat? Tapi inilah takdir kami, kami menerimanya dengan sukacita.

Kami sangat bersyukur pernah menginjakkan kaki dan tinggal selama kurang lebih enam tahun di Banggai Kepulauan. Surga kecil di timur Sulawesi yang masih belum banyak terjamah ketamakan manusia. Penduduk yang ramah, anak-anak yang polos, teman-teman yang sudah seperti saudara, dan beruntungnya kami mendapatkan atasan yang sudah seperti orangtua kami sendiri.

Dari sanalah keluarga kecilku berasal, dengan anak pertama yang mengisi keheningan malam di rumah kontrakan kami. Jarak yang memisahkan kami dengan keluarga di kampung halaman, membuat tabungan rindu semakin tak terbendung dan membuat kami menyadari betapa mahalnya saat-saat kebersamaan dengan orang terkasih. Segala keterbatasan fasilitas di Banggai Kepulauan membuat kami selalu bersyukur kami dilahirkan dan dibesarkan dengan segala kemudahan.

Dengan tinggal di Banggai Kepulauan kami menyadari masih banyak PR yang harus dipikirkan para petinggi negeri ini. Indonesia bukan hanya Jawa, tapi memang itu yang kami rasakan, kami seperti di daerah yang amat terasing, dengan pasokan listrik hanya beberapa jam per hari, dan air bersih yang masih terbatas sampai kadang kami harus menampung air hujan untuk kebutuhan air bersih sehari-hari, internet yang hanya bisa diakses di beberapa bagian ibukota kabupaten.

Alhamdulillah, kami sudah pernah merasakan berbagai kesulitan itu, sehingga saat menghadapi kesulitan setelah kembali ke Jawa kami tetap dapat mensyukuri sekecil apa pun nikmat yang kami dapat. Terima kasih Banggai Kepulauan atas pelajaran yang diberikan, semoga tidak lama lagi tidak ada lagi ketimpangan di seluruh wilayah Indonesia, semoga kami masih diberikan umur dan rezeki untuk bisa napak tilas perjalanan kami di sana.