Satu Malam Seribu Kenangan, Pengalaman ke Bromo yang Tak Terlupakan

Endah Wijayanti10 Jun 2021, 07:15 WIB
Diperbarui 10 Jun 2021, 07:15 WIB
wisata gunung bromo

Fimela.com, Jakarta Setiap kali kita melakukan perjalanan, selalu ada cerita yang berkesan. Bepergian atau mengunjungi sebuah tempat memberi kenangan tersendiri di dalam hati. Tiap orang pastinya punya pengalaman atau kisah tak terlupakan tentang sebuah perjalanan, seperti tulisan Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba My Trip Story: Setiap Perjalanan Selalu Memiliki Cerita berikut ini.

***

Oleh: Albiwi 

Pandemi covid-19 yang tak kunjung usai ini membuat saya hanya bisa berangan pergi pelesir ke suatu tempat wisata yang biasa saya kunjungi. Wisata bangunan macam museum, benteng, atau situs peninggalan sejarah, maupun wisata alam seperti gunung dan laut sudah pernah saya kunjungi. 

Bicara tentang gunung, angan saya mengembara pada beberapa tahun silam, tepatnya sekitar tahun 2005 atau 2006. Saat itu saya masih mengenyam pendidikan di salah satu perguruan tinggi di Malang.

Suatu waktu teman saya mencetuskan sebuah ide untuk menghabiskan malam minggu dengan cara bervakansi ke tempat yang belum pernah kita kunjungi. Sebuah pemikiran spontan dari teman tersebut rupanya mendapat respons yang bersemangat dari teman lainnya, termasuk saya. Beberapa mengungkapkan pendapat tempat mana yang akan kita kunjungi.

Dari sekian pandapat, muncullah gunung Bromo pada daftar tersebut yang juga mendapat suara terbanyak dari teman-teman saya. Pikir saya tak afdol rasanya jika seorang mahasiswa belum pernah mendaki sebuah gunung layaknya novel-novel roman atau cerpen yang biasa dimuat di majalah remaja yang sering saya baca. Maka jadilah kami pergi ke gunung Bromo.

Ramai-Ramai ke Bromo

teman-teman perempuan
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/prostock_studio

Pada hari yang ditentukan kami sudah berkumpul di depan gedung rektorat. Memiliki area parkir luas dan merupakan akses keluar masuk area kampus, menjadi alasan kenapa kami memilih gedung bercat putih itu sebagai tempat titik pertemuan. 

Masih terpatri di ingatan, saya memakai booth cut jeans, dipadukan dengan jaket abu yang mungkin sudah dua hari belum dicuci. Miris, tapi itulah kenyataannya. Anak rantau yang jauh dari rumah harus pandai menghemat pengeluaran ini dan itu, termasuk untuk membeli sabun cuci. Walau alasan yang sebenarnya adalah sedikit rasa malas untuk mengerjakan hal remeh seperti mencuci baju. Toh jaket itu hanya digunakan beberapa jam saat mengikuti kelas perkuliahan. Dan saat pulang jaket itu sudah bertengger di gantungan untuk diangin-anginkan agar tak muncul bau tidak sedap.

Menenteng ransel berwarna senada dengan jaket, saya dan balasan teman saya menunggu mobil yang sudah di sewa oleh teman saya. Saat itu kami sengaja berangkat pada malam hari, sekitar pukul 9.00 malam agar saat tiba di gunung Bromo masih sempat untuk mengabadikan sunrise yang katanya indah.

Bagaimanapun kala itu saya belum pernah mengunjungi wisata alam yang berada di empat perbatasan wilayah kabupaten di Jawa timur ini, kabupaten Malang, kabupaten Pasuruan, kabupaten Probolinggo dan kabupaten Lumajang. Maka jika berangkat dari kota Malang, bisa dipastikan kita akan mengikuti rute Malang-Tumpang-Gubukklakah-Ngadas-Gunung Bromo. Tapi saat itu saya benar-benar buta arah dan hanya manut ke mana teman saya pergi.

Tak berselang lama, muncul mobil minibus bison dari gerbang kampus. Setelah salah satu teman saya yang bertugas untuk menyewa kendaraan memastikan bahwa itu adalah mobil yang akan kita gunakan, bergegaslah kami menuju ke arahnya. Dan betapa terkejutnya kami, rupanya sang driver tidak sendirian. Saya masih ingat bahwa dia seorang laki-laki berusia sekitar 30 tahunan, berambut sedikit gondrong dan di sampingnya ada seorang wanita yang sedang hamil tua.

Bukankah ini mobil sewaan? Kami pun sudah mengeluarkan biaya untuk setiap kursi di mobil yang berukuran cukup besar ini.

Tapi kami hanya bisa saling pandang, seperti memahami suara hati masing-masing. Bagaimanapun saat itu kami masih muda dan belum terlalu berani mengutarakan uneg-uneg apalagi kepada orang asing. Pikir saya, mungkin juga teman yang lain, sepertinya pak sopir ini ingin berlibur bersama istrinya, menikmati suasana di gunung Bromo dengan anggaran minim. Bolehlah.

Dalam keriuhan yang tak menyinggung si pengemudi dan istrinya sama sekali, kami memasuki 'bison' yang ternyata tak memiliki ruang yang cukup untuk menampung belasan orang. Akhirnya kami mencoba mencari posisi ternyaman masing-masing. Dan saya kebetulan tak mendapat kursi, mau tak mau harus lesehan di bawah berhimpitan dengan teman lainnya. Sempit tapi tak ada yang mengeluh, saking antusiasnya kami yang hendak mengunjungi gunung tempat suku Tengger bermukim itu untuk pertama kalinya.

Berangkatlah kami menuju Bromo. 

Perjalanan dan Pengalaman Tak Terlupakan

bersahabat dengan introver
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/inlitestudio

Sepanjang perjalanan kami saling mengobrol diselingi dengan guyonan yang tentu saja direspon dengan tawa oleh seluruh penumpang yang ke semuanya adalah teman. Tapi canda dan obrolan itu perlahan hilang, digantikan oleh suara dengkur halus, walau masih ada beberapa teman saya yang berbicara satu sama lain dengan suara pelan.

Perjalanan panjang Malang-Bromo hampir tak terasa penat sama sekali. Saat mata terbuka, ternyata kami sudah memasuki area parkir wisata gunung Bromo. Saat itu mungkin masih tengah malam atau juga sepertiga malam. Entahlah, hanya saja saat itu saya tak biasa menggunakan jam tangan, pun belum banyak teman yang memiliki telpon seluler. 

Saat saya turun dari mobil, kesan pertama yang saya rasakan adalah hawa yang sangat dingin khas pegunungan. Malang memang dingin, tapi ini benar-benar dingin. Dingin tetapi sejuk. Juga ada beberapa orang yang masih terjaga dan memiliki ciri penduduk Tengger, yaitu memakai kain sarung di tubuh sebagai penghangat.

Setelah salah satu teman saya mengurus tiket masuk, bergegas kami berjalan menuju puncak Bromo.

Tak ada pemandu wisata. Kami hanya mengandalkan ingatan teman saya yang dulu pernah berkunjung ke Bromo. 

Di area parkir memang masih ada orang dan pencahayaan juga terang. Tapi setelah kami meninggalkan tempat itu, tentunya meninggalkan pak sopir dan istri hamilnya yang mungkin sedang menikmati dinginnya suasana Bromo, yang ada hanyalah kegelapan dan pasir. Dibantu dengan cahaya dari senter tangan, yang tampak adalah pasir, pasir dan pasir. Tak ada bangunan satupun di sana. Kami serasa memasuki dimensi lain, lautan pasir nan hening. Jika saya berjalan seorang diri, mungkin bulu kuduk saya akan berdiri dan  tak sanggup lagi melanjutkan sampai ke puncak. Bak pepatah mengatakan, bersama kita teguh bercerai kita runtuh. Bersama memang menularkan aura keberanian bagi saya. 

Setelah beberapa lama kami berjalan, tentu saja diselingi canda dan tawa dari teman-teman, dikejauhan tampak sebuah bangunan candi yang saat itu saya belum tahu bahwa itu adalah pura Luhur Poten, tempat beribadat suku Tengger yang mayoritas beragama Hindu. Menyesal kami tak mengunjungi dan tak mengetahui keindahan pura itu, karena kami memang sedang memburu matahari terbit di Bromo.

Akhirnya kami sampai di tangga menuju puncak Bromo yang konon berjumlah 250 anak tangga. Terbersit keinginan saya dan teman-teman untuk menghitung anak tangga itu. Tapi nyatanya hitungan kami ambyar, kalah dengan rasa lelah setelah berjalan menyusuri lautan pasir tadi.

Hari masih gelap ketika kami berhasil sampai di puncak. Belum terlihat keindahan kawah Bromo juga sunrise yang ditunggu. Hanya saja bau belerang sudah menyeruak ke hidung kami. Waktu berjalan sangat lambat. Kami hanya bisa duduk saling berhimpitan untuk sekedar menghangatkan diri dari hawa dingin Bromo yang menusuk kulit. 

Akhirnya fajar mulai menyingsing. Dalam temaram fajar tampak kawah Bromo yang mengepulkan asap abadi, begitu dalam tapi indah. Kami hanya dibatasi dengan pagar kayu di sekeliling kawah yang berdiameter cukup luas. Beberapa teman saya mengambil foto menggunakan kamera jadul merk canon. Saya sendiri menikmati suasana Bromo dengan menyusuri puncak sang gunung sambil menghirup udara dingin bercampur belerang. 

Perbukitan yang menjulang bagai pahatan indah maha karya Sang Pencipta. Tak henti hati saya berdecak kagum, memuji kuasa Ilahi. Betapa kecilnya saya di atas puncak Bromo. 

Sayang sekali kabut muncul. Matahari sama sekali tak menampakkan keindahannya di awal hari. Tapi sinarnya masih sanggup menembus sang kabut, memperlihatkan keindahan alam Bromo yang ternyata semakin memukau jika tanpa selubung malam.

Haruskah kami berangkat di pagi hari? Toh tak ada sunrise yang seharusnya kami buru. Apakah perjalanan kami menyusuri lautan pasir di malam hari sia-sia? Tidak. Kami sangat puas dengan lukisan alam yang tak seorang senimanpun sanggup menandinginya. Bagaimanapun perjalanan kami sepadan dengan suguhan pemandangan alam Bromo. Bromo, satu malam seribu kenangan. 

#ElevateWomen

Lanjutkan Membaca ↓