Menyoal Tentang Korban Pelecehan Seksual yang Lebih Memilih Diam

Ayu Puji Lestari09 Jun 2021, 22:15 WIB
Diperbarui 09 Jun 2021, 22:25 WIB
Pelecehan Seksual

Fimela.com, Jakarta Pagi ini sosial media ramai membicarakan tentang pelecehan seksual yang diduga dilakukan oleh Gofar Hilman. Dari utas yang dibagikan di akun twitter @quweenjojo, korban menceritakan jika kejadian tersebut terjadi pada tahun 2018. Banyak yang mendukung usaha korban untuk mengungkap pelecehan seksual yang dialami, namun tak sedikit yang kontra dengan usaha korban untuk speak up.

Mungkin kita berkomentar mengapa korban tidak segera melapor saat mengalami pelecehan seksual? Mengapa baru sekarang mengungkap pelecehan yang dialaminya, dan setelah sekian lama baru mengungkapnya. Kerap kita tidak menyadari selama korban diam ia memendam trauma dan stigma.

Trauma mendalam menjadi alasan mengapa korban memilih untuk diam. Rasa trauma ini menjadi dampak pelecehan seksual yang mendalam. Rasa takut teringat akan peristiwa pelecehan seksual membuat korban memilih menutup rapat dan enggan membahasnya.

Faktor Relasi Kekuasaan Membuat Korban Memilih Diam

Pelecehan Seksual
Ilustrasi/copyright shutterstock

Kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh publik figure bukan pertama kali terjadi. Adanya relasi kuasa antara pelaku terhadap korban membuat kasus pelecehan seksual ini sering berakhir tanpa penyelesaian yang memihak korban.

Tentu kita masih ingat dengan kasus anak dari salah satu Anggota Dewan di Bekasi yang melakukan kekerasan seksual kepada anak di bawah umur. Bahkan tercetus ide untuk menikahkan pelaku dengan korban.

Kasus Agni (bukan nama sebenarnya), salah satu mahasiswa Universitas Negeri di Jogja yang mengalami pelecehan seksual saat KKN. Korban justru disalahkan dan mendapat sangsi, sementara pelaku tetap  bisa melanjutkan studinya hingga lulus.

Puncak dari praktik victim blaming ini adalah ketika kasus Baiq Nuril, seorang guru yang merekam percakapan asusila yang dilakukan kepala sekolah justru membuatnya dihukum 6 bulan penjara dan didenda Rp 500juta. Beruntung, kasus Baiq Nuril berakhir baik. Baiq Nuril terbebas dari hukuman setelah mengajukan banding.

Membela Korban dan Penyintas Pelecehan Seksual

Pelecehan Seksual
Ilustrasi Perempuan Tangguh Credit: pexels.com/Lana

Kasus yang dialami oleh quweenjojo mengingatkan kita kembali bahwa seharusnya kita lebih fokus untuk membela korban. Alih-alih menyalahkan korban, seharusnya kita mendukung para korban yang berani untuk mengungkapkan luka dan traumanya.

Sikap menyalahkan korban dan beramai-ramai menyerang korban karena merasa memiliki kuasa, seharusnya kita lawan. Untuk melawan victim blaming ini adalah dengan selalu mendukung para korban pelecehan seksual, baik yang viral maupun tidak. Hal ini mungkin tidak mudah, mengingat budaya menyalahkan korban pelecehan seksual sudah sangat mengakar.

Korban pelecehan seksual seharusnya mendapatkan dukungan saat berani mengungkapkannya bukan justru menyalahkannya. Untuk perempuan penyintas pelecehan seksual dan berani untuk speak up, kalian hebat. Dan untuk para penyintas yang masih berusaha melawan trauma, percayalah kalian kuat.

Berhenti menyalahkan korban pelecehan seksual, karena kita kuat jika saling menguatkan. Be kind, Sahabat Fimela.

#ElevateWomen

Lanjutkan Membaca ↓