Sering Alami Pelecehan setelah Main Film Porno, Perempuan Ini Temukan Tempat Aman Lewat Pole Dance

Annissa Wulan02 Feb 2021, 16:30 WIB
Diperbarui 02 Feb 2021, 16:30 WIB
Amy Bond sedang pole dance

Fimela.com, Jakarta Sebuah film dokumenter berjudul "Strip Down, Rise Up" dari sutradara yang pernah masuk nominasi Oscar, Michèle Ohayon menjadi populer di bulan Februari 2020 lalu. Adegan pembukanya sangat seksi, sebuah ruangan dengan pencahayaan dari lilin dipenuhi perempuan yang membelai tubuh mereka sendiri dan mengibaskan rambut.

Sisa dari film ini mengikuti perempuan dari berbagai latar belakang ke dalam dunia pole dance, olahraga yang sedang berkembang dan membutuhkan banyak latihan. Amy Bond adalah salah satu dari perempuan ada di dalam film dokumenter "Strip Down, Rise Up."

Amy menceritakan kisahnya dalam film tersebut, bagaimana ia masuk ke film porno di tahun 2003 sebagai aktris berusia 20 tahun yang berjuang di Los Angeles. Ia juga menceritakan bagaimana nasibnya setelah keluar dari pekerjaan tersebut, banyak orang melecehkannya, mengintai, dan menidurinya selama bertahun-tahun.

Amy bicara tentang bagaimana pelecehan membuatnya merasa harus terus menerus meminta maaf, memerankan seorang perempuan yang menyesal karena partisipasinya dalam pekerjaan seks. Amy menegaskan bahwa pornografi adalah industri yang memberinya bayaran tinggi dan memperlakukannya dengan transparansi yang belum pernah dilihatnya di tempat kerja lainnya.

Saat ini, hampir 1 dekade Amy meninggalkan industri porno, ia menemukan pole dance dapat membantunya mengatasi rasa malu yang selalu membayanginya. Pole dance menjadi tempat aman bagi Amy, benteng dari cemoohan masyarakat tentang pekerjaan yang pernah dilakukannya, yang sebenarnya tidak benar-benar ia sesali.

 

 

Sulitnya Amy keluar dari masa lalunya tanpa dilecehkan

Ilustrasi pole dance
Ilustrasi pole dance. Sumber foto: unsplash.com/Gregoire Bertaud.

Bagi Amy, sulit menghadapi penilaian orang-orang yang menganggap pekerjaan seks tidak bermoral. Setelah 6 bulan bekerja di pornografi, ia menjadi pelayan di 2 restoran sambil mengambil 18 semester di sebuah perguruan tinggi.

Para pria di restoran tempatnya bekerja, mengenali Amy dari film-film pornonya. Mereka akan membuat komentar tidak senonoh atau menunggunya di tempat parkir untuk mengajak Amy keluar atau sekedar menyebutnya sebagai pelacur.

Di tahun 2011, Amy memulai sekolah hukum di Boston. Di sana, ia akhirnya merasa bebas dari masa lalu.

Namun, tak lama setelah Amy memulai tahun pertamanya, database pasien untuk pusat pengujian infeksi menular seksual diretas oleh pendukung anti pornografi, dan info Amy tersebar di internet. Situs tersebut memublikasikan alamat rumah keluarganya dan identitas pribadi lainnya.

Selama 3 tahun selanjutnya, Amy menyelesaikan studi di perpustakaan hukum dan bersepeda ke kelas pole dance. Seiring waktu, Amy menemukan teman-teman baru dan membuat rutinitas pole dance bersama di akhir pekan.

Saat ini, Amy menjalankan 3 studio pole dance dan banyak mendengar kisah yang sama dengan dirinya

Ilustrasi pole dance
Ilustrasi pole dance. Sumber foto: unsplash.com/Gregoire Bertaud.

Sampai suatu hari, seorang teman Amy memberitahunya bahwa ada reporter yang menghubunginya melalui Facebook dan sedang mencari Amy. Rasa malu yang telah lama Amy tekan, tiba-tiba meluap ke permukaan.

Amy mendapatkan dukungan dari teman-teman dekatnya. Salah satu bagian kuat dari film dokumenter "Strip Down, Rise Up" adalah ketika para penari pole dance berbicara tentang bagaimana tubuh mereka tidak terasa seperti milik mereka sendiri, setelah mereka diserang secara seksual.

Bagi Amy sendiri, pole dance terasa seperti terbang. Setelah lulus dari sekolah hukum dan menjadi pengacara, Amy bekerja di bidang teknologi, menjalankan praktik hukum swasta, dan sekarang juga menjalankan 3 studio pole dance.

Banyak orang memberi tahu Amy tentang pengalaman mereka di masa lalu, tentang pekerjaan seks, kekerasan, pemerkosaan, atau agama. Komunitas pole dance adalah surga yang menawarkan tempat aman untuk orang-orang seperti Amy.

#Elevate Women

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela