Dedikasi Rumah Faye dalam Memerangi Perdagangan dan Kekerasan Anak di Indonesia

Hilda Irach23 Jun 2021, 09:00 WIB
Diperbarui 23 Jun 2021, 09:00 WIB
Dedikasi Rumah Faye dalam Memerangi Perdagangan dan Kekerasan Anak di Indonesia

Fimela.com, Jakarta Kasus kekerasan pada anak meningkat selama pandemi. Berdasarkan data dari Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI PPA), sebanyak 4.833 anak Indonesia mengalami kekerasan, 1.962 diantaranya menjadi korban kekerasan seksual, 50 anak korban eksploitasi, serta 61 anak korban perdagangan.

Tak hanya itu, menurut Komisioner Bidang Trafficking dan Eksploitasi Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), perekonomian keluarga yang terganggu akibat pandemi menyebabkan menyebabkan peningkatan praktik pekerja anak.

Dalam hal ini, Yayasan Del bersama Rumah Faye hadir untuk membebaskan anak Indonesia dari perdagangan manusia, kekerasan, dan eksploitasi. Rumah Faye adalah Organisasai Perlindungan Anak Indonesia yang merupakan salah satu unit dan afiliasi dari Yayasan Del.

Didirikan pada tahun 2014 oleh Faye Simanjuntak, cucu dari pendiri dan pembina Yayasan Del, Luhut Binsar Pandjaitan dan Devi Simatupang, berdirinya Rumah Faye didorong akan perhatian Faye terhadap isu perdagangan anak yang marak di Indonesia.

“Saya sangat terinspirasi dengan cerita dan pengalaman rekan-rekan relawan saya ketika saya menjadi relawan organisasi di daerah rawan perdagangan anak. Hal ini yang menggerakan saya untuk memfasilitasi diskusi peer-to-peer mengenai isu tabu seputar hak anak dan perlindungan anak,” ujar Faye, dalam pertemuan virtual, Senin (21/06/2021).

Program-program Rumah Faye

Dedikasi Rumah Faye dalam Memerangi Perdagangan dan Kekerasan Anak di Indonesia
Rumah Faye menginisiasi program 3P (Pencegahan, Pembebasan, dan Pemulihan) untuk melindungi anak korban perdagangan, kekerasan, dan eksploitasi. (Foto: Unsplash.com/Roman Kraft).

Untuk mewujudkan visinya, Rumah Faye memprakarsai program 3P, yaitu Pencegahan, Pembebasan, dan Pemulihan. Melalui program pencegahan, Rumah Faye melakukan edukasi kepada anak-anak seputar perdagangan anak, hak anak, dan eksploitasi anak agar tak menjadi tabu di tengah masyarakat.

Sementara pada program Pembebasan dan Pemulihan, Rumah Faye bekerja sama dengan organisasi, tokoh, dan apparat penegak hukum, mendirikan Rumah Aman di Batam untuk memberikan akses pelayanan, pendampingan hukum, dan kelas kreatif untuk memberdayakan anak-anak.

Pencapaian Rumah Faye

Dedikasi Rumah Faye dalam Memerangi Perdagangan dan Kekerasan Anak di Indonesia
Rumah Faye menginisiasi program 3P (Pencegahan, Pembebasan, dan Pemulihan) untuk melindungi anak korban perdagangan, kekerasan, dan eksploitasi. (Foto: Unsplash.com/Roman Kraft).

Pegiat Perlindungan dan Pemberdayaan Anak dan Perempuan, RD Chrisanctus Paschalis Saturnus mengatakan, Kota Batam dipilih karena memiliki potensi yang besar terhadap kasus perdagangan anak.

“Oleh karena itu, saya mendukung pelayanan yang diberikan Rumah Faye selama ini bagi masyarakat Indonesia, khususnya bagi korban perdagangan manusia, kekerasan, dan eksploitasi. Advokasi mengenai persoalan tersebut harus terus digiatkan agar semakin banyak orang tergerak hatinya untuk bersatu menangkal kejahatan yang luar biasa ini.” Terangnya.

Hingga saat ini, Rumah Faye telah berhasil mendampingi 136 anak perempuan dari perdagangan, kekerasan seksual, dan prostitusi. Faye percaya, jika semakin banyak orang sadar akan isu ini dan mau bergerak untuk peduli dan melindungi orang di sekitarnya, maka maka perubahan akan terjadi dan anak-anak Indonesia mampu untuk mendapatkan perubahan akan terjadi dan anak-anak Indonesia mampu untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Aksi peduli lingkungan

Dedikasi Rumah Faye dalam Memerangi Perdagangan dan Kekerasan Anak di Indonesia
Rumah Faye menginisiasi program 3P (Pencegahan, Pembebasan, dan Pemulihan) untuk melindungi anak korban perdagangan, kekerasan, dan eksploitasi. (Foto: Unsplash.com/Noah Buscher).

Dalam rangka perayaan ulang tahun Yayasan Del yang ke-20, Yayasan Del dan Rumah Faye akan melakukan penanaman 1.000 bibit pohon bakau di Pulau Ngenang, Kecamatan Nongsa. Bukan tanpa alasan, Faye menilai isu sosial juga memiliki hubungan terhadap isu lingkungan.

“Acara penanaman pohon bakau ini mengusung tema “Hijau Bumiku, Aman Masa Depanku”. Tema ini merepresentasikan semangat dan harapan kami untuk mewariskan kecintaan dan penghargaan terhadap lingkungan yang nantinya akan menjadi tempat bagi generasi mendatang untuk bertumbuh dan berkembang secara optimal,” ungkapnya.

Faye menambahkan bahwa kegiatan ini akan melibatkan Pemerintah Daerah, Kader Posyandu, dan Komunitas Perlindungan Anak dan Perempuan (KPAP), Forum Anak, dan masyarakat sekitar Pulau Ngenang.

“Kami berharap lewat kegiatan tersebut, kepedulian masyarakat Indonesia terutama anak-anak terhadap pelestarian lingkungan akan meningkat. Selain itu, kami juga percaya Pulau Ngenang dapat menjadi tempat yang optimal bagi anak-anak untuk bertumbuh dan berkembang secara optimal.” tutupnya.

 

#Elevate Women

Lanjutkan Membaca ↓
PLAYLIST VIDEO 28 JULI 2021