Kisah Taarufku yang Berakhir Indah, meski Mempersiapkan Pesta Sederhana Tidaklah Mudah

Endah Wijayanti14 Jul 2021, 10:45 WIB
Diperbarui 14 Jul 2021, 10:45 WIB
bridezilla dan taaruf

Fimela.com, Jakarta Persiapan pernikahan seringkali dipenuhi drama. Ada bahagia, tapi tak jarang juga ada air mata. Perjalanan menuju hari H pun kerap diwarnai perasaan campur aduk. Setiap persiapan menuju pernikahan pun selalu punya warna-warninya sendiri, seperti kisah Sahabat Fimela dalam Lomba Share Your Stories Bridezilla: Perjalanan untuk Mendapat Status Sah ini.

***

Oleh:  Anindita Paramastuti

Bicara soal persiapan pernikahan, hal yang paling kuingat adalah aku mempersiapkannya dengan perasaan yang tidak berbunga-bunga seperti kebanyakan wanita yang biasanya berbahagia menunggu hari H. Aku justru merasa mendapat banyak tekanan, baik dari diriku sendiri maupun orang lain.

Padahal pernikahanku rencananya diadakan dengan sangat sederhana. Bukan berupa pesta tetapi lebih mengusung konsep syukuran biasa, mengingat dana yang kumiliki untuk acara pernikahanku sangatlah terbatas. Tetapi entah mengapa, banyak hal yang membuatku merasa lelah dengan persiapan pernikahanku saat itu, bahkan sempat terbersit untuk tidak melanjutkannya, tetapi aku kembali menyadarkan diriku dalam kebimbangan yang menurutku tidak beralasan itu.

Perkenalan Dengannya

Sebelumnya akan sedikit kuceritakan tentang awal mula aku berkenalan dengannya, si calon suamiku saat itu. Mungkin ini juga sedikit menjawab pertanyaan mengapa aku tidak berbunga-bunga saat mempersiapkan pernikahanku.

Jadi, aku berkenalan dengannya melalui salah satu media taaruf yang ada di salah satu jejaring sosial. Aku tidak mengenal dia sebelumnya. Kami berkomunikasi hanya melalui aplikasi Whatsapp, itu pun di dalam grup yang diperantarai oleh sepasang suami istri yang merintis media taaruf tersebut.

Tujuan adanya perantara adalah untuk menghindari khalwat atau berdua-duaan di antara kami. Tentu saja awalnya aku canggung karena merasa diawasi dan rasanya tidak bebas jika ingin menanyakan sesuatu yang bersifat pribadi, tapi akhirnya aku mulai terbiasa karena perantara tersebut tidak mencampuri urusan kami selama kami tetap patuh pada aturan. Bahkan kami juga membahas kondisi keuangan, permasalahan keluarga, kesehatan, semuanya di grup tersebut.

Selama masa tanya jawab itupun aku belum bertemu dengannya kurang lebih selama 5 bulan, juga tidak bertukar foto karena peraturannya seperti itu dan jika ingin mengetahui fisik calon pasangan maka lebih baik bertemu secara langsung (walaupun aku sudah memantau akun media sosialnya), jadi kami mengenal masing-masing hanya dari sesi tanya jawab tersebut.

Sampai di sini sebenarnya semua baik-baik saja, tetapi aku masih merasa aneh karena tidak mengenal secara visual, dan juga siapa pun bisa saja berbeda ketika mengobrol di dunia maya dengan ketika mengobrol secara langsung. Bahkan aku merasa tidak yakin dengannya, sempat terbersit untuk tidak melanjutkan proses taaruf tersebut, tapi aku memilih untuk melanjutkan karena aku merasa tidak ada alasan untuk mundur.

Intinya memang semuanya baik-baik saja, hanya kurang sreg, tidak ada kupu-kupu yang beterbangan di perut, tidak ada perasaan berbunga-bunga, tidak ada perasaan rindu ingin bertemu, selayaknya yang dirasakan orang yang sedang jatuh cinta. Itu saja.

Memutuskan Menerima Pinangannya

Ilustrasi pertunangan
Ilustrasi pertunangan. (Gambar oleh Bairyna dari Pixabay)

Lima bulan kemudian sejak kami berkenalan, akhirnya kami melakukan nadzor (melihat/ bertemu) pertama kali. Dia bertandang ke rumahku sendirian. Penilaian visual aku terhadapnya adalah cukup good looking. Tapi hal tersebut belum mengubah apa pun karena memang selama ini kami hanya berdiskusi, bukan bermanja-manjaan.

Kami saling bertanya tentang visi misi, bukan tanya mau malam mingguan ke mana. Bagaimana pun, wanita lebih mudah terlena oleh janji manis, bukan pembicaraan logis. Lebih mudah terjebak dengan perhatian, bukan omongan rencana masa depan.

Namun saat itu aku tetap mantap menerima pinangannya setelah beberapa kali bertemu dalam pembicaraan serius karena logika aku mengatakan bahwa visi misi kami sama. Maka, menurut aku itu akan memudahkan jika kami bersama.

Persiapan Acara Pernikahan

Dari awal persiapan pernikahan, aku sudah mendiskusikan dengan pihak calon suami bahwa acara di pihakku akan diadakan secara sederhana dan yang terpenting adalah sesuai tuntunan syariat yang kami yakini. Aku melewatkan dokumentasi pra nikah, pesta lajang, juga prosesi adat.

Intinya, acara pernikahanku adalah prosesi akad nikah dan dilanjutkan dengan makan-makan. Tetapi tentu saja aku yang merasa generasi kekinian ini memiliki keinginan yang ‘lebih’. Setidaknya aku ingin ruang akadku dihias dengan bunga-bunga agar terlihat indah dan syahdu, namun aku aku terlalu takut untuk mengutarakan pada ibu yang memegang dana anggaranku.

Bahkan banyak keinginanku yang akhirnya hanya kupendam. Seringkali aku menangis setelah berdebat dengan ibu. Padahal yang aku inginkan hanyalah diakui keinginanku, meski bisa jadi hal tersebut tidak bisa terwujud.

Aku hanya ingin mencoba mengutak-atik anggaran danaku sendiri, tapi ibu merasa beliau yang lebih tahu. Menurut ibuku, dekorasi itu tidak penting, sama tidak pentingnya dengan rias, dokumentasi, atau seragam keluarga.

Ibuku hanya ingin dana digunakan maksimal di vendor makanan. Titik. Meski begitu, pada akhirnya aku tetap menyewa jasa dokumentasi, juga dekorasi yang aku pesan H-1 pernikahan.

Biarkan aku menceritakan hal yang paling kuingat di persiapan pernikahanku. Sejujurnya saat itu aku sangat menginginkan aku bisa mengenakan gaun pernikahan impianku dengan riasan sedikit tebal supaya aku terlihat ‘manglingi’, seperti yang kebanyakan teman-temanku kenakan di hari bahagia mereka.

Tapi aku cukup sadar diri, dengan kondisi keuanganku saat itu rasanya terlalu egois jika aku memaksakan untuk menganggarkan dana berjuta-juta hanya demi memenuhi obsesi menjadi putri sehari. Apalagi ibuku berbeda dengan orang tua kebanyakan, beliau cenderung menganut paham “pesta pernikahan itu yang penting makanannya enak, percuma kamu dandan cantik, dekorasi bagus, tapi makanannya nggak enak”. Jadilah aku dengan cepat memutuskan apa yang akan aku kenakan di hari pernikahanku, sebelum aku semakin labil akibat terlalu banyak menonton akun-akun pernikahan impian.

Kalian tahu apa yang akan aku pakai? Adalah gamis putih oleh-oleh dari ibuku ketika umroh yang belum pernah aku gunakan sama sekali. Ya. Bahkan ibuku saja tidak menyangka aku memutuskan seperti itu.

Kalian tahu kan bagaimana kualitas gamis oleh-oleh? Tentu saja aku harus melakukan permak di beberapa bagian supaya bajunya terlihat ‘serius’. Dan bahkan aku perlu menambahkan kain untuk dalaman jika aku tidak ingin lekuk tubuhku masih terlihat. Tetapi aku sudah mantap dengan ini dan aku juga tidak mau merusak hari bahagiaku sendiri meski aku sudah belajar merias sejak beberapa bulan sebelumnya, jadi aku tetap harus menyewa jasa perias untuk aku dan ibuku.

Syukurnya ibuku menyetujui dan aku mendapatkan perias yang portofolionya cukup bagus serta tarifnya terjangkau menurutku. Cukup dengan empat ratus ribu rupiah, aku dan ibuku bisa terlihat berbeda dari biasanya.

Sebenarnya masih banyak lagi permasalahan lain yang membuat aku banyak menguras air mata selama persiapan. Begitu juga dengan ibuku. Apalagi kami mempersiapkannya hanya berdua, karena kupikir mempersiapkan acara sederhana tidak akan begitu menguras tenaga. Tapi nyatanya terkurasnya pikiran jauh lebih melelahkan daripada tenaga.

Belum lagi keluarga dari ibuku yang sempat 'menyumbang' perdebatan di hari menjelang pernikahanku. Juga bapakku yang seringkali membuat panik tetapi lagi-lagi kami yang mencari solusinya sendiri.

Setelah Pesta

menikah
Menikah./Copyright Anindita Paramastuti

Mungkin jika sekilas orang memandang, acara pernikahanku hanyalah acara sederhana yang seharusnya tidak akan ada masalah untuk mempersiapkannya. Tapi aku yakin, setiap calon pengantin diuji dengan masalah yang berbeda-beda, termasuk aku.

Ada calon pengantin yang diuji dengan pasangannya, dengan keluarga pasangannya, pun aku yang diuji dari intern-ku sendiri. Tetapi pada akhirnya aku menyadari bahwa pernikahan itu bukan soal pesta sehari, khususnya bagi aku yang memiliki dana terbatas untuk menyelenggarakannya. Dan aku sangat bersyukur, acara pernikahanku tidak memberatkan pihak manapun. Kami mengadakan pesta sesuai kemampuan kami, dan selesai acara pun kami bisa beristirahat dengan tenang karena tak perlu pusing memikirkan pengembalian utang.

Lebih dari itu, banyak hal yang sebenarnya jauh lebih penting untuk dipersiapkan, terutama soal peran baru aku nantinya, di mana tanggung jawabku sudah berganti menjadi seorang istri, pun aku juga tidak akan menanggalkan peranku sebelumnya sebagai anak dari kedua orang tuaku. Maka dari itu aku menyadari bahwa seharusnya fokus dalam persiapan pernikahan adalah memperbaiki diri dan banyak belajar.

Aku pun merasa bahwa setelah menikah aku masih memiliki banyak kekurangan dan ketidaktahuan atas peranku. Tetapi suamiku, seseorang yang awalnya asing bagiku, yang bahkan ketika akad perasaanku padanya masih belum seratus persen, kini aku sangat bersyukur bisa membersamainya karena dia bersedia menerima kekuranganku dan menuntunku untuk belajar menjadi lebih baik dari sebelumnya.

#ElevateWomen

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela