Menikah dengan Keterpaksaan saat Masih Kelas 2 SMA, Ini yang Sekarang Kurasakan

Endah Wijayanti15 Jul 2021, 08:15 WIB
Diperbarui 15 Jul 2021, 08:15 WIB
loveless marriage

Fimela.com, Jakarta Persiapan pernikahan seringkali dipenuhi drama. Ada bahagia, tapi tak jarang juga ada air mata. Perjalanan menuju hari H pun kerap diwarnai perasaan campur aduk. Setiap persiapan menuju pernikahan pun selalu punya warna-warninya sendiri, seperti kisah Sahabat Fimela dalam Lomba Share Your Stories Bridezilla: Perjalanan untuk Mendapat Status Sah ini.

***

Oleh: RS

Pernah membayangkan, bagaimana rasanya menerima sesuatu karena keterpaksaan? Saya terkadang teringat masa-masa remaja dulu.

Saat itu saya masih ingin bersenang-senang dengan masa muda, belum siap berumah tangga, karena masih duduk di kelas 2 SMA. Apalagi sejak kecil saya bercita-cita jadi seorang guru, dan ingin jadi anak kebanggan orang tua. Namun apa hendak dikata, takdir berkata lain. Saya dipaksa menikah dengan orang yang belum saya kenal betul sifat dan kepribadiannya. Istilahnya hanya perkenalan singkat saja.

Kisah ini berawal dari perkenalan kami di rumah tante saya. Yang mana tante saya itu adalah neneknya dia (calon suami saya pada waktu itu). Jadi yah, sebenarnya kami juga ada hubungan keluarga. Saat itu, dia datang untuk berlibur. Tidak ada yang istimewa di awal pertemuan kami, namun ternyata dia sudah menaruh hati di awal.

Setelah waktu pun berjalan, masa-masa pendekatan dilalui dengan pertemuan-pertemuan singkat saja, sebelum akhirnya dia kembali lagi ke kota. Hari-hari selanjutnya, kami tetap berkomunikasi lewat surat. Masa-masa yang seharusnya bisa jadi menyenangkan seperti anak muda lainnya yang sedang dilanda kasmaran.

Hari demi hari saya lewati seperti biasa. Namun tiba-tiba saja ada berita bahwa saya akan dinikahkan dengan dia. Bagaikan petir menyambar tubuh saya, hancurlah sudah cita-cita saya selama ini. Tubuh ini rasanya lemas seketika itu juga. Air mata tak henti-hentinya berderai membayangkan kehidupan yang belum bisa atau belum siap saya jalani. Bisa dibilang masa remaja saya terlalu singkatlah.

Tak Ingin Anak-Anak Kami Mengalami Hal yang Sama

tangan pasangan cinta
ilustrasi./created by freepic.diller - www.freepik.com

Demi menjalani perintah orangtua dan saya tidak mau dikatakan anak durhaka, terpaksa saya ikuti kemauan orangtua saya. Apalagi si dia/calon suami saya sempat membujuk saya, katanya nanti kalau sudah menikah baru sekolah saya dilanjut. Tapi ternyata itu hanya bualan semata, karena setelah kami menikah dia sama sekali tidak menepati janjinya. Apalagi waktu itu dia juga belum punya pekerjaan tetap.

Saat itu pikiran saya sangat bercampur aduk. Akan bagaimana nantinya keadaan saya setelah menikah? Usaha/kegiatan apa yang akan saya lakukan selama menikah agar bisa menghasilkan uang untuk sehari-harinya? Bagaimana rasanya malam pertama itu? Bagaimana rasanya jadi seorang istri yang harus mengurus keperluan dan kebutuhan suami? Bagaimana kalau suami ternyata berkhianat? Bagaimana hubungan saya dengan mertua saya nantinya? Bagaimana dan bagaimana lainnya. Hanya itu yang selalu ada di pikiran saya setiap harinya, di hari menjelang pernikahan kami.

Seminggu sebelum acara pernikahan kami, kerabat pun sudah mulai berdatangan ke rumah orangtua. Membawa segala macam keperluan, dan membahas tentang acara pernikahan kami. Namun ternyata ada beberapa keluarga yang tidak setuju, salah satunya adalah om saya, saudara ibu saya.

Beliau satu-satunya yang setuju saya menyelesaikan sekolah terlebih dahulu baru menikah. Tapi orangtua tetap bersikeras acara harus dilangsungkan. Hingga mereka nyaris baku hantam dan memicu keributan satu rumah. Campur aduk penuh beban di kepala dan dadaku rasanya.

Akhirnya akad nikah pun terlaksana sesuai dengan yang diharapkan oleh sebagian keluarga yang menyetujuinya. Setelah itu kami dibawa ke pelaminan untuk duduk bersanding. Tanpa sesungging senyuman di bibir saya sampai acara itu selesai.

Bersyukur, saat ini saya masih bisa mempertahankan keutuhan rumah tangga, meski harus dimulai dengan sebuah keterpaksaan. Memiliki anak perempuan dan laki-laki yang sudah dewasa membuat saya dan suami akhirnya berpikir untuk tidak mengulang keterpaksaan yang sama lagi pada mereka. Biarlah mereka sendiri yang memutuskan pilihannya dari hati, selama mereka tetap bahagia maka kami pun sebagai orangtua akan selalu mendukung. Hingga mereka berumah tangga nanti pun, sebagai orangtua kami akan berusaha selalu ada agar mereka tidak merasa tersisihkan.

Sekian kisah nyata saya, semoga pembaca dapat mengambil beberapa pelajaran dari kisah tersebut.

#ElevateWomen

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela