Cincin Sudah di Tangan, tapi Restu Masih Berupa Angan

Endah Wijayanti15 Jul 2021, 13:45 WIB
Diperbarui 15 Jul 2021, 13:45 WIB
bridezilla dan cincin tangan

Fimela.com, Jakarta Persiapan pernikahan seringkali dipenuhi drama. Ada bahagia, tapi tak jarang juga ada air mata. Perjalanan menuju hari H pun kerap diwarnai perasaan campur aduk. Setiap persiapan menuju pernikahan pun selalu punya warna-warninya sendiri, seperti kisah Sahabat Fimela dalam Lomba Share Your Stories Bridezilla: Perjalanan untuk Mendapat Status Sah ini.

***

Oleh: Adani Ladita

Bukan menikah namanya apabila tidak ada ujian sebelum melaluinya. Well, banyak orang yang berpendapat seperti itu. Ternyata benar saja ketika hati sudah mantap dan jiwa sudah siap, masih banyak rintangan yang harus dilalui sebelum mendengar kata "SAH!"

Saya dan pasangan sudah bersama kira-kira 10 tahun lamanya. Betul, kamu tidak salah baca, kami sudah bersama sejak di bangku Sekolah Menengah Pertama. Kami bertemu di perpustakaan SMPN 10 Denpasar, itu sekolah kami dulu.

Pada saat itu, saya masih duduk di bangku kelas 2 SMP dan dia satu tahun di atas saya. Kami sama-sama sedang mengikuti pelatihan untuk lomba Bahasa Inggris di SMA terbaik di Denpasar. Saya pada cabang story telling dan dia pada cabang quiz contest. 

Saya masih ingat waktu itu rambut kepang dua dengan pita putih di bagian bawah, mengikuti aturan sekolah negeri di Denpasar, baju kedodoran dan rok di bawah lutut. Sedangkan dia, selayaknya anak SMP namun selalu dengan headset-nya. Pada saat itu saya merupakan siswi yang culun, berkacamata dan penuh ambisi, sedangkan dia kakak kelas yang eksis dan juga pintar di angkatannya. 

Cepat rasanya, dari perkenalan lalu lanjut chat di Facebook dan akhirnya memiliki status untuk hubungan kami berdua. Saya pikir, mungkin ini cinta monyet saja.

Selanjutnya dia pindah ke Jakarta dikarenakan mengikuti kedinasan orang tua. Tidak mungkin, seorang anak berusia 13 tahun dapat melalui Long Distance Relationship Jakarta – Denpasar. Ternyata itu hanya pikirku. Satu tahun kemudian dia menghabiskan liburan di Denpasar hanya untuk bertemu saya. Pacar yang sudah tidak ditemui selama setahun, dan masih berumur 14 tahun.

Setelah terus–terusan melakukan hubungan jarak jauh, Denpasar–Jakarta lalu Bandung–Jakarta dan Malang–Jakarta. Tahun 2019 akhirnya saya pindah ke Jakarta, menempuh hidup baru di Ibukota menjadi corporate worker seperti mimpi saya. Hidup tentunya serasa indah sekali, yang ditunggu–tunggu. Hidup satu kota bersama, ketika bertemu tidak lagi via video call.

 

Restu dari Orangtuaku

bridezilla dan cincin di tangan
Cincin di tangan./Copyright Adani Ladita

Februari 2021, saya dan pasangan menetapkan akan menikah di 2021, calon mertua pun sudah setuju dan memberikan dukungan pada kami. Dikarenakan keluarga saya masih di Bandung, saya dan pasangan memutuskan untuk berangkat ke Bandung apabila kami sudah mempersiapkan dengan matang.

Maret 2021, pasangan saya membelikan cincin cantik yang selama ini saya idamkan. Kami tersenyum sumringah. Kami berdua bahagia walaupun baru berusia 24 tahun dan 23 tahun, kami sudah bisa mempersiapkan hal–hal vital ini sendiri. Rasanya dunia berpihak kepada kami dan akhirnya jalan terbuka lebar.

Mendekati waktu pasangan saya berkunjung, Covid 19 menanjak hebat, membuat Ayah saya menyarankan lain waktu. Ayah saya meminta untuk pasangan saya siap apabila skill mengajinya diuji. Namun aneh rasanya, apakah ini hanya sekadar waktu yang tidak tepat atau memang ada alasan lain? Kami terus berpikir positif dengan berkunjung ke rumah kakek saya dengan ayah saya, berusaha mendekat dan memaksimalkan setiap momen agar semua berjalan lancar.

Saat kami pikir semuanya baik–baik saja, hal lain muncul sebagai ujian kami, Ibu saya ternyata memblokir whatsapp pasangan saya. Khawatir, sedih, takut rasanya. Bagaimana apabila hubungan 10 tahun ini tidak berakhir dipelaminan karena terganjal restu?

Sampai sekarang ibu saya masih belum merespons pesan dari pasangan saya. Ibu saya juga berkata menikah saat pandemi bukan waktu yang tepat, karena menurutnya menikah perlu mengundang banyak orang. Padahal, sejujurnya kami menyukai ide private wedding.

Bukan hanya itu, saya dan pasangan juga sudah menanyakan beberapa venue, wedding organizer, dan juga persiapan lainnya. Dari yang menyediakan 50 pax sampai 100 pax. Kami rasa menikah sederhana tidak masalah. Karena yang menjalani penikahan toh hanya 2 pax saja, saya dan pasangan saya. 2 pax inilah yang akan mengarungi bahtera rumah tangga, 2 pax ini lah yang akan menempuh hidup baru. Dan, semoga 2 pax ini lah yang segera mendapat restu.

#ElevateWomen

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela