Pengalamanku Menikah di Masa Pandemi, Sederhanakan dan Syukuri Setiap Prosesnya

Endah Wijayanti15 Jul 2021, 14:35 WIB
Diperbarui 15 Jul 2021, 14:35 WIB
menikah

Fimela.com, Jakarta Persiapan pernikahan seringkali dipenuhi drama. Ada bahagia, tapi tak jarang juga ada air mata. Perjalanan menuju hari H pun kerap diwarnai perasaan campur aduk. Setiap persiapan menuju pernikahan pun selalu punya warna-warninya sendiri, seperti kisah Sahabat Fimela dalam Lomba Share Your Stories Bridezilla: Perjalanan untuk Mendapat Status Sah ini.

***

Oleh:  Nani Suryono

Banyak yang mengeluhkan kalau menikah di masa pandemi itu menyedihkan karena segalanya serba terbatas. Well, bisa kita pahami karena setiap orang pasti mempunyai pernikahan impian masing-masing. Tapi semua itu balik lagi ke persepsi masing-masing, bagaimana kita bisa menerima keadan dan membuat semuanya menjadi istimewa.

Saya dan pasangan salah satunya yang menikah di masa pandemi ini tapi kami banyak banget bersyukur dan tidak menjadikan kondisi ini sebagai hambatan. Kami mempersiapkannya dengan penuh suka cita karena pada akhirnya hari bahagia yang kami tunggu untuk hidup bersama akan terwujud.

Standar pernikahan tidak kami buat rumit, tapi kami membuat semuanya menjadi simpel. Sebenarnya nggak menyangka kalau pasanganku melamar secepat itu di luar dari bayangan. Karena di awal kami bersama, pasangan sedang melanjutkan lagi kuliah profesinya untuk menyandang gelar insinyur jadi kami sepakat untuk mempersiapkan pernikahan setelah dia wisuda. Namun tidak disangka memang jika sudah saatnya Allah melihat kesiapan kami dan diberikan jalan itu.

Menyiapkan Segalanya dengan Suka Cita

bridezilla dan batal lamaran
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/KhrystynaShynkaruk

Suatu malam ketika saya sedang lembur di kantor karena closing-an akhir tahun, tiba-tiba pasangan saya WA singkat, “Aku ada kabar baik untuk kita, sebentar lagi kita nikah." What?

Seketika senang, bingung dan bertanya-tanya sekaligus di benak saya saat itu. Kemudian dia menjemput ke kantor saya, dan barulah dia ceritakan lebih detailnya.

"Kita akan nikah sekitar dua bulan lagi," tuturnya dan dia kasih tahu tanggal lengkapnya, saya speechless campur bahagia banget mendengarnya saat itu. Ternyata pasangan saya beserta kedua orang tuanya dan kedua orang tua saya diam-diam mereka menentukan tanggal pernikahan dan yang membuat saya salut musyawarah ini dilakukan secara online lewat video call, karena di masa pandemi kami meminimalisir perjalanan ke luar kota karena kedua orang tua saya di Jawa Barat sedangkan saya dan pasangan beserta keluarganya tinggal di Jakarta. Surprisingly banget dan ini keren buat saya, diam-diam nggak banyak janji tahu-tahu sudah menentukan tanggal pernikahan.

Kami mulai persiapan dengan mengurus segala dokumen persyaratan nikah. Hal ini tidak sulit karena standar saja yang disiapkan data pribadi dan tes kesehatan. Kemudian kami mempersiapkan hal-hal lainnya, seperti undangan dan souvenir pernikahan.

Dengan mudah kami memesan keduanya di E-Commerse saja dengan modal teliti baca review dan cek foto asli pembeli lainnya. Alhamdulillah kedua hasilnya sesuai dengan yang kami harapkan cukup belanja online saja tidak perlu mencari-cari ke tempatnya langsung. 

Berikutnya baju pengantin, saya percayakan orang rumah saya untuk mengeceknya. Saya hanya request warna saja dan percaya nggak kalau kami pengantin tidak ada yang fitting satu pun? kedua baju pengantin baik gaun maupun baju adat langsung kami pakai saat hari H dan semuanya pas. Alhamdulillah lagi semuanya sesuai dengan yang kami inginkan. Hal ini pun kenapa kami tidak fitting karena meminimalisir bepergian ke luar kota di masa pandemi ini. Katering dan lain-lainnya pun saya percayakan pada orang tua dan saudaraku.

Mensyukuri Setiap Prosesnya

bridezilla dan tanpa pesta
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/Vershinin89

Sejauh persiapan pernikahan ini semuanya berjalan lancar. Ada sedikit kendala di tengah perjalanan H-2 minggu gedung yang sudah kami siapkan terpaksa ditutup karena covid di wilayah saya sedang meningkat. Panik tentunya tapi kami tidak membuat hal itu sebagai hambatan, kami okus ke solusi mencari gedung alternatif lain dan alhamdulillah lagi langsung dapat penggantinya.

Kartu undangan pun tentunya sudah dicetak dengan alamat gedung awal tapi kami upayakan dengan menutup nama lokasi gedung lama menjadi nama lokasi gedung baru karena kebetulan undangan belum disebarkan, hanya undangan online yang sudah kita infokan dan satu-satu kita infokan ulang untuk penggantian gedung. Merepotkan? Tentu tidak, kami anggap ini sebagai ajang silaturahmi menghubungi teman-teman dan kerabat lainnya lewat chat.

Hari H tiba, hari yang paling ditunggu-tunggu dalam hidup dan puncak bahagia itu terasa ketika lelaki pilihanku mengucapkan ijab qabul, penuh haru dan syukur. Memang unik juga mengadakan pernikahan di masa pandemi ini, tidak terbayang sebelumnya akan mengalami pernikahan di masa pandemi seperti ini, di mana tamu undangan diharuskan mengecek suhu tubuh dan diberikan masker wajib dipakai dan ada yang pakai face shield juga untuk keluarga.

Kemudian tamu menemui pengantin tanpa berjabat tangan, dilanjut makan prasmanan sudah disediakan sarung tangan plastik untuk masing-masing dan duduk dikursi berjarak dan ada tim covid juga yang mengawasi acara.

Begitulah persiapan pernikahan kami di masa pandemi dan sampai hari H-berjalan lancar dan berkesan, kelak pengalaman ini akan kami ceritakan ke anak cucu. Hadiahnya seminggu sebelum pernikahan berlangsung, kebetulan suami menjalakan wisuda.

Intinya kalau niat kita menjalani pernikahan karena untuk mencari rida Allah, insyaallah semua akan dimudahkan bahkan banyak hal-hal baik yang tak terduga. Untuk kalian teman-teman yang sedang mempersiapkan pernikahan di masa pandemi ini, don’t worry, syukuri, make it simple, Insya Allah semuanya lancar.

#ElevateWomen

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela