Hubungan Terpaksa Diakhiri karena Perbedaan Suku, tapi Berharap Masih Bisa Bersatu

Endah Wijayanti18 Jul 2021, 09:15 WIB
Diperbarui 18 Jul 2021, 09:15 WIB
couple

Fimela.com, Jakarta Oleh:  Faldorama

Cerita ini dimulai ketika aku mulai merantau ke kota Semarang untuk kuliah disalah satu universitas di kota tersebut. Kuliah di perantauan dengan jurusan Teknik membuatku terkadang terlalu sibuk dengan hal-hal perkuliahan dan tidak sempat berpikir untuk memulai membangun hubungan dengan perempuan.

Dua tahun berjalan, tidak sengaja aku ikut dalam suatu kepanitian dan bertemu dengan seorang perempuan berkacamata yang menarik perhatianku karena sifatnya yang humoris, mudah bergaul dengan siapa pun dan kami juga memiliki hobi yang sama yaitu mendaki gunung.

Setelah kepanitian ternyata kami semakin dekat, kami mulai menjalin komunikasi yang lebih sering sehingga membuat kami semakin mengenal satu sama lain dan tumbuh perasaan cinta. Setelah 5 bulan masa pendekatan, akhirnya aku memberanikan diri untuk menyatakan perasaanku kepada dia ketika selesai ibadah di Gereja.

Perasaan sangat bahagia ketika mendengara kalimat iya aku menerima kamu sebagai pasanganku. Kami pun berdoa bersama di Gereja semoga hubungan ini kelak akan berakhir di Altar Gereja dengan aku mengucap janji pernikahan kita.

Hubungan Tak Bisa Dilanjutkan

faldorama
Catatan kecil./Copyright Faldorama

Masa pacaran yang berjalan selama hampir satu tahun terasa sangat berkesan. Kami memiliki kebiasaan untuk menuliskan catatan kecil ketika mengirimkan sesuatu ke kos kami masing-masing, catatan ini untuk mengingatkan hal yang terjadi pada saat itu dan berjanji untuk tidak membuang dan selalu mengumpulkan catatan kecil tersebut.

Dia merupakan perempuan yang sangat kreatif, ketika aku ulang tahun dia selalu memberikan kado hasil dari tangannya sendiri seperti lukisan, di samping itu dia juga mengajariku untuk lebih dekat dengan Tuhan dengan cara berpuasa ketika menjelang Hari Raya Paskah. Aku merasa sangat terberkati dan beruntung memiliki pasangan yang seperti dia.

Akhirnya waktu wisuda pun tiba, hal ini membuatku senang namun di satu sisi aku merasa takut apakah keluargaku bisa menerima dia sebagai pasanganku karena selama berpacaran dengan dia keluargaku belum pernah bertemu dengan nya secara langsung dikarenakan aku memang ingin mengenalkan pasanganku secara langsung ketika telah menyelesaikan pendidikan di perkuliahan. Setelah acara wisuda selesai, orangtuaku pun bertemu dengannya dan menyambut baik kepadanya walau aku tau sebenarnya ibuku kurang bisa menerima dia dikarenakan perbedaan suku. Akhirnya kami pun sama-sama kembali ke Jakarta dari perantauan Kota Semarang yang penuh dengan kenangan untuk bekerja di Jakarta.

Tidak terasa 2,5 tahun hubungan ini telah berjalan, akhirnya kami berbicara ke arah yang lebih serius yaitu pernikahan. Kami mulai membuat rekening bersama untuk tabungan persiapan pernikahan kami. Namun permasalahan mulai timbul ketika kami membicarakan resepsi menggunakan adat batak.

Dia bersikeras untuk menikah tanpa adat, sedangkan di keluargaku adat diharuskan dijalankan. Masalah terus bertambah ketika ibuku berbicara secara empat mata kepadaku ketika aku pulang kerja. Ibu berkata bahwa sebenarnya hati kecil ibuku tidak setuju dan tidak memberi restu kepada aku dan dia untuk menikah dikarenakan perbedaan suku kami. Namun aku berusaha keras untuk meyakinkan ibuku bahwa suku bukan alasan untuk kami berpisah.

Di samping itu aku juga meyakinkan pasanganku untuk menikah secara adat batak. Akhirnya dia pun menerima untuk diberi boru secara adat batak. Kami pun mulai memilih gedung untuk pernikahan, memilih jenis undangan dan katering untuk acara resepsi kami.

Tidak terasa H-6 bulan acara yang kami rencanakan batal ketika ibuku berbicara kepadaku bahwa sampai saat ini tidak merestui hubungan kami dan memilih untuk tidak datang ke acara pernikahan apabila pernikahan itu berlangsung. Betapa hancur dan sedihnya diriku bahwa hubunganku dengan perempuan yang menemaniku dari kuliah sampai aku bekerja harus berhenti karena perbedaan suku dan tidak ada restu dari ibuku.

Sempat terpikir aku dan dia untuk melangsungkan pernikahan secara diam-diam. Namun kami masih ingat janji kami di Gereja, bahwa kami berjanji untuk mengikat janji pernikahan di Altar Gereja. Akhirnya kami berdua mengambil keputusan dengan perasaan hancur dan sedih harus merelakan hubungan ini berakhir dan berpisah.

Sampai dengan saat ini kami sama-sama belum memiliki pasangan walau telah berpisah sudah hampir dua tahun. Namun kami masih memiliki harapan untuk bersatu kembali dan selalu mendoakan semoga ibuku bisa menerima dia walau dengan perbedaan suku. Karena kami berdua yakin bahwa kekuatan doa adalah upaya yang paling maksimal untuk bersatu kembali, kami juga percaya Tuhan tidak pernah salah dalam memilih pasangan hidup seseorang dan akan memberikan pasangan hidup yang sesuai dengan kehendakNya.

#ElevateWomen

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela