Lelahnya Mengurus Pernikahan akan Terbayarkan dengan Indahnya Ikatan Suci

Endah Wijayanti17 Jul 2021, 10:35 WIB
Diperbarui 17 Jul 2021, 10:56 WIB
menikah banyak bersyukur

Fimela.com, Jakarta Persiapan pernikahan seringkali dipenuhi drama. Ada bahagia, tapi tak jarang juga ada air mata. Perjalanan menuju hari H pun kerap diwarnai perasaan campur aduk. Setiap persiapan menuju pernikahan pun selalu punya warna-warninya sendiri, seperti kisah Sahabat Fimela dalam Lomba Share Your Stories Bridezilla: Perjalanan untuk Mendapat Status Sah ini.

***

Oleh: Febrianti Syafri

Perkenalkan namaku Febhy. Saat ini usiaku 24 tahun aku sudah mengandung selama 4 bulan dari pernikahanku bersama laki-laki yang kukenal dari teman kerjaku dulu dan kami memutuskan untuk taaruf hingga akhirnya menikah. Bila diingat-ingat ternyata mengurus pernikahan tidaklah mudah, penuh tantangan  dan menguras sedikit emosi. Maka dari itu pada kesempatan kali ini akan kubagikan pengalamanku menjelang pernikahan kepada kalian. Selamat membaca.

Aku menikah tepat di tangal 08 Maret 2021, bila diingat kembali banyak hal yang membuatku ingin menyerah saja pada saat itu karena begitu banyak yang harus kuurus mendekati hari pernikahanku. Mulai dari waktu yang selalu bentrok dengan calon pasangan untuk ke kantor KUA dan izin tidak masuk kantor untuk mengurus pernikahan padahal saat itu pekerjaanku sedang menumpuk dan semua sudah deadline. Hampir 92% aku yang mengurusnya sendiri sebab aku memang terbilang anak yang mandiri dan tak ingin menyusahkan kedua orang tua padahal mereka pun sebenarnya sangat bersedia untuk membantuku.

Mengurus pernikahan memang tidaklah mudah, saat itu aku memulainya dengan mencari vendor untuk fotografer, kebetulan sahabatku memiliki saudara yang ahli dalam pemotretan dan sedang merintis usaha menjadi fotografer wedding. Saat itu kupikir lumayan setidaknya kesibukanku sudah berkurang satu karena vendor untuk dokumentasi acara pernikahan sudah kutemukan dengan uang muka yang hanya kubayar Rp500.000 saja.

Setelah sepakat dengan vendor tersebut kulanjutkan untuk mencari  vendor gaun. Karena aku sedang dalam proses hijrah, aku tak ingin memakai gaun yang ketat juga jilbab yang tidak menutupi dada, dan aku mulai bingung harus mencari vendor di mana karena di kotaku sangat jarang terlihat ada yang menikah dengan pakaian syar’i.

Setelah kutelusuri medi sosial Instagram yang kumiliki, aku mulai menghubungi salah satu vendor yang kurasa cocok untukku. Kami berdiskusi lumayan panjang lewat pesan whatsapp dan beruntungnya itu adalah gaun terbaru yang ia miliki. Vendor itu juga bersedia membuatkan jilbab sesuai dengan keinginanku. Namun ternyata beberapa hari kemudian aku mendapat tawaran sewa gaun yang lebih murah dari teman sepupuku. Hal ini membuatku cukup dilanda kebimbangan apakah harus kubatalkan vendor yang pertama atau kulanjutkan saja karena mengingat budgetku juga hanya seadanya pada saat itu sampai tabungan pribadipun harus turun tangan kugunakan. Akhirnya dengan lama menimbang-nimbang keputusan, kubatalkan vendor sewa gaun yang pertama dengan sopan dan meminta maaf. Untung saja pemiliknya sangat baik hati meski rasanya masih tidak enak namun harus bagaimana lagi.

Oke urusan gaun sudah beres, aku melanjutkan mencari vendor untuk dekorasi. Saat itu aku hanya ingin dekorasi yang sederhana namun tetap cantik dengan tema rustic jaman sekarang. Alhamdulillah tidak sulit kutemukan vendor yang seperti itu, jadilah kami sepakat dengan uang muka Rp.1.000.000.

Setelah itu kulanjut lagi untuk melihat gedung pernikahan yang hanya memberikanku harga sewa paling murah sebesar Rp8.000.000 saja. Sungguh beruntungnya aku pada saat itu karena masih ada gedung yang bagus dengan harga yang tidak menguras kantong. Namun di sinilah permasalahannya dimulai.

Pada saat itu aku berencana menikah pada tanggal 07 Maret 2021 semuanya telah dibicarakan bersama keluarga calon pasangan karena kami ta’aruf jadi tak pernah bertemu berdua. Pembicaraan hanya dilakukan oleh orang tua kami masing-masing karena mengingat pandemi yang harus jaga jarak dan mematuhi protokol Kesehatan membuat kami tidak bisa bertemu langsung.

Namun sayangnya pada saat mengecek gedung  ternyata kami terlambat, tanggal yang kuiinginkan sudah diisi oleh calon pengantin lain dan hal itu membuat kepala ini semakin berat sebab hanya itu satu-satunya gedung yang kuiinginkan dan minim budget. Setelah semuanya  dibicarakan dengan waktu yang lumayan lama dan menguras sedikit emosi, aku tetap harus tenang dan mencoba bersabar menerimanya.

Warna-Warni Mengurus Pernikahan

menikah
Menikah./Copyright Febrianti Syafri

Kupikir mungkin ini adalah ujian sebelum pernikahan, bahkan jika mempelai pria tak setuju  dan membatalkan pernikahannya denganku mau bagaimana lagi, aku harus menerimanya. Setelah berdiskusi dan sedikit berdebat dengan perasaan yang campur aduk akhirnya ia dan keluarganya setuju pernikahan kami diundur sehari. Jadilah kami terpaksa mengatur ulang jadwal pernikahan menjadi tanggal 08 Maret 2021, vendor yang sebagian sudah kuberitahu juga langsung saja kuhubungi untuk mengubah jadwal, untungnya mereka masih kosong di tanggal tersebut.

Selanjutnya untuk urusan makeup, alhamdulillah aku memiliki sepupu yang juga adalah seorang MUA jadi aku tidak mengeluarkan uang sepeserpun kepadanya sebab dia memberiku gratis sebagai hadiah pernikahanku, kemudian untuk urusan makanan kuserahkan kepada ayah dan ibu untuk mengurusnya. Tidak sampai di situ ternyata saat kali pertama aku melakukan fitting gaun pengantin ditemani oleh sahabatku, jilbab yang telah kubeli sendiri tidak sesuai dengan warna gaun pengantin.

Maka kuputuskan untuk pulang dan singgah ke toko jilbab untuk mencari warna jilbab yang senada dengan gaun pengantin yang akan kukenakan nanti. Jarak antara rumah sewa gaun dan toko jilbab itu lumayan jauh tapi aku tetap semangat dan harus semangat.

Setengah perjalanan ternyata langit mulai gelap, angin sedikit kencang, dan satu per satu orang-orang mulai singgah dijalan untuk mengenakan mantel yang mereka bawa. Sementara kami sendiri tidak membawa mantel pada saat itu.

Belum sampai kami di toko tersebut hujan pun turun dengan derasnya, jadilah kami basah kuyup, kaos kaki dan sepatu yang kugunakan juga ikutan basah, terpaksa kubiarkan terkena hujan daripada harus melepasnya. Sesampai di sana hampir saja diriku kecewa sebab toko sudah menutup pintu rukonya, namun untunglah kami masih diberi kesempatan masuk untuk membeli. Dengan waktu yang lumayan lama dan sedikit terburu-buru memilih warna jilbab karena toko itu akan segera tutup, aku mulai membandingkan jilbab yang satu dengan yang lainnya. Maka kuputuskan untuk membeli  salah satu jilbab yang menurutu cocok dengan gaun itu.

Hari demi hari berganti, undangan pernikahan yang telah kupesan sudah datang namun sedikit mengecewakan karena ada beberapa yang rusak dan luntur sehingga tidak bisa digunakan, ingin protes namun kuurungkan saja niatku mungkin ada hikmah di balik semua ini.

Tanpa terasa malam telah tiba dan hari pernikahanku akan dilangsungkan besoknya. Namun saat calon pengantin yang harusnya tidur nyenyak di kasur empuk, masih saja sibuk mengurus segalanya dengan vendor. Tiba-tiba vendor dari bagian dekorasi menghubungiku dan kacaunya pada saat itu ia memberitahu bahwa meja yang akan digunakan untuk akad nanti tidak memiliki kaki. Raga yang harusnya beristirahat itu mulai kembali disibukkan oleh pikiran kalut entah harus bagaimana lagi. Aku diam sejenak memikirkan, memutar otak dan mencari jalan keluar  aku pun memutuskan untuk tidak menggunakan kursi dan meja saat akad, menggantinya dengan akad di atas pelaminan saja.

Pukul 11 malam vendor henna sudah datang untuk menghena tanganku, mata yang sudah kelelahan ini harus tertahan untuk terpejam kembali karena henna yang kugunakan adalah henna yang tahan lama dan butuh waktu lumayan lama untuk kering, agar tidak rusak aku tidak boleh tidur. Jadilah saat itu aku menahan kantuk sampai jam 2 malam dan baru tidur di jam 4 subuh lantaran waktu tidurku yang sudah lewat dan kepala yang terus memikirkan bagaimana hari esok di acara pernikahanku yang begitu cepat kedatangannya.

Begitu banyak cobaan yang berdatangan silih berganti mendekati hari H pernikahan. Namun aku bersyukur karena segalanya dapat terselesaikan dengan baik meski tak sesuai ekpektasi namun sungguh bahagia menikmati hasilnya. Yang dapat kupetik dari perjuangan ini adalah ternyata untuk mengarungi sebuah kehidupan baru yang akan dijalani bersama dalam waktu yang panjang memang perlu diuji, sebab pernikahan bukanlah perlombaan namun pilihan untuk beribadah sepanjang masa?

#ElevateWomen

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela