Pahitnya Masa Kecil Jangan Disimpan, Berdamailah agar Beban di Pundakmu Lebih Ringan

Endah Wijayanti23 Jul 2021, 12:45 WIB
Diperbarui 23 Jul 2021, 12:53 WIB
menikmati kopi

Fimela.com, Jakarta Kenangan pada masa kecil takkan pernah terlupakan. Hari-hari dan waktu yang kita lewati saat masih anak-anak akan selalu membekas di hati. Masing-masing dari kita pun pasti punya kisah atau cerita paling membekas soal masa kecil itu, seperti pengalaman yang dituliskan Sahabat Fimela dalam Lomba My Childhood Story: Berbagi Cerita Masa Kecil yang Menyenangkan ini.

***

Oleh: A

Banyak orang berkata, andai waktu bisa diputar mereka ingin kembali ke masa kecil di mana hanya kebahagiaan yang mereka rasakan. Tapi aku tidak, ya TIDAK. Aku tidak ingin mengulang masa kecilku. Masa di mana aku merasa begitu sedih dan sepi.

Aku anak kelima dari enam bersaudara. Aku ingat saat aku berumur 8 tahun, mama membawa seorang bayi ke rumah kami, seorang bayi laki-laki. Oh iya, mama dan papa sangat menginginkan anak laki-laki. Sedangkan dari keluarga kami hanya abangku sendiri yang laki-laki, sisanya perempuan. Dan mama sudah tidak mau punya anak lagi sejak melahirkanku, karena aku terlahir sungsang dan mama bilang saat itu beliau benar-benar di ambang hidup dan mati.

Setelah adikku yang tiba-tiba hadir, seluruh perhatian tertuju kepadanya. Baju baru, mainan baru, semua hanya untuk adik. Dan tahun berikutnya, kakakku nomor 4 mengalami Depresi. Perlu waktu lebih dari setahun untuk pengobatannya. Semenjak itu apabila aku berkelahi dengan kakakku ini, selalu aku yag dimarahi. Walaupun dia yang salah. Begitu juga apabila aku berkelahi dengan adik, selalu aku yang disalahkan.

Kurangnya perhatian membuatku menjadi malas sekolah dan menjadi murid yang nakal. Orangtuaku sering dipanggil oleh guru BK karena kenakalanku. Dan saat sampai di rumah aku akan dihajar. Ya aku tidak sedang salah menulis. Dihajar bukan diajar. Apakah semenjak itu aku berubah menjadi anak yang baik? TIDAK.

Rasa kesal dan ketidakadilan membuatku sangat marah. Aku sedih, aku kecewa dan aku jadi tidak betah berada di rumah. Pulang sekolah lalu bercengkerama tentang apa yang terjadi hari ini atau makan di meja makan bersama atau sekadar menonton TV bersama sambil bercanda, itu semua hanya ada di sinetron bagiku.

Berdamai dengan Masa Lalu

perempuan mandiri
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/DeanDrobot

Lulus sekolah aku tidak ingin kuliah, aku mencari kerja di luar kota agar aku bisa jauh dari rumah. Aku ingin hidup bebas. Dan aku menjalani pilihan hidupku, hidup bebas tapi hampa. Hampa karena kepahitan dan dendam yang masih aku bawa.

Orang-orang mengenalku sebagai pribadi yang ceria, seperti hidup tanpa masalah. Hingga suatu saat aku lelah, membawa beban ini sepanjang hidup membuatku sangat lelah. Dan aku mencoba berdamai dengan masa laluku, memaafkan semua orang yang telah menyakiti, memaafkan setiap kejadian yang telah terjadi pada kehidupan masa kecilku.

Saat aku sudah berdamai dengan semua itu, aku merasa hidupku jauh lebih tenang. Aku jadi bisa melihat masa laluku dari sisi yang positif. Aku bisa menjadi wanita yang mampu hidup merantau, jauh dari keluarga karena aku sudah ditempa sejak kecil. Aku bisa menjadi pribadi yang lebih berani, lebih peduli dengan sekitar, karena masa kecilku.

Masa kecil mungkin menjadi saat yang paling tidak terlupakan bagi sebagian orang, tapi tidak menutup kemungkinan juga menjadi saat yang paling ingin dilupakan seperti kisahku. Tetapi apa pun itu semoga kita bisa belajar dari masa lalu kita, sehingga kita dapat memberikan masa kecil yang menyenangkan bagi anak-anak kita kelak.

#ElevateWomen

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela