Indahnya Masa Kecil tanpa Memikirkan Cicilan

Endah Wijayanti30 Jul 2021, 15:18 WIB
Diperbarui 30 Jul 2021, 15:18 WIB
perempuan dan pilihan untuk bekerja

Fimela.com, Jakarta Kenangan pada masa kecil takkan pernah terlupakan. Hari-hari dan waktu yang kita lewati saat masih anak-anak akan selalu membekas di hati. Masing-masing dari kita pun pasti punya kisah atau cerita paling membekas soal masa kecil itu, seperti pengalaman yang dituliskan Sahabat Fimela dalam Lomba My Childhood Story: Berbagi Cerita Masa Kecil yang Menyenangkan ini.

***

Oleh: Nini Mahrus Bela

Semakin dewasa, hidup semakin rumit ya? Aku berharap bisa kembali ke masa kecil. Sepertinya hanya bisa diwujudkan dengan mesin waktu. Tapi, itu hanya ada di film setiap hari minggu tahun 2000-an, Doraemon.

Salah satu masa kecil yang masih kuat diingatan adalah masa TK yang selalu kami tertawakan saat kumpul keluarga. Kenapa? Ya, karena aku di masa itu berbeda 180° dengan diriku sekarang. Aku sekarang yang lebih berani dan makan apa saja. Tapi waktu kecil...

Ngompol di sekolah.

Saat guru asik-asik memandu menyanyi lagu Tina Toon, Mama Bolo bolo, Papa Bolo bolo. Eh, ada aku yang gemetaran di kursi karena ngompol di rok sekolah berwarna biru.

Kok ngompol sih? Iya, karena aku sangat pemalu saat usia TK, sampai untuk izin ke toilet saja aku malu. Selain ngompol, aku juga tidak mau sekolah kalau mama tidak tinggal menemaniku di sekolah. Rekor pemaluku ada yang bisa kalahkan? Sepertinya tidak ada.

Saking pemalunya, aku divonis idiot oleh bidan di desa kami. Hei, ibu bidan. Kalau Anda baca ini, anak idiot ini dapat beasiswa prestasi di sekolah loh. Pesanku untuk anda para bidan jangan pernah bicara tentang penyakit yang dialami anak langsung di hadapannya tanpa membantunya lebih baik. Karena hanya ada dua kemungkinan anak itu kuat dan melawan penyakitnya atau terganggu secara psikologis yang berakhir merusak kehidupannya.

 

Kenangan Membawa Bekal Puding dan Naik Vespa Tetangga

karakter zodiak
ilustrasi./copyright by bedya (Shutterstock)

Anak 90-an seperti aku belum mengenal dengan fast food seperti anak sekarang. Teman-temanku dulu ke sekolah membawa bekal nasi goreng kampung yang hanya pakai bawang goreng. Sederhana tapi lezatnya tidak ada yang menandingi katanya. Sayangnya, aku lebih suka nasi goreng memakai kecap. Aku memang besar dengan motto, “Apa pun makanannya, harus pakai kecap."

Berbeda dengan teman-temanku yang membawa nasi goreng. Aku memilih membawa puding coklat kesukaanku. HARUS. kalau tidak, aku takkan mau ke sekolah. Suatu hari, aku sudah siap dengan seragam sekolah tapi mama menyiapkan bekal kue bolu yang terpaksa harus ditukar dengan tetangga agar aku bawa puding. Mama, terima kasih sudah mencintaiku walau anakmu ini banyak mau.

Tahun 2002, kendaraan bermotor saat itu masih sangat jarang. Seringkali, aku dan mama jalan kaki ke sekolah, lebih tepatnya mama jalan kaki dan aku di gendong.

Syukurnya, setiap pulang jam 12 siang dengan terik matahari yang menembus ubun-ubun. Kami selalu diselamatkan oleh vespa tetangga. Mama dibonceng di belakang, aku dan anak tetangga berdiri di depan masing-masing kiri dan kanan. Dengan posisi seperti itu, kami lebarkan tangan dan kaki masing-masing keluar seperti lagi terbang sambil cekikikan.

Ah, indahnya masa kecil tanpa memikirkan cicilan.

#ElevateWomen

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela