Hari Paling Bahagia di Masa Kecilku adalah Menyambut Ibu Pulang

Endah Wijayanti03 Agu 2021, 14:15 WIB
Diperbarui 03 Agu 2021, 16:03 WIB
cinta ibu dan menjadi janda

Fimela.com, Jakarta Kenangan pada masa kecil takkan pernah terlupakan. Hari-hari dan waktu yang kita lewati saat masih anak-anak akan selalu membekas di hati. Masing-masing dari kita pun pasti punya kisah atau cerita paling membekas soal masa kecil itu, seperti pengalaman yang dituliskan Sahabat Fimela dalam Lomba My Childhood Story: Berbagi Cerita Masa Kecil yang Menyenangkan ini.

***

Oleh:  Asyifa HK

Saat Tuhan memberikan kesempatan untuk aku bisa kembali pada masa di mana segalanya memang terasa mudah dan indah. Bukan kembali untuk menetap, tapi kembali untuk sekadar melihat tentang apa yang terjadi kala itu. Saat Tuhan memberikan semua kesempatan itu, jiwaku sejujurnya merasa takut.

Takut akan kenyataan kembali, karena yang sebenarnya adalah semua itu telah berlalu. Telah pergi meninggalkan jejak indah, sangat indah. Ya, bagiku kenangan itu bukan hanya sekadar kenangan. Kenangan itu bukan saja hadir saat ketika hujan turun. Kenangan itu seperti mesin waktu yang terus berjalan tanpa henti.

Aku menganggap kenangan itu adalah skenario terbaik dari Tuhan. Dan sampai sekarang, dia selalu hadir tanpa hujan turun. Bahkan ketika pikiran kalut dengan segala kekeliruan yang terjadi saat ini. 

Menunggu ibu seharian penuh untuk bisa aku peluk. Aku seolah putri yang menunggu seseorang kala itu, bukan menunggu seorang pangeran. Tapi seseorang yang kuanggap sebagai malaikat. Aku berdandan secantik mungkin, seperti seorang putri hari itu. Agar saat ibu datang, aku yang paling terbaik.

Teman-temanku yang mengajak bermain hari itu aku abaikan. Mereka kadang marah, karena katanya aku sombong. Aku tidak peduli. Hari saat ibu pulang dari kota adalah hari besarku. Tidak ada yang bisa menggangguku. Tidak sama sekali. 

Ayah dan ibu cerai entah dari sejak kapan, yang pasti aku tidak pernah tahu keberadaan ayah sampai umur 8 tahun. Waktu ibu memutuskan pergi bekerja di luar kota, saat itu usiaku masih dua tahun. Begitu kecil dan ringkih, saat jiwa itu butuh sekali dekapan, ibu terpaksa harus pergi untuk sekadar menjadi tulang punggung bagi keluarga. Dan bersama nenek, hari-hariku menjadi berbeda dengan anak-anak lain yang biasanya mereka selalu dimandikan oleh ibunya mungkin. 

Kenangan itu seolah terputar tanpa henti, kala aku melihat gadis kecil dengan bandana yang duduk di depan rumah menunggu ibu pulang. Begitu cantik dengan gaun terbaiknya, dengan ekspresi wajah paling menggemaskan.

Ibu yang Pulang dari Kota

cinta ibu dan senyum bunga
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/tomwang

Si anak berbandana itu aku, aku yang sedang menunggu ibu pulang. Saat matahari sudah di atas kepala, biasanya ibu sampai di ujung jalan. Lalu lari memelukku. Dan aku menangis, melepas kerinduan yang tidak seorang pun bisa mengerti arti rinduku pada ibu. Ibu dan rindu seolah menyatu dalam kenangan termanis masa kecilku. 

Entah yang kuceritakan ini adalah cerita bahagia atau sedih. Hanya saja, bagiku ini adalah kenangan manis yang sangat manis. Manisnya rindu dan dekapan ibu saat pulang itu rasanya sangat membahagiakan, lebih bahagia dari setiap inci keindahan semesta.

Bau tubuh ibu adalah candu yang sampai saat ini sebenarnya sangat aku rindukan. Kata orang, kenangan manis akan selalu dirindukan sampai kapan pun. Dan memang kerinduan itu selalu hadir tatkala bau tubuh ibu menyapaku lewat mimpi malam. 

Mimpi adalah harapanku untuk memohon pada Tuhan agar sekiranya dia bisa membawaku pada masa itu kembali. Dalam mimpi, ingin sekali rasanya aku menyatu bersama kenangan itu. Rasanya masih sama, penuh rindu dan cinta. Karena memang kenangan paling indah adalah yang di dalamnya penuh kasih dan cinta.

#ElevateWomen

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela