Pengalaman-Pengalaman Kecil Itu Membentukku jadi Perempuan yang Pemberani

Endah Wijayanti04 Agu 2021, 07:45 WIB
Diperbarui 04 Agu 2021, 07:45 WIB
perempuan bahagia

Fimela.com, Jakarta Kenangan pada masa kecil takkan pernah terlupakan. Hari-hari dan waktu yang kita lewati saat masih anak-anak akan selalu membekas di hati. Masing-masing dari kita pun pasti punya kisah atau cerita paling membekas soal masa kecil itu, seperti pengalaman yang dituliskan Sahabat Fimela dalam Lomba My Childhood Story: Berbagi Cerita Masa Kecil yang Menyenangkan ini.

***

Oleh: M

Masa kecil merupakan masa saat kita bisa bersenang-senang tanpa memikirkan hal-hal yang rumit seperti sekarang ini. Di masa itu kita bebas ingin bermain dengan teman-teman kita tanpa mengkhawatirkan apapun. Kita juga banyak belajar melalui hal-hal kecil yang sering tidak disadari.

Di masa kecil pula yang membentuk pribadi kita akan menjadi seperti apa saat dewasa nantinya. Di sini aku ingin bercerita sedikit tentang masa kecilku, aku merupakan anak yang hampir menjadi anak terakhir di dalam keluargaku.

Aku dan adikku berbeda 7 tahun, dalam waktu 7 tahun banyak hal yang terjadi denganku. Saat itu aku merupakan anak yang mudah menangis, penakut, dan suka marah. Aku juga merupakan anak yang tidak sabaran menurutku semua hal harus cepat terlaksana ketika hal tersebut tidak sesuai keinginanku aku akan mudah cepat marah. Namun suatu ketika abangku mengajakku untuk pergi bermain-main dengan dia dan teman-temannya.

Saat itu kami berdua menaiki sepeda yang sama, aku dibonceng oleh abangku, kami pergi bersama-sama untuk memancing di pinggir sungai kecil yang tidak terlalu dalam. Di tengah-tengah terik matahari kami menunggu ikan yang akan memakan umpan kami. Kami menunggu lama sekali hingga rasanya kulitku hampir terbakar matahari.

Aku yang tidak sabaran pun akhirnya mulai mengeluh dan ingin menangis karena lelah. Namun, di situ abangku tetap tenang dalam menghadapiku. Abangku berkata bahwa memancing merupakan salah satu cara melatih kesabaran.

Awalnya aku tidak paham, namun setelah berpikir lama aku merasa abangku benar. Setelah menunggu hampir dua jam akhirnya kami mendapatkan ikan kecil, aku saat itu sangat senang sekali dan menyuruh abangku untuk cepat-cepat pulang. Di satu sisi karena ini sudah hampir sore dan di sisi lain aku ingin segera memakan hasil tangkapanku.

 

Belajar Menjadi Lebih Berani

perempuan bahagia dan soal pernikahan
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/lookstudio

Saat di perjalanan pulang, aku menyuruh abangku untuk mengayuh sepeda lebih cepat lagi agar sampai rumah, tetapi abangku berkata kami harus menunggu teman-temannya yang masih bersepeda di belakang. Abangku berkata bahwa pergi sama-sama, pulang juga harus sama-sama tidak boleh meninggalkan satu sama lain.

Abangku banyak mengajarkan hal-hal kecil kepadaku tapi mampu membuatku mengerti saat itu. Melalui hal-hal kecil abangku mengajarkanku untuk menjadi sesosok orang yang memiliki rasa toleransi. Sejak kecil juga aku telah diajari kakakku untuk menjadi seseorang yang kuat, tidak mudah menangis dan pemberani.

Saat aku dijahati oleh teman-teman terutama yang laki-laki. Aku dulunya hanya bisa menangis dan pulang ke rumah namun kakakku saat itu mengajariku untuk menjadi berani. Aku harus berani melawan orang yang menyakitiku walaupun dia laki-laki dan aku perempuan aku tidak boleh takut.

Sejak saat itu aku mulai mencoba berani melawan orang-orang yang mengusiliku, awalnya memang sulit apalagi mereka laki-laki namun aku terus berusaha melawan rasa takutku. Entah dorongan dari mana aku bisa mempunyai keberanian memukul anak tersebut.

Aku hanya teringat kata-kata mamaku bahwa aku tidak boleh memukul duluan bila tidak dipukul. Namun, saat itu anak tersebut sudah memukulku dan aku merasa tidak ada yang bisa menahanku untuk membalas perbuatannya agar anak tersebut jera dan tidak mengulanginya lagi.

Aku tidak ingin dipandang sebagai anak yang lemah apalagi aku perempuan. Melalui pengalaman-pengalaman di masa kecil ku, aku tumbuh menjadi sesosok wanita yang memiliki rasa toleransi dan pemberani. Melalui abang dan kakakku aku banyak belajar untuk menjadi perempuan yang lebih baik lagi. Dari abangku aku belajar untuk memiliki rasa toleransi, sedangkan dari kakakku aku belajar untuk menjadi anak yang pemberani walaupun aku perempuan tidak ada alasan untuk menjadi lemah.

#ElevateWomen

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela