Review Buku Novel Sang Pemimpi Karya Andrea Hirata

Imelda Rahma05 Agu 2021, 16:35 WIB
Diperbarui 05 Agu 2021, 16:35 WIB
Foto Poster Film Sang Pemimpi

Fimela.com, Jakarta Novel berjudul 'Sang Pemimpi' adalah karya tulisan dari penulis terkenal, Andrea Hirata dan novel ini pun sangat fenomenal karena jalan ceritanya yang sangat inspiratif. Diterbitkan pada tahun 2006, novel ini merupakan novel kedua dalam tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata yang diterbitkan oleh Bentang Pustaka. 

Berbeda dengan karya sebelumnya, dalam novel ini, Andrea mencoba untuk mengeksplorasi hubungan persahabatannya dengan dua anak yatim piatu, Arai Ichsanul Mahidin dan Jimbron, serta kekuatan mimpi yang dapat membawa Andrea dan Arai melanjutkan studi ke Sorbonne, Paris, Perancis.

Adapun latar tempat yang digunakan dalam novel ini adalah kehidupan anak-anak SMA di Belitong. Tiga tokoh utama dalam karya ini adalah Ikal, Arai dan Jimbron. Ketiganya melewati kisah persahabatan yang terjalin dari kecil hingga mereka bersekolah di SMA Negeri Bukan Main, SMA pertama yang berdiri di Belitung bagian timur.

Untuk lebih jelasnya, berikut Fimela.com akan membagikan review buku novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata. Dilansir dari beragam sumber, simak ulasan bukunya di bawah ini. 

Novel Sang Pemimpi

Membaca Novel
Ilustrasi Membaca Novel Credit: pexels.com/cottonbro

Judul: Sang Pemimpi

Penulis: Andrea Hirata

Penerbit: Bentang Pustaka

Tahun Terbit: Cetakan Pertama, Juli 2006

Tebal: 292 halaman

Dilansir dari goodreads.com, Sang Pemimpi adalah sebuah lantunan kisah kehidupan yang memesona dan akan membuat kamu percaya akan tenaga cinta, percaya pada kekuatan mimpi dan pengorbanan, lebih dari itu, akan membuat kamu percaya kepada Tuhan. Pada novel kali ini juga Andrea akan membawa kamu berkelana menerobos sudut-sudut pemikiran di mana kamu akan menemukan pandangan yang berbeda tentang nasib, tantangan intelektualitas, dan kegembiraan yang meluap-luap, sekaligus kesedihan yang mengharu biru.

Meskipun pada awalnya kesan yang diberikan pada novel ini adalah komikal, namun lambat laun kamu akan menyadari bahwa kisah dan karakter-karakter dalam buku ini menguasai emosiu saat membacanya. Karena potret-potret kecil yang menawan akan menghentakkanmu pada rasa humor yang halus namun memiliki efek filosofis yang meresonansi. Jelas saja, hal ini karena makna perjuangan hidup dalam kemiskinan yang membelit dan cita-cita yang gagah berani dalam kisah dua orang tokoh utama buku ini: Arai dan Ikal akan menuntun kamu dengan semacam keanggunan dan daya tarik agar kamu dapat melihat ke dalam diri sendiri dengan penuh pengharapan, agar kamu setidaknya memiliki kekuatan untuk menolak semua keputusasaan dan ketakberdayaan yang sebenarnya datang dari diri kamu sendiri.

“Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu.” ― Andrea Hirata, Sang Pemimpi

Novel ini secara sederhana mengisahkan tentang petualangan masa remaja Ikal dan dua orang sahabatnya, Arai juga Jimbron. Sebagai novel lanjutan dari kisah pendahulunya, yakni Laskar Pelangi, letak perebedaanya ada pada fokus ceritanya. Jika pada Laskar Pelangi, alur cerita lebih berat kepada penokohan anak-anak SD, maka dalam Sang Pemimpi kita akan bertemu Ikal remaja yang tengah bersekolah di SMA. Lantas, siapakah diantara para tokoh dalam novel ini yang sebenarnya dibicarakan sebagai sang pemimpi? Tidak , bukan hanya seorang pemimpi tetapi juga bagaimana mereka berjuang atas mimpi-mimpinya.

“Sejak itu, aku mengenal bagian paling menarik dari Arai, yaitu ia mampu melihat keindahan di balik sesuatu, keindahan yang hanya biasa orang temui di dalam mimpi-mimpi. Maka Arai adalah seorang pemimpi yang sesugguhnya, seorang pemimpi sejati.” (hal. 51-52)

Menariknya, novel ini tidaknya hanya menyuguhkan kisah tentang impian tetapi juga bercerita mengenai gejolak jiwa remaja yang dialami Ikal, Arai dan Jimbron. Tentu saja pada bagian ini, Andrea Hirata berusaha melukiskan pengalaman indah saat bertemu sang pujaan hati, berusaha mati-matian menarik perhatian gadis yang dicinta tertuang dan menyatu dengan baik di tiap paragraf. Transisi perkembangan jiwa dari usia anak menjadi remaja pun tergambar baik dari adegan-adegan pembangkangan remaja segala kebandelannya. 

“Itulah kekuatan cinta, itulah kekuatan jiwa seorang laki-laki bernama Arai, sungguh mengharukan. Dua bulan telah berlalu, Arai tak juga menunjukkan kemajuan.”

“Tinggal sebulan waktuku, Kal,” katanya padaku sambil memeluk gitarnya. “14 September ulang tahun Nurmala, aku sudah harus bisa membawakan lagu itu!” (hal. 202).

Berkat kualitasnya, novel ini berhasil menyandang penghargaan National Best Seller dan sudah naik cetak berulang kali dengan beberapa versi sampul berbeda hingga tahun 2012 dan di tahun 2009 Miles Film dan Mizan Production membuat versi layar lebarnya. Ceritanya pun diangkat ke layar lebar pada tahun 2009 dan disutradarai oleh Riri Riza. Demi menjaga keaslian tokoh utama dalam novel, casting pun dilakukan untuk menemukan pemuda Melayu asli Belitung yang sesuai dan mampu berakting sebagai Ikal, Arai dan Jimbron versi remaja. Sedangkan versi dewasa Ikal diperankan oleh Lukman Sardi dan Arai oleh Ariel ‘Noah’. Sang Pemimpi pun sukses menjadi film Indonesia terlaris kedua pada tahun 2009.

Namun, alur cerita yang dipersembahkan di film nampaknya sedikit berbeda dengan apa yang dipaparkan pada novel aslinya. Jika dalam film kita menemukan Ikal dewasa yang baru saja selesai kuliah menceritakan kembali masa lalu remajanya maka dalam novel sejak awal bab kita mendengarkan Ikal bercerita tentang dirinya dan orang-orang disekitarnya sejak sekolah SMA hingga merantau ke pulau seberang. Hal ini membuat perubahan pada penceritaan sudut pandang, sudut pandang ‘Aku’ yang kadang pun menjadi ‘Kami’ mampu diolah oleh penulis sedemikian indahnya sehingga para penikmatnya akan melihat keseluruhan cerita sebagai sudut pandang orang ketiga. Inilah kelebihan Hirata dalam karyanya, ia mampu menjadi yang ‘Aku’ yang serba tahu.

Sekali lagi, Andrea Hirata memang pintar memberikan pesan bagi pembaca melalui untaian kalimat yang memberikan semangat untuk bercita-cita setinggi angkasa, mengetuk pintu hati bahwa masih ada jalan di setiap kesulitan. Setiap potongan cerita mengandung nasihat dan pesan moral yang sangat baik.

 

 

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela