Bermain Bebas Sepulang Sekolah Menjadi Memori Berkesan yang Mendewasakanku

Endah Wijayanti09 Agu 2021, 07:45 WIB
Diperbarui 09 Agu 2021, 07:49 WIB
perempuan dan tabah

Fimela.com, Jakarta Kenangan pada masa kecil takkan pernah terlupakan. Hari-hari dan waktu yang kita lewati saat masih anak-anak akan selalu membekas di hati. Masing-masing dari kita pun pasti punya kisah atau cerita paling membekas soal masa kecil itu, seperti pengalaman yang dituliskan Sahabat Fimela dalam Lomba My Childhood Story: Berbagi Cerita Masa Kecil yang Menyenangkan ini.

***

Oleh: Nur Isna Aulya

Aku lahir di sebuah desa di Blitar. Persawahan dan pekarangan yang cukup luas masih mengelilingi tempat kelahiranku hingga saat ini, meskipun tak seluas dulu saat aku masih kecil. Luasnya alam sekitar rumah membuat masa kecilku penuh petualangan seru bersama teman-teman sebaya, sebab alam lah media bermain kami. Mengingat masa-masa itu membuat senyumku mengembang, mataku berbinar; bayangan beberapa bocah berlarian di sawah dan tepian sungai yang mengalir jernih melayang-layang di pikiranku. Ah, betapa rindunya aku pada desa kelahiran.

Selama mengenyam pendidikan sekolah dasar, selama itulah alam menjadi tempat bermainku bersama teman-teman di desa. Sepulang sekolah, setelah makan siang di rumah masing-masing, kami selalu berkumpul di tempat yang telah kami sepakati saat perjalanan pulang sekolah dengan berjalan kaki.

Masa-Masa Indah Kala Itu

childhood dan majalah
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/KiattisakLamchan

Terkadang kami berkumpul di pekarangan kakek yang terdapat banyak pohon kopi; terkadang kami berkumpul di kolam ikan milik tetangga untuk berenang bersama, terkadang juga kami berkumpul di sungai yang mengelilingi persawahan untuk mencari ikan-ikan kecil. Aku dan teman-teman memiliki banyak aktivitas bermain untuk menghabiskan waktu sepulang sekolah hingga sore tiba.

Saat berkumpul di kolam ikan milik tetangga, aku dan teman-teman berenang di dalamnya, meskipun puluhan ikan gurami sebesar buku LKS hidup di sana. Si pemilik kolam tak keberatan kami berenang di dalamnya, sebab kolam itu cukup luas dan aman bagi anak-anak untuk berenang.

Selepas berenang, kami biasanya menyusuri sungai untuk mencari ikan-ikan kecil. Dengan kaki telanjang kami berjalan di sepanjang sungai yang selalu dipakai para petani untuk mengairi sawah, bahkan tanpa rasa takut kami sering memasuki area pemakaman yang tepiannya juga menjadi aliran sungai.

Kami senang saat mendapat banyak ikan maupun udang, biasanya hasil tangkapan hari itu kami pelihara di rumah masing-masing, hasilnya kami bagi rata. Jika kami sedang malas mencari ikan, kami pergi ke pekarangan kakekku untuk mencabut satu pohon singkong lalu membakar umbinya bersama. Kakekku tak pernah melarang hal itu, sebab beliau paham bahwa anak kecil sedang dalam masa bereksplorasi, asalkan tidak berbahaya dan tidak merugikan tetangga.

Di hari lain, saat kami sepakat berkumpul di pekarangan kakekku yang ditumbuhi banyak pohon kopi, kami bermain rumah-rumahan. Aku dan teman-teman berbagi tugas untuk membawa bekal dalam permainan itu, ada yang membawa mie instan, korek api, minyak tanah, dan kaleng wafer yang akan kami gunakan sebagai panci untuk memasak.

Bermain dan Penuh Petualangan

childhood dan desa
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/Danai+J

Kami menggunakan batang-batang kayu untuk membangun tenda kecil, lalu menutupinya dengan daun pisang agar teduh layaknya atap rumah. Lalu, pohon-pohon kopi di sekitar tenda yang tidak terlalu tinggi selalu kami panjati untuk sekedar menikmati aroma bunga kopinya yang menenangkan hati.

Kami juga bermain jual-beli menggunakan daun-daun kopi sebagai uangnya dan beberapa barang yang kami temukan di pekarangan sebagai dagangannya, seperti; kelapa kering yang jatuh, biji kopi yang jatuh, atau gundukan tanah yang kami anggap sebagai nasi. Tenda-tenda yang telah kami bangun pun kami biarkan begitu saja untuk kami mainkan kembali di hari berikutnya.

Di hari lain lagi, aku dan teman-teman berkumpul di sebuah tanah kosong yang cukup luas di samping pekarangan kakek. Tanah itu dikelilingi oleh pohon mahoni dan pohon kelapa yang cukup tinggi hingga menjadikannya sejuk dan rindang.

Di tempat itu, aku dan teman-teman memainkan berbagai permainan tradisional yang saat ini sangat jarang dimainkan oleh anak-anak digital, yakni; kelereng, jingkrak, betengan (benteng-bentengan), gobak sodor, enthik, dan lain-lain. Riuh riang suara kami selalu meramaikan tanah kosong itu hampir setiap hari. Bahkan terkadang ada tangisan kencang salah satu dari kami karena kalah bermain atau terluka.

Begitulah cerita masa kecilku, berbaur dengan alam, dan tak pernah berhenti berpetualang bersama teman-teman setiap hari. Jika cuaca sedang hujan, biasanya aku dan teman-teman menikmati setiap rintikannya bersama di tepi jalan desa yang selalu sepi saat hujan, atau sekedar bermain bola bekel di dalam rumah.

Tak jarang salah satu dari orang tua kami menjemput di tempat bermain sembari membawa sepotong kayu, karena hari sudah hampir gelap, sementara kami masih asik bermain. Masa kecilku yang penuh petualangan selalu menjadi pengingat saat aku lengah dalam menjalani hidup.

Sebab tanpa kusadari, masa kecil memberiku banyak pelajaran berarti; tentang  arti bahagia dengan hal sederhana, tentang keberanian tanpa beban, tentang kepercayaan diri, tentang indahnya berbagi, dan tentang kebersamaan yang akan selalu melekat di hati. Kelak kenangan masa kecil indah itu akan kuceritakan pada anak-anakku, agar mereka bisa memetik hikmah dalam setiap cerita. 

#ElevateWomen

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by
What's On Fimela