Aku, Papa, dan Kenangan Layang-Layang Buatan Sendiri Sore Itu

Endah Wijayanti10 Agu 2021, 10:45 WIB
Diperbarui 10 Agu 2021, 10:45 WIB
my childhood dan bermain layang-layang

Fimela.com, Jakarta Kenangan pada masa kecil takkan pernah terlupakan. Hari-hari dan waktu yang kita lewati saat masih anak-anak akan selalu membekas di hati. Masing-masing dari kita pun pasti punya kisah atau cerita paling membekas soal masa kecil itu, seperti pengalaman yang dituliskan Sahabat Fimela dalam Lomba My Childhood Story: Berbagi Cerita Masa Kecil yang Menyenangkan ini.

***

Oleh: Ranti Uli

Sebelum aku mulai bercerita, perlu diingat kontes masa kecilku terjadi pada 1990-an. Saat itu, belum ada internet. Akses informasi belum seterbuka dan sebebas saat ini. Teknologi pun belum secanggih sekarang. Yang paling penting, saat itu papaku masih hidup sebelum sakit diabetes merenggutnya delapan tahun yang lalu.

Aku berlari kencang dan langsung masuk ke kamarku. Usiaku sembilan tahun dan aku duduk di kelas 4 SD. Tangisku pecah ketika aku sudah masuk ke dalam kamar. Mama dan papa yang saat itu sedang mengobrol santai di rumah kebingungan melihat tingkahku.

Papa lalu mengetuk dan membuka pintu kamarku untuk mendapati anak bungsunya menangis tersedu-sedu di atas kasur. Papa pun bertanya apa yang membuatku menangis dengan raut cemas. Pasalnya, sejam yang lalu aku pamit untuk bermain dengan anak-anak di komplek perumahan kami. Papa khawatir ada yang mengganggu atau justru mencelakaiku.

Awalnya aku ragu menjawab pertanyaan papa. Selama lima menit, aku hanya bisa menunjukkan bibir manyun sambil mencoba menahan air mata jatuh di pipi. Tapi akhirnya kujawab juga pertanyaan papa. “Mereka nggak mau main sama aku, Pa. Aku satu-satunya anak perempuan di sini. Mereka bermain layangan dan melarang aku ikut main karena aku anak perempuan,” kataku buru-buru sebelum tangisku kembali pecah.

Papa memelukku. Kudapati raut leganya. Mungkin dia lega karena apa yang kualami tidak seburuk apa yang dipikirkannya. Papa hanya berkata, “Oh, begitu!” Tak lama papa ke luar kamar dan meninggalkan aku yang sudah setengah tenang.

Lantaran sudah sore, aku pun mandi dan mencoba melupakan kejadian menyebalkan itu. Aku benci karena harus diasingkan karena gender-ku. Lagipula, tidak ada peraturan bahwa anak perempuan tidak boleh main layangan, kan? Kenapa teman-temanku yang semuanya anak laki-laki bersikap menyebalkan dan diskriminatif seperti itu.

 

Kenangan yang Takkan Pernah Aku Lupakan

childhood dan layang-layang
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/supawadee++kunthonsurapol

Setelah badan segar, aku menyalakan TV dan berusaha lebih keras mengalihkan perhatian dari kejadian menyebalkan itu. Kemudian papa menghampiriku. Di tangannya, papa memegang sebatang bambu panjang berdiameter kecil, benang, dan selembar kertas minyak. Dengan semangat, papa berkata, “Ayo kita bikin layangan!”

Aku terheran-heran. “Bagaimana caranya membuat layangan?” tanyaku pada papa. “Kan ada lagunya,” ujar papa dengan senyum usil. Aku pun mengingat-ingat lirik lagu yang dimaksud papa.

Kuambil buluh sebatang. Kupotong sama panjang.

Kuraut dan kutimbang dengan benang. Kujadikan layang-layang.

Bermain, berlari

Bermain layang-layang

Berlari kubawa ke tanah lapang

Hati gembira dan riang

Dari lirik lagu tersebut, kami berdua pun membuat layang-layang sederhana. Itulah bedanya zaman dulu. Tidak ada Google atau video YouTube yang bisa diandalkan ketika kamu ingin tahu sesuatu.

Kami butuh hanya sekitar setengah jam sampai layangan kami jadi dan siap diterbangkan. Kami pun ke luar rumah dan menerbangkan layangan itu hingga matahari terbenam.

Perasaanku bercampur aduk ketika mengingat sore dan kenangan akan layangan itu. Aku senang karena punya papa yang peduli dan perhatian ketika aku sedih. Aku bangga karena bisa membuat sesuatu yang tadinya aku pikir hanya bisa dibeli. Sore itu, rasa sayang dan bangga akan papa bertumbuh berkali-kali lipat.

Kini, setelah papa tiada, ingatanku sering berkelana ke sore hari itu. Terima kasih papa, karena sore itu papa mengajarkanku bahwa tidak ada yang tidak boleh kulakukan hanya karena aku perempuan. Siapa sangka, aku juga bisa belajar menjadi perempuan yang tangguh dan mandiri berkat papaku yang seorang laki-laki. Kenangan akan layangan di sore itu tidak akan kulupakan dan menjadi momen berharga bagiku, Pa.

#ElevateWomen

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by
What's On Fimela