3 Kegagalan yang Menyakitkan di Masa Kecil tapi Tak Kusesali

Endah Wijayanti12 Agu 2021, 10:16 WIB
Diperbarui 12 Agu 2021, 10:16 WIB
perempuan dan pertanyaan pernikahan

Fimela.com, Jakarta Kenangan pada masa kecil takkan pernah terlupakan. Hari-hari dan waktu yang kita lewati saat masih anak-anak akan selalu membekas di hati. Masing-masing dari kita pun pasti punya kisah atau cerita paling membekas soal masa kecil itu, seperti pengalaman yang dituliskan Sahabat Fimela dalam Lomba My Childhood Story: Berbagi Cerita Masa Kecil yang Menyenangkan ini.

***

Oleh: Paramytha Magdalena Sukarno Putri

 “I have not failed. I’ve just found 10,000 ways that won’t work.” – Thomas A. Edison

Kisah masa kecilku mungkin tak sehebat Thomas Alva Edison. Namun sepenggal cerita saat Thomas kecil sulit beradaptasi dengan situasi belajar di sekolah menjadi bagian yang erat denganku.

Aku lahir sebagai anak pertama dari tiga bersaudara dan dari kedua orang tua yang berprofesi sebagai pendidik. Mungkin bagi sebagian orang kondisiku ini dipandang mujur, tetapi di sisi lain aku merasa diharapkan agar bisa diandalkan dan pintar sehingga menjadi panutan.

Sayangnya, harapan itu tidak terwujud aku malah mengalami hal yang sebaliknya. Bila menengok ke belakang sekitar 24 tahun yang lalu, aku adalah salah satu siswi di Sekolah Dasar Katholik. Sekolah swasta ini cukup terkenal dengan kedisiplinannya yang sangat ketat, saking ketatnya aku pun sulit beradaptasi dengan aturan yang ada. Tidak boleh mengerjakan PR di sekolah adalah salah satu contohnya. Jika ketahuan oleh salah satu guru atau suster, habis sudah. Hukuman harus rela diterima dengan lapang dada. Ya, sesungguhnya konsekuensi ini mereka berikan untuk kebaikan kami di masa depan.

Ada tiga kegagalan di masa kecil yang tak akan aku sesali. Sesungguhnya banyak kegagalan demi kegagalan yang terjadi. Namun, tiga kegagalan ini yang menjadi pondasiku untuk berdiri sebagaimana aku ada saat ini.

Aku gagal mendapatkan nilai baik.

Perjalanan studiku di bidang akademik khususnya Matematika selama berada di SD (Sekolah Dasar) sungguh parah dan memalukan. Bahkan saat aku harus melewati ujian kelulusan, nilai UN (Ujian Nasional) Matematika adalah yang paling rendah.

Hal ini berbanding terbalik dengan mata pelajaran lainnya seperti Kesenian dan Olahraga karena aku selalu mendapatkan nilai bagus. Betapa memalukan bukan, seorang anak guru akan tetapi memiliki prestasi akademik standar atau malah di bawah rata-rata.

Alhasil, aku cukup tertekan dan sering merasa sangat bodoh dengan kondisi ini. Melihat kemampuanku bukan di bidang akademik, lantas membuat orang tuaku mengarahkan ke bidang Olahraga dan Seni. Akhirnya, aku menekuni renang, menyanyi, puisi hingga pencak silat. Awalnya hanya hobi hingga akhirnya menjadi salah satu peserta mewakili sekolah hingga kabupaten dan menjadi juara nasional.

Aku gagal memakai kebaya.

ilustrasi bangga jadi putri daerah
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/ipunk%2Bkristianto

Seorang perempuan mungkin sudah sepatutnya tampil feminim, tapi tidak denganku. Teringat salah satu peristiwa di masa SD saat seluruh murid diwajibkan untuk berpakaian adat tradisional dalam rangka menyambut Hari Kartini.

Teman-temanku perempuan sudah sangat riuh membicarakan ingin berpakaian kebaya dan sanggulnya. Jauh di dalam hatiku sejujurnya aku juga ingin mengenakan pakaian kebaya dan sanggulnya yang anggun seperti teman perempuan lainnya. Tapi apa daya saat aku mencari ke sana kemari dengan ibu di persewaan baju adat, aku malah menggunakan baju Bodo karena hanya ini yang tersisa.

Aku ingat sekali rok yang kugunakan sebesar kurungan ayam, bahkan aku sempat mengajak lomba lari teman laki-lakiku. Setelah berjalannya waktu aku menyadari bahwa menjadi diri sendiri ternyata adalah kebanggaan tersendiri. Anggun, feminim dan kalem mungkin erat dengan karakter perempuan. Namun, bagiku menjadi diri sendiri adalah harta yang patut disyukuri.

Aku gagal menjadi juara.

Saat kelas 5 aku diberi kesempatan menjadi perwakilan sekolah dan kabupaten untuk mengikuti ajang bergengsi lomba menyanyi tingkat provinsi. Waktu itu aku membawakan lagu “Andai Aku Telah Dewasa”, yang dipopulerkan oleh Sherina Munaf. Wah, lagu ini mempunyai tingkat kesulitan yang sangat tinggi karena terdapat nada-nada yang sulit ditaklukkan.

Alhasil, setiap hari aku berlatih bernyanyi hingga tak jarang merasa stres juga. Sayangnya, semua jerih payah latihan selama ini ternyata belum membuahkan hasil. Aku tidak juara. Tentu sedih dan kecewa, akan tetapi dari pengalaman ini malah membuat semangatku tidak padam untuk mengikuti lomba-lomba lainnya dengan lebih gigih.

Dari berbagai kegagalan yang kualami, bohong rasanya jika tidak ada tetesan air mata, kesedihan hingga rasa kecewa. Dalam perjalanan masa kecilku mungkin aku memang tidak pandai dalam bidang akademik, namun lebih unggul dalam bidang lainnya.

Ini menandakan bahwa setiap orang tidak harus memiliki keunggulan yang sama, karena kita diciptakan berbeda dan memiliki keunikan. Aku meyakini bahwa Sang Maha memiliki tujuan yang baik saat menciptakan dan membuat kita hadir di dunia ini. Tentu bukan sebuah kebetulan. Namun, demi sebuah kebaikan.

#ElevateWomen

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela