Menjadi Anak Perempuan Tunggal, Ada Hal Penting yang Kusadari ketika Dewasa

Endah Wijayanti13 Agu 2021, 13:45 WIB
Diperbarui 13 Agu 2021, 13:45 WIB
cinta ibu dan pengorbanan itu

Fimela.com, Jakarta Kenangan pada masa kecil takkan pernah terlupakan. Hari-hari dan waktu yang kita lewati saat masih anak-anak akan selalu membekas di hati. Masing-masing dari kita pun pasti punya kisah atau cerita paling membekas soal masa kecil itu, seperti pengalaman yang dituliskan Sahabat Fimela dalam Lomba My Childhood Story: Berbagi Cerita Masa Kecil yang Menyenangkan ini.

***

Oleh: Ratih Tiyas

Banyak orang bilang menjadi anak tunggal itu menyenangkan. Tidak harus rebutan sesuatu atau bertengkar dengan kakak/adik. Jangan lupa, perhatian kedua orang tua yang sepenuhnya tertuju pada satu anak saja.

Tetapi, justru perhatian itulah yang menjadikan saya benar-benar banyak bertingkah semasa kecil dulu. Jengah karena almarhumah ibu yang terlalu protektif, membuat saya jadi sering memberontak.  Semakin dilarang, semakin tinggi rasa penasaran yang saya miliki, dan semakin banyak yang ingin saya lakukan ketika berada di luar rumah.

Bolos mengaji, berbohong demi bisa hujan-hujanan sambil mencari ikan di parit, dan masih banyak lagi. Tentu saja, setelah pulang ke rumah saya harus siap menerima hukuman. Karena entah bagaimana, ibu saya selalu mengetahui apa saja yang saya lakukan selama tidak ada di rumah. Apakah beliau punya mata-mata gaib? Siapa yang tahu.

 

Ada Kesabaran Luar Biasa yang Dimiliki Ibu

cinta ibu dan pengorbanan besarnya
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/tongpatong

Jadi kalau ada yang bilang terlahir sebagai anak tunggal itu menyenangkan, saya akan maju paling depan untuk mendebat. Karena tidak, menjadi anak satu-satunya di rumah sangatlah tidak menyenangkan. Akan lebih seru kalau bisa berbagi pendidikan ala militer bersama kakak atau adik, bukan? 

Ah ya, ada satu kejadian saat saya kabur dari rumah. Tepatnya karena apa, saya tidak ingat. Tetapi di hari itu saya benar-benar merasa marah dan benci sekali berada di rumah.

Setiap hari dari pagi hingga sore hari, ibu saya akan berada di toko. Beliau mengelola toko yang menjual perlengkapan rumah tangga milik kakak tertuanya. Jadi pada saat ibu saya masih berada di toko, sepulang dari sekolah saya langsung mengemasi beberapa pakaian juga tabloid-tabloid kesayangan saya. Masih tersimpan jelas di ingatan saya bahwa saya menuliskan sebuah pesan singkat sebelum pergi dari rumah. Isinya seperti ini, "Mah, aku pergi ya. Jangan cari aku, tempatnya jauh. Naik angkot dua kali."

Ya Tuhan, kenapa isi pesannya begitu konyol? Kalau diingat-ingat, kejadian itu memalukan sekali. Bahkan ketika kembali ke rumah, ibu saya tidak marah. Beliau hanya mengolok-olok isi pesan yang saya tinggalkan itu.

Saya sekarang jadi menyadari, betapa sabarnya beliau menghadapi kenakalan-kenakalan yang saya lakukan dulu. Ya, ibu saya memang sering memarahi saya, tapi di balik semua itu, sabarnya sangat luar biasa. Saya harap, saya bisa memiliki kesabaran seperti beliau kelak.

#ElevateWomen

Lanjutkan Membaca ↓
What's On Fimela